Mengenai Saya

Foto Saya
TANJUNG, BANJARMASIN, Indonesia

Jumat, 09 Januari 2009

inFORMasi

BAB I
HAKEKAT PERKEMBANGAN

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pendidikan sebagai usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Pengajaran sebagai aktivitas operasional kependidikan dilaksanakan oleh para tenaga pendidik yang tugas utamanya adalah mengajar. Untuk melaksanakan profesinya, tenaga pendidik khususnya guru sangat memerlukan aneka ragam pengetahuan dan keterampilan keguruan yang memadai dalam arti yang sesuai dengan tuntutan zaman dan kemajuan sains dan teknologi. Di antara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan juga calon guru adalah pengetahuan psikologi. Pengetahuan psikologi akan membantu tenaga pendidik untuk mengetahui tingkat kematangan dan pertumbuhan peserta didik.
Kematangan atau pertumbuhan sejak pembuahan adalah merupakan gejala alamiah. Arah terjadinya pertumbuhan itu sebagai suatu hasil dari faktor-faktor luar individu yang matang atau tumbuh itu bisa ditunjuk sebagai perkembangan. Kematangan sebagai suatu proses alamiah dan perkembangan sebagai hasil dari pengaruh kondisi-kondisi lingkungan terhadap anak selagi ia tumbuh merupakan dua faktor yang menjadi dasar bagi proses belajar mengajar.
Pengetahuan tentang proses ini menjadi dasar bagi penyusunan kurikulum dan perencanaan teknik-teknik mengajar bagi semua pelajar pada berbagai macam tingkat perkembangan individunya. Perkembangan fisik, mental, emosi dan sosial akan membentuk dasar bagi dibangunnya sifat-sifat tingkah laku yang khas, selagi anak yang sedang tumbuh itu dibimbing melalui proses belajarnya, sehingga nantinya akan menimbulkan berbagai macam tingkah laku yang sama dan berbeda dengan orang lain.
2. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan penulisan dan pemahaman makalah ini, maka kami susun beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Apa definisi perkembangan?
2. Bagaimana pola perkembangan?
3. Apa faktor yang mempengaruhi perkembangan?
4. Bagaimana hukum-hukum perkembangan?
5. Bagaimana sifat pertumbuhan manusia?

3. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mendeskripsikan definisi perkembangan
2. Mendeskripsikan pola perkembangan
3. Mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi perkembangan
4. Mendeskripsikan hukum-hukum perkembangan
5. Mendeskripsikan sifat pertumbuhan manusia


B. PEMBAHASAN
1. Definisi Perkembangan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), perkembangan adalah perihal berkembang. Selanjutnya, kata berkembang berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas dan banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan dan sebagainya.
Dalam Dictionary of Psychology (1972), dijelaskan bahwa pada prinsipnya arti perkembangan adalah tahapan-tahapan perubahan yang progresif yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lainnya, tanpa membedakan aspek-aspek yang terdapat dalam diri organisme-organisme tersebut. Selanjutnya definisi tersebut dirinci sebagai berikut:
Perkembangan itu merupakan perubahan yang progresif dan terus-menerus dalam diri organisme sejak lahir hingga mati. Perkembangan itu berarti pertumbuhan.
Perkembangan berarti perubahan dalam bentuk dan penyatuan bagian-bagian yang bersifat jasmaniah ke dalam bagian-bagian yang fungsional. Perkembangan itu adalah kematangan atau kemunculan pola-pola dasar tingkah laku yang bukan hasil belajar.
Sementara itu, Chalpin (2002) mengartikan perkembangan sebagai: (1) perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir hingga mati, (2) pertumbuhan, (3) perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke bagian-bagian fungsional, (4) kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari.
Menurut Reni Akbar Hawadi (2001), perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru.
Menurut F. J. Monks, dkk., (2001), pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulangi kembali. Perkembangan juga diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan dan belajar.
Selanjutnya, untuk memahami konsep perkembangan, perlu terlebih dahulu memahami beberapa konsep lain yang terkandung di dalamnya, di antaranya: pertumbuhan, kematangan dan perubahan.
Pertumbuhan berarti perubahan kuantitatif yang mengacu pada jumlah, besar dan luas yang bersifat konkret. Sedangkan perkembangan lebih bersifat kualitatif. Menurut Ahmad Thonthowi (1993) pertumbuhan adalah perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran sebagai akibat dari perbanyakan sel-sel. Pertumbuhan fisik bersifat meningkat, menetap dan kemudian mengalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia.
Terkait dengan istilah kematangan, Chaplin (2002) mengartikan kematangan sebagai proses mencapai kemasakan/ usia masak, proses perkembangan, yang dianggap berasal dari keturunan atau tingkah laku khusus spesies. Sementara itu, Davidoff (1988) mengartikan kematangan sebagai munculnya pola perilaku tertentu yang tergantung pada pertumbuhan jasmani dan kesiapan susunan syaraf. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis yang meliputi keadaan berpikir, rasa, kemauan dan lain-lain.
Perkembangan mengandung perubahan, tetapi bukan berarti setiap perubahan bermakna perkembangan. Perubahan-perubahan dalam perkembangan bertujuan memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

2. Pola Perkembangan
Seorang anak bisa memulai pendidikan formalnya pada tingkat Taman Kanak-kanak pada umur dua atau tiga tahun. Permulaan pendidikan yang diterimanya di sekolah boleh jadi mundur sampai dia berusia enam atau tujuh tahun. Bagaimana umurnya, namun sifat-sifat khas dan kebiasaan pribadi yang akan dibawanya ke kelas itu mungkin akan mempunyai pengaruh yan signifikan terhadp taraf keberhasilannya yang hendak dicapai selama masa sekolahnya.
Nature dan nurture (dasar dan ajar) merupakan istilah-istilah yang sudah lazim digunakan untuk menjelaskan sifat-sifat khas fisik, mental dan emosi individu pada setiap tingkat perkembangannya. Sejauh mana seseorang dilahirkan sebagai makhluk individu sehinggga dia atau taraf yang dia sendiri dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh lingkungan yang ada dan yang masih tetap ada itu merupakan subyek dari banyak study dan diskusi. Seseorang baik “dilahirkan” maupun “diciptakan” bukan sebagai bagiamana dia. Cukuplah dia merupakan produk dari integritas warisan biologi dan warisan sosial.
Sudah lama kita akui bahwa warisan dan lingkungan itu merupakan dua faktor yang terpisah, masing-masing mempengaruhi dengan caranya sendiri kepribadian individu dan kekuatan untuk mencapainya.kian lama kitapun semakin sadar bahwa apa yang orang pikirkan, lakukan atau rasakan sebagai anak, remaja ataupun orang dewasa diakibatkan oleh antar hubungan yang ada antara faktor-faktor yang diwariskan secara biologis dan pengaruh-pengaruh lingkungannya.
Bayi yang baru lahir adalah hasil atau produk dari dua keluarga. Dari sejak saat pembuahan dan seterusnya, kehidupan baru itu akan terus berlangsung karena pengaruh dari banyak stimulus dan lingkungan yang berbeda-beda. Setiap stimulus atau rangsangan-rangsangan ini secara terpisah dan bebarengan dengan stimulus yang lain, akan membantu dalam membentuk potensi-potensi perkembangan dan tingkah laku manusia yang diwariskan dari nenek moyangnya. Dengan demikian terbentuklah pola sifat-sifat tingkah laku yang khas yang akhirnya yang bersangkutan dikenal sebagai seorang individu yang mirip dan juga tidak mirip dengan semua individu yang lain. Adanya saling ketergantungan hereditas dan pengaruh lingkungan itu digambarkan oleh Jonnings dengan keterangannya sebagai berikut:
Bahwa yang langsung diwariskan, yaitu sifatnya, bahwa yang diwariskan pada jasmaniahnya dari kedua orang tuanya kepada turunannya-adalah sepasang gen-gen, dengan cytoplasm yang menyertainya:-zat-zat tertentu dengan kombinasi tertentu yang dalam kondisi-kondisi tertentu, akan melahirkan individu itu, yang kemudian memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Dengan sepasang gen-gen yang sama maka kondisi-kondisi lingkungan yang berbeda bisa menimbulkan hasil karakteristik-karakteristik bermacam-macam. Kemudian tidak ada perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam jenis antara perbedaan-perbedaan yang dapat dihasilkan oleh perbedaan-perbedaan gen dan yang dapat dihasilkan oleh perbedaan-perbedaan lingkungan. Sehingga karakteristik-karakteristiknya tidaklah menjadi dua golongan yang saling terpisah,dalam arti, yang satu warisan, dan yang lainnya lingkungan.
Munculnya individu. Seorang bayi mewarisi struktur biologis. Sejak permulaan adanya maka organisme yang kompleks itu mengandung mengandungbanyak gene atau hal-hal ynag menentukan karakteristik pribadinya terpisah. Kalau ini berinteraksi dengan yang lain, dengan cytoplasm dan dengan kekuatan lingkungannya aka timbullah pertumbuhan dan perkembangan. Dan secara berangsur-angsur muncullah seseorang yang mempunyai karakteristik-karakteristik yang berbeda. Jadi orang inilah yang pada tingkat yang relatif cepat dalam perkembangannya, menjadi murid di kelas. Gurunya tidak dapat merubah dasar keturunan (hereditas) dari anak tersebut. Cara yang terbaiksehingga dia dapat membantu anak-anak tersebut ialah memahami sesuatu yang menjadi dasar anak tersebut.
Atas dasar pengertian ini nantinya dapat dibangun atau diciptakan suatu lingkungan bagi anak tersebut yang akan mendorong perkembangan tiap potensi yang dimilikinya, dan akan menimbulkan tiap perubahan yang diinginkan menurut kebiasaan dan sikapnya. Jadi anak itu dibantu oleh guru dalam menggunakan kapasitas alamiahnya dalam prestasi pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan. Beberapa potensi perkembangan. Memang anak tidak dilahirkan sepenuhnya diperlengkapi oleh alam dengan pola-pola berjalan, berbicara, merasa, berfikir atau mengalami. Bentuk-bentuk kegiatan manusia ini harus dipelajari. Barang kali tidaklah ada minat yang bersifat “alami”, akan tetapi dorongan-dorongan potensial tertentu akan membentuk dasar minat apapun yang dikembangkan oleh anak itu dalam lingkungan dia tumbuh. Orang-orang Amerika bukanlah sebagai penggemar-penggemar baseball yang “alami”. Masa yang panjang terbukalah bagi suatu sport sehingga banyak generasi mendatang – karena adanya suatu bentuk permainan yang diorganisir itu yang umumnya telah diterima di kalangan pemuda dan orang tua, di kalangan pria dan wanita, maka akhirnya baseball dianggap sebagai sport orang Amerika yang terkenal. Akan tetapi, dorongan dasar terhadap sport yang menyenangkan ini mungkin bisa menyebabkan sepak bola misalnya, menjadi sport nasional bagi negara lain.
Jadi anak itu tidak memasuki alam dunia ini seraya mengetahui apa yang dimaksud dengan istilah-istilah seperti tingkah laku yang bisa diterima oleh masyarakat dan kerja sama dengan kawan-kawan sendiri. Sayangnya, terlampau banyak individu yang agaknya tidak ingin ataupun tak sanggup mengembangkan sikap-sikap tersebut kepada masyarakat sehingga nampaknya menjadi keuntungan yang terbesar bagi dirinya dan bagi masyarakat, yang dia sendiri menjadi anggotanya. Padahal pendidikan hanya akan efektif jika dan bilamana si terdidik (educant), pada tiap tingkat belajarnya, dibimbing ke arah tercapainya perkembangan kapasitas alamiahnya yang mungkin sangat diinginkan.

3. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif.Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi fungsional. Dari uraian ini, perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif dan fungsi-fungsi.
Perubahan suatu fungsi adalah disebabkan oleh adanya proses pertumbuhan material yang memungkinkan adanya fungsi itu, dan disamping itu disebabkan oleh karena perubahan tingkah laku hasil belajar. Dengan demikian kita boleh merumuskan pengertian perkembangan pribadi sebagai perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian akibat dari pertumbuhan dan belajar.
Dalam mempelajari perkembangan manusia diperlukan adanya perhatian khusus mengenai proses pematangan, khususnya pematangan fungsi kognitif, proses belajar dan pembawaan atau bakat. Ketiga hal tersebut berkaitan erat satu sama lain dan saling berpengaruh dalam perkembangan kehidupan manusia.
Dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan adalah: pembawaan, lingkungan, kemauan bebas (ego) dan takdir (nasib). Kerja sama empat faktor ini menentukan kedudukan kepribadian seseorang. Riwayat hidup seseorang menunjukkan peranan dari masing-masing faktor itu dalam hidupnya.
Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa, para ahli bebeda pendapat karena perbedaan sudut pandang dan pendekatan mereka. Adapun aliran-aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perrkembangan siswa adalah:
1. Aliran Nativisme. Tokoh utama aliran ini adalah Arthur Schopenhauer (1788-1860). Menurut aliran ini, perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa.
2. Aliran Empirisme. Tokoh utama aliran ini adalah John Locke (1632-1704). Dengan konsep “tabula rasa”, menurut aliran ini perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak mempunyai pengaruh apapun.
3. Aliran Konvergensi. Tokoh utamanya adalah Louis William Stern (1871-1938). Menurut aliran ini, faktor pembawaan maupun faktor lingkungan memiliki andil yang sama besar dalam perkembangan manusia.
Dari uraian di atas diketahui bahwa faktor pembawaan dan lingkungan memiliki andil yang sama dalam perkembangan. Akan tetapi, hasil proses perkembangan seseorang tak dapat dijelaskan hanya dengan menyebut pembawaan dan lingkungan. Artinya, keberhasilan seseorang bukan karena pembawaan dan lingkungan saja, karena seseorang tidak hanya dikembangkan oleh pembawaan dan lingkungannya saja tetapi juga oleh dirinya sendiri. Setiap orang memiliki potensi self direction dan self dicpline yang memungkinkan dirinya bebas memilih antara mengikuti atau menolak sesuatu (aturan atau stimulus) lingkungan yang hendak mengembangkan dirinya.
Mengacu pada penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya mutu hasil perkembangan seseorang pada dasarnya terdiri dari dua macam, yaitu:
1. Faktor intern, yaitu faktor yang ada dalam diri seseorang yang meliputi pembawaan, potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya.
2. Faktor ekstern, yaitu hal-hal yang datang atau ada di luar diri seseorang yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi orang tersebut dengan lingkungannya.

3. Hukum-hukum Perkembangan
Perkembangan manusia tidak terjadi begitu saja, akan tetapi terjadi dengan hukum-hukum tertentu. Adapun hukum-hukum dalam perkembangan antara lain:
1. Perkembangan adalah kualitatif. Perkembangan tidak mengenai materi melainkan fungsi dan perubahan fungsi bersifat kualitatif.
2. Perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses dan hasil belajar. Dengan belajar, seseorang akan memperoleh pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Tingkat-tingkat kedewasaan seseorang merupakan indicator perkembangan orang itu.
3. Usia ikut mempengaruhi perkembangan. Bertambahnya usia, membuat seseorang tumbuh menuju kematangan-kematangan tertentu pada fungsi-fungsi jasmaniahnya. Kematangan fungsi jasmaniah dapat mempercepat proses perkembangan.
4. Masing-masing individu mempunyai tempo perkembangan yang berbeda-beda. Tempo perkembangan pada setiap individu cenderung menunjukkan kelangsungan perkembangan secara tetap dari bayi sampai dewasa, demikian pula pada orang lain.
5. Dalam keseluruhan periode perkembangan, setiap spesies perkembangan individu mengikuti pola umum yang sama. Setiap individu berkembang dengan mengikuti pola umum yang sama, karena masing-masing individu memiliki materiil serta fungsi-fungsi yang sama untuk bertumbuh. Secara umum, masing-masing anak yang sebaya mempunyai minat dan kebutuhan yang bersamaan.
6. Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan. Hereditas menumbuhkan fungsi-fungsi dan kapasitas, sedangkan pendidikan dan lingkungan mengembangkan fungsi-fungsi dan kapasitas itu.
7. Perkembangan yang lambat dapat dipercepat. Perkembangan seseorang dikatan terlambat apabila pribadinya tidak berkembang sesuai dengan pola perkembangannya sendiri yang normal.
8. Perkembangan meliputi proses individuasi dan integrasi. Perkembangan pribadi seseorang terjadi dari sederhana menuju kompleks. Kecakapan-kecakapan yang bersifat kompleks berkembang melalui koordinasi dan integrasi dari fungsi-fungsi yang sederhana dan kecil-kecil.

4. Sifat pertumbuhan Manusia
Adapun aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan pada manusia
1. Pertumbuhan fisik
Pertumbuhan manusia merupakan perubahan fisik menjadi lebih besar dan panjang, dan prosesnya terjadi sejak anak sebelum lahir hingga ia dewasa,
a) Pertumbuhan sebelum lahir
Masa sebelum lahir merupakan pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena pada masa itu merupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh dan tersususnnya jaringan saraf yang membentuk sistem yang lengakap,pertumbuhan dan perkembangan janin diakhir saat kelahiran.
b) Pertumbuhan setelah lahir
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan pertumbuhannya sebelum lahir. Proses pertumbuhan dan perkembangan itu akan berlangsung terus-menerus dan kurang lebih berjalan secara teratur sejak masa bayi sampai dengan masa dewasa.
2. Pertumbuhan non fisik (Intelek)
Intelek atau daya pikir berkembang sejalan dengan pertumbuhan saraf otak. Karena pikiran pada dasarnya menunjukkna fungsi otak, maka kemampuan intelektual yang lazim disebut dengan istilah lain kemampuan berfikir, dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu menujukkan fungsi yang baik.
Pertumbuhan saraf yang telah matang akan diikuti oleh fungsi secara baik. Dan oleh karenna itu seorang individu juga akan mengalami perkembangan kemampuan berfikirnya, mana kala pertumbuhan saraf pusat atau otaknya telah menapai kematangann.
Perkembangan lebih lanjut tentang perkembangan intelek berkembang mengikuti kekayaan pengetahuannya tentang dunia luar dan proses belajar yang dialaminya, sehingga pada saatnya seseorang akan berkemampuan melakukan peramal atau predikasi, perencanaan dan berbagai kemampuan analisis dan sintesis. Berkembangan semacam ini di kenal sebagai perkembangan kognitif. Menurut piaget (Sarlito, 1991:81 ) mengngikuti tahap sebagai berikut:
a) Tahap pertama : Masa sensori motor (00-2.5 tahun)
Masa ketika bayi mempergunakan sistem pengindraan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Bayi memberikan reaksi motorik atas rangsangan-rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks misalnya reflek mencari puting susu ibu, refleks menangis ketika lapar dan lain-lain.
b) Tahap kedua : Masa Pra-operasional (2,0-7,0 tahun)
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan simbol yang mewakili sesuatu konsep.
c) Tahap ketiga : Masa konkreto presional (7,0-11 tahun)
Pada tahap ini anak sudah melakukan berbagai macam tugas yang konkret, anak mengembangkan tiga macam operasi berfikir yaitu:
Identifikasi : mengenal sesuatu
Negasi : mengingkari sesuatu
Reprokasi : mencari hubungan timbal-balik beberapa hal
d) Tahap keempat : Masa operasional (11- dewasa)
Dalam usia remaja dan seterusnya seseorang sudah mampu berfikir abstrak. Pada tahap ini seseorang bisa memperkirakan apa yang terjadi dan dapat memberikan kesimpulann.
3. Emosi
Rasa dan perasaan merupakan salah satu potensi yang khusus dimiliki oleh manusia. Dalam hidupnya atau dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusia, banyak hal yang dibutuhkannya. jika kebutuhan itu tidak segera terpenuhi maka seseorang akan merasa kecewa sebaliknya jika kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan baik maka ia akan senang dan puas.
4. Sosial
Dalam proses pertumbuhan setiap orang tidak dapat berdiri sendiri. Sejalan dengan pertumbuhan bayi yang telah menjadi anak dan seterusnya menjadi orang dewasa ia akan mengenal lingkungan lebih luas, mengenal banyak manusia.
5. Bahasa
Fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi, pengertian bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak, dan suara untuk menyampaikan isi kepada orang lain. Dengan demikian dalam berbahasa ada 2 pihak yang terlibat, yaitu pihak menyampaikan isi fikiran dan pihak penerima isi pikiran.
6. Bakat khusus
Bakat pada awalnya merupakan hal yang amat penting sehubungan dengan bidang pekerjaan atau tugas. Dalam proses pendidikan, bakat merupakan faktor penting untuk mendapatkan perhatian cara mendidikan. Seseorang yang memiliki bakat akan cepat diamati, sebab kemampuan yang dimiliki akan berkembang dengan pesat dan menonjol.
7. Sikap, nilai, dan moral
Bloom (woolfolk dan Nicolih, 1984:390) mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses belajar dikelompokkan menjadi tiga sasaran, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif), penguasaan nilai dan sikap (afektif) dan penguasaan psikomotorik. Semakin tumbuh dan perkembangan fisik dan psikisnya, anak mulai dikenal terhadap nilai-nilai, ditujukaan hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh, yang harus dilakukan dan yang harus dilarang.


C. KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Perkembangan berarti perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir hingga mati, pertumbuhan, perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke bagian-bagian fungsional dan kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari.
2. Pola perkembangan setiap anak pada umumnya sama, tergantung pada bawaan sejak lahir dan pengaruh lingkungannya.
3. Adapun faktor yang mempengaruhi perkembangan ada 2 yaitu faktor intern dan ekstern yang semuanya itu sesuai dengan aliran nativisme, empirisme dan konvergensi.
4. Adapun hukum-hukum perkembangan yaituL:
a. Perkembangan adalah kualitatif.
b. Perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses dan hasil belajar.
c. Usia ikut mempengaruhi perkembangan.
d. Masing-masing individu mempunyai tempo perkembangan yang berbeda-beda. Dalam keseluruhan periode perkembangan, setiap spesies perkembangan individu mengikuti pola umum yang sama.
e. Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan.
f. Perkembangan yang lambat dapat dipercepat.
g. Perkembangan meliputi proses individuasi dan integrasi.
5. Sifat pertumbuhan manusia sangat tergantung pada pertumbuhan fisik, pertumbuhan non fisik (intelek), Emosi, Sosial, Bahasa, Bakat khusus, Sikap, nilai, dan moral


D. DAFTAR RUJUKAN

Crow, L dan Crow, A, Psychologi Pendidikan, Yogyakarta: Nur Cahaya, 1989

Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2006

Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1998

Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2000

Sunarto dan Hartono Agung, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2001


















BAB II
TEORI PERKEMBANGAN PSIKODINAMIKA
(Sigmund Freud)

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak dini.
Pemahanan freud tentang kepribadian manusia didasarkan pada pengalaman-pengalaman dengan pasiennya, analisis tentang mimpinya, dan bacaannya yang luas tentang beragam literature ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Pengalaman-pengalaman ini menyediakan data yang mendasar bagi evolusi teorinya. Baginya, teori mengikuti megikuti observasi, dan konsepnya tentang kepribadian terus mengalami revisi selama 50 tahun terakhir hidupnya.
Meskipun teorinya berevolusi, freud menegaskan bahwa psikoanalisis tidak boleh jatuh ke dalam elektisisme, dan murid-muridnya yang menyimpang dari ide-ide dasar ini segera akan dikucilkan secara pribadi dan professional oleh freud.
Freud menganggap dirinya sebagai Ilmuan. Namun, definisinya tentang ilmu agak berbeda dari yang dianut kebanyakan psikolog saat ini. Freud lebih mengandalkan penalaran deduktif ketimbang metode riset yang ketat, dan ia melakukan observasi secara subjektif dengan jumlah sampel yang relative kecil. Dia menggunakan pendekatan studi studi kasus hampir-hampir secara secara ekslusif , merumuskan secara khas hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta kasus yang diketahuinya.

2. Rumusan Masalah
a. Seperti apa biografi Sigmund Freud?
b. Apa hakikat teori psikodinamika?
c. Bagaimana Struktur kepribadian menurut teori psikodinamika?
d. Bagaimana tahap-tahap perkembangan manusia menurut teori psikodinamika?

3. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini nantinya untuk mengetahui seputar teori psikodinamika terutama teorinya Sigmund Freud, baik dari segi biografinya, hakikat teori psikodinamika, struktur kepribadian dan tahap-tahap perkembangan pribadi manusia.


B. PEMBAHASAN
1. Biografi Sigmun Freud
Sigismund (Sigmund) Freud lahir pada 6 Maret (atau 6 Mei) 1856 di Freiberg, Moravia, sekarang bagian dari republik Cekoslawakia. (Para sarjana tidak ada yang sepakat dengan tanggal lahirnya−diduga dia paling cepat lahir 8 bulan setelah pernikahan orang tuanya).
Freud adalah putra sulung pasangan Jacob dan Amalie Nathanson Freud, meskipun ayahnya memiliki dua putra lain, Emanuel dan Phillip, dari pernikahan sebelumnya. Jacob dan Amelie memilki tyjuh anak lagi selama sepuluh tahun. Namun, Sigmund tetap menjadi anak favorit ibunya yang masih belia dan penuh pengertian. Inilah yang menjadi sebagian fondasi keyakinan freud seumur hidupnya. Sebagai seorang terpelajar dan berpikiran serius, freud tidak memiliki keakraban hubungan dengan salah satu adik-adiknya. Namun dia menikmati hubungan yang hangat dan penuh pengertian dengan ibunya, ini yang mendorong Freud di tahun-tahun berikutnya untuk mengobservasi bahwa hubungan ibu/anak adalah hubungan yang paling sempurna dan paling bebas dari ambivelensi (perasaan yang bertentangan) disbandingkan dengan semua hubungan antar manusia yang ada.
Sebagai anak cerdas dan selalu mendapat nilai tinggi dikelasnya, Freud melanjutkan pendidikan ke sekolah kedokteran, salah satu pilihan bergengsi bagi anak-anak Yahudi yang pintar di Wina kala itu. Semasa kuliah, dia terlibat berbagai penelitian di bawah arahan professor fisiologis bernama Ernst Brucke.
Sebagian hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengembangkan tentang teori psikoanalisisnya. Uniknya, saat ia sedang mengalami problem emosial yang sangat berat adalah saat kreativitasnya muncul. Pada umur paro pertama empat puluhan, ia banyak mengalami berbagai macam psikomatik, juga rasa nyeri akan datangnya maut dan fobi-fobi lain. Dengan mengekplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri, ia mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang. Freud mengembangkan gagasan-gagasannya tentang teori psikoanalisis dari pekerjaan dengan para pasien mental.
Sigmund Freud juga dikenal sebagai tokoh yang kreatif dan produktif. Ia sering menghabiskan waktunya 18 jam sehari untuk menulis karyakaryanya, dan karya tersebut berkumpul menjadi 24 jilid. Bahkan ia tetap produktif dimasa usia senja. Karena terkenal itulah, Freud dikenal tidak hanya pencetus psikoanalisis yang mencuatkan namanya sebagai intelektual, tetapi ia juga meletakkan cara baru untuk bisa memahami perilaku manusia.
Karya pertama Freud adalah On Aphasia, yang diluncurkan pada tahun 1891. Sedangkan seluruh karya Freud terhimpun dalam 23 jilid buku yang diberi judul The Standard Edition of The Complete Psychological Work of Sigmund Freud. Diantara karyanya yang paling menarik adalah The Interpretation of Dreams (1904); The Psychopatology of Everyday Life (1904); yang menjelaskan Freudian Slip dan keganjilan perilaku sehari-hari; Totem and Taboo (1913), yang berisi pendapatnya tentang asal-usul manusia; General Introductory Lectures on Psychoanalysis (1917); Civilization and Its Discontents, yang berisi komentar psimitisnya tentang masyarakat modern; The Future of an Illusion, yang membahas agama; Ego and the Id (1923); New Introductory Lectures on Psychoanalysis (1933); Moses and Monotheism (1939); dan An Out Line Of Psychoanalysis (1940).
Dalam dunia pendidikan pada masa itu, Sigmund Freud belum seberapa populer. Menurut A. Supratika, nama Freud baru dikenal pertama kalinya dalam kalangan psikologi akademis pada tahun 1909, ketika ia diundang oleh G. Stanley Hall, seorang sarjana psikologi Amerika, untuk memberikan serangkaian kuliah di universitas Clark di Worcester, Massachusetts. Pengaruh Freud di lingkungan psikologi baru terasa sekitar tahun 1930-an. Akan tetapi Asosiasi Psikoanalisis Internasional sudah terbentuk tahun 1910, begitu juga dengan lembaga pendidikan psikoanalisis sudah didirikan di banyak negara.
Freud pindah ke Inggris sesaat sebelum Perang Dunia II pecah, karena Wina sudah tidak aman lagi untuk orang Yahudi, khususnya yang terkenal sepeti Freud. Tidak lama setelah itu, dia meninggal di London pada tanggal 23 September 1939 karena kanker mulut dan rahangyang telah didapatnya selama lebih kurang 20 tahun.

2. Hakikat Teori Psikodinamika
Psikodinamika pada awalnya dikembangkan oleh Sigmund Freud (1974) dan pengikut-pengikutnya. Dikatakan psikodinamik, karena teori ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku berasal dari gerakan dan interaksi dalam pikiran manusia, kemudian pikiran merangsang perilaku dan keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.
Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak dini.
Teori ini mempunyai kesamaan dengan teori belajar dengan teori belajar dalam hal pandangan akan pentingnya pengaruh lingkungan, termasuk lingkungan (mileu) primer terhadap perkembangan. Perbedaannya adalah bahwa teori psikodinamika memandang komponen yang bersifat sosio-afektif sangat fundamental dalam kepribadian dan perkembangan seseorang.
Menurut teori ini, perkembangan jiwa atau kepribadian seseorang ditentukan oleh komponen dasar yang bersifat sosio-efektif, yakni ketegangan yang ada di dalam diri seseorang itu ikut menentukan dinamikanya ditengah-tengah lingkungannya.
Menurut salah satu teori psikodinamaika yang terkenal, yaitu teori Freud (Sigmund Freud), maka seseorang anak dilahirkan dalam dua macam kekuatan (energi) biologis, yaitu libio dan nafsu mati, yang mana kekutan ini menguasai semua orang atau semua benda yang berarti bagi anak yang melalui proses yang disebut kathesis yang berarti konsentrasi energi psikis terhadap suatu objek atau suatu ide yang spesifik, atau terhadap satu person yang spesifik.

3. Struktur Kepribadian
Freud (1917) yakin bahwa kepribadian memiliki tiga (3) struktur: id, ego, dan superego.
a. Id (Das Es)
Struktur anak pada waktu dilahirkan adalah apa yang disebut Id (Das Es). Id merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata benda impersonal yang berarti “The it” (sang itu), komponen kepribadian yang belum dimiliki. Id adalah struktur kepribadian menurut freud yang terdiri atas naluri (instinct), yang merupakan gudang energi psikis individu. Dalam pandangan Freud, id tidak secara total; id tidak memiliki kontak dengan realitas. Id ini yang mendorong anak untuk memuaskan nafsu-nafsunya (prinsip kenikmatan), yaitu mencari keenakan dan menghindarkan diri dari ketidakenakan.
Seorang yang baru lahir adalah personifikasi sebuah id yang belum terbebani oleh pembatasan-pembatasan ego dan superego. Bayi mencari pemuasan kebutuhan tanpa peduli dengan apakah boleh diwujudkan (wilayah-wilayah tuntutan ego) atau apakah pantas (wilayah-wilayah pembatasan superego). Dia selalu mengisap entah putting ibunya memiliki air susu atau tidak dan memperoleh kenikmatan dari kedua situasi tersebut. Meskipun bayi menerima makanan penunjang kehidupan hanya dengan mengisap puting yang memiliki air susu. Namun, dia terus mengisap karena id-nya tidak bersentuhan dengan realitas ada tidaknya air susu dalam putting ibu. Bayi bahkan gagal menyadari bahwa perilaku mengisap jempol tangan tidak dapat membuatnya mempertahankan hidup. Karena id tidak memiliki kontak langsung dengan realitas, dia tidak bisa dirubah entah oleh perjalanan waktu atau oleh pengalaman-pengalaman pribadi. Dan impuls-impuls (dorongan) harapan kanak-kanak ini masih tetap tidak berubah dalam id selama berdekade-dekade kehidupan si anak berikutnya.
Selain tidak relistis dan mencari kesenangan, id juga tidak logis dan dapat melayani secara bersamaan ide-ide yang tidak bersesuaian. Contohnya: seorang perempuan mungkin menunjukkan kasih sayang yang disadari terhadap ibunya serta mengharapkan tanpa sadar kehancuran sang ibu. Hasrat-hasrat yang saling bertentangan ini dapat muncul karena id tidak memilki moralitas di dalamnya. Artinya, dia tidak membuat penentuan nilai atau membedakan baik dan buruk. Namun, id bukan immoral (menyalahi moral), tepatnya ia amoral (tidak bersangkut paut dengan moral). Semua energy id dihabiskan hanya untuk satu tujuan saja−mencari kesenangan tanpa peduli apa yang pantas atau benar.
Id adalah sesuatu yang primitive/purba, khaos, dan tidak terakses oleh alam sadar, tidak dapat diubah, amoral, tidak logis, tidak terorganisasikan dan selalu dipenuhi energy yang diterimanya dari dorongan-dorongan dasar menuju pemuasan prinsip kesenangan.
Sebagai wilayah yang menjadi rumah bagi dorongan-dorongan dasar (motif-motif primer), pengoperasian id disebut Proses primer. Namun, karena dia mencari dengan membabi buta pemuasan prinsip kesenangan, kelangsungan hidupnya bergantung penuh terhadap perkembangan proses skunder yang membawanya untuk melakukan kontak dengan dunia eksternal. Proses eksternal berfungsi melalui ego.
b. Ego (Das Ich)
Ego adalah struktur keribadian menurut freud yang berurusan dengan tuntutan realitas. Ego disebut badan pelaksana (Executive Branch) kepribadian, karena ego membuat keputusan-keputusan rasional. Id dan ego tidak memiliki moralitas, id dan ego tidak memperhitungkan apakah sesuatu benar atau salah.
Ego atau “I” (sang aku), adalah satu-satunya wilayah jiwa yang berhubungan dengan realitas. Ia tumbuh dari id selama masa bayi dan menjadi satu-satunya sumber komunikasi seseornag dengan dunia eksternal. Dia diatur oleh prinsip realitas yang berusah menjadi substitusi bagi prinsip kesenangan id. Karena dia sebagian sadar, sebagian ambang sadar, dan sebagian bawah sadar, ego dapat membuat keputusan dari masing-masing dari ketiga tingkatan mental ini. Contohnya, ego seorang perempuan mungkin secara sadar memotivasi dia untuk memilih pakaian yang rapid an dijahit dengan baik karena dia merasa nyaman jika mengenakan pakaian yang bagus. Pada waktu yang bersamaan, dia bisa saja menyadari secara samar-samar (yaitu secara ambang sadar) mengenai pengalaman-pengalaman sebelumnya yang membuatnya yang membuatnya dihargai karena memilih pakaian yang bagus. Selain itu, dia juga bisa termotivasi oleh bawah sadarnya untuk menjadi sangat rapi dan tertib kerena pengalaman-pengalaman latihan−penggunaan−toilet (toilet training) pada masa kanak-kanak. Kalu begitu, keputusannya untuk mengenakan pakaian yang rapi lahir dari ketiga tingkat kehidupan mentalnya tersebut.
Ketika mengenakan fungsi-fungsi kognitif dan intelektualnya, ego harus mempertimbangkan berbagai tuntutan dari id dan super ego yang tidak bersesuaian dan sama-sama tidak realistis. Menurut freud, ego menjadi terbedakan dari id ketika bayi mulai belajar membedakan diri mereka dari dunia luar. Ketika id masih tetap tidak mau beruabah, ego mulai mengembangkan sejumlah strategi untuk menghadapi tuntutan id yang tidak relistik dan tidak pantang menyarah terhadap kesenangan. Pada saat-saat tertentu, ego dapat mengontrol id yang sangat kuat dan selalu mencari kesenangan itu. Namun, pada saat-saat lain ego kehilangan kekuatan pengontrolnya.
Untuk membandingkan ego dan id, freud menggunakan analogi seorang yang sedang menunggangi seekor kuda. Si enunggang sanggup mengarahkan dan mengendalikan kekuatan kuda yang jauh lebih besar, namun, jika si kuda menunjukkan kemurahhatian untuk menuruti perintahnya.
Seperti halnaya anak-anak yang mendapatkan hadiah dan hukuman orang tua, mereka mulai belajar apa yang harus dilakukan untuk memperoleh kesenangan dan menghindari rasa sakit. Di usia yang masih belia ini, kesenagan dan rasa sakit merupakan fungsi-fungsi ego yang utama karena anak-anak belum mengembangkan suara hati nurani (conscience) dan ideal ego (ego-ideal): itulah super ego. Ketika anak-anak memasuki usia 5 atau 6 tahun, mereka mulai mengidentifikasi diri dengan orang tua mereka dan belajar apa yang boleh dilakukan, inilah asal-usul superego.
c. Superego (Das Ueber Ich)
Superego adalah struktur kepribadian freud yang merupakan badan moral kepribadian dan benar-benar memperhitungkan apakah sesuatu benar ataukah salah. Anggaplah superego adalah sesuatu yang selalu kita rujuk sebagia “hati nurani (consciense)” kita. Anda mungkin mulai merasa bahwa baik id maupun superego menyebabkan kehidupan kasar bagi ego, ego anda barang kali mengatakan, “aku akan melakukan hubungan seks kadang-kadang saja dan memastikan untuk menggunakan alat pencegahan kehamilan yang tepat, karena aku tidak ingin gangguan anak dalam perkembangan karirku.” Akan tetapi, id anda mengatakan “aku ingin dipuaskan; seks itu nikmat.” Superegosedang bekerja juga: “aku merasa bersalah kalau melakuakan hubungan seks.”
Ada dua aspek superego: pertama adalah nurani (conscience), yang merupakan internalisasi dari hukuman dan peringatan. Sementara yang kedua disebut ego ideal. Ego ideal berasal dari pujuan-pujian dan cotoh-contoh positif yang diberikan kepada anak-anak.
Freud melihat kepribadian seperti suatu gunung es; kebanyakan kepribadian terdapat dibawah tingkat kesadaran kita, sama seperti bagian terbesar dari suatu gunung es yang terdapat dibawah gunung es.
Bagaiman Ego mengatasi konflik antara tuntutan realitas, keinginan id, dan hambatan superego?
a. Dengan melalui mekanisme pertahanan (defense mechanism) yaitu istilah psikoanalisis bagi metode ketidaksadaran, ego membelokkan atau mendistorsi realitas, dengan demikian melindunginya dari kecemasan. Dalam pandangan Freud, tuntutan-tuntutan struktur kepribadian yang saling bertentangan menimbulkan kecemasan. Misalnya, ketika ego menghambat atau memblok pengejaran id akan kenikmatan, kecemasan yang lebih dalam (inner anxiety) dirasakan. Keadaan tertekan berkembang ketiak id sedang membahayakan individu. Kecemasan mengingatkan atau mengirim sinyal kepada ego untuk mengatasi konflik melalui alat mekanisme pertahanan.
b. Represi (represion) ialah mekanisme pertahanan yang paling kuat dan paling meresap (the most powerful and pervasive ); represi bekerja menolak dorongan-dorongan id yang tidak diinginkan di luar kesadaran dan kembali ke pikiran tidak sadar. Represi adalah landasan dari mana semua mekanisme pertahanan lain bekerja; tujuan setiap mekanisme pertahanan ialah menekan (repress), atau menolak keinginan-keinginan yang mengancam di luar kesadaran. Freud mengatakan bahwa pengalaman masa anak-anak, sebagian besar diantaranya ia yakini sarat secara seksual (sexsually laden), cukup mengancam dan menekan kita untuk mengatasinya secara sadar. Kita mengurangi kecemasan akibat konflik ini melalui mekanisme pertahanan represi.
Freud yakin bahwa kita melampaui lima tahap perkembangan psikoseksual dan bahwa setiap tahap perkembangan tersebut kita mengalami kenikmatan pada satu bagian tubuh lebih dari pada bagian tubuh yang lain. Erogenous zones adalah bagian tubuh yang yang mengalami kenikmatan khusus yang sangat kuat yang memberi kualitas pada setiap tahap perkembangan.

4. Tahap-tahap Perkembangan
Dalam teori Freud hasrat seksual adalah motivasi paling penting. Menurut dia, hasrat seksual adalah motivasi paling dasar bukan saja bagi orang dewasa, tapi juga bagi anak-anak dan bayi. Saat dia dia memperkenalkan gagasannya tentang seksualitas bayi ke public wina, public menanggapi lebih sebagai seksualitas orang dewasa.
Kapasitas mencapai orgasme memang sudah ada secara neurologis semenjak lahir. Tetapi freud tidak hanya berbicara tetang orgasme. Seksualitas bukan hanya berarti hubungan kelamin, akan tetapi sensasi kenikmatan yang lahir dari persentuhan kulit juga didalamnya. Kita lihat bayi, anak-anak, dan orang dewasa sangat menikmatai belaian, ciuman, dan lain sebagainya.
Freud mencatat bahwa di usia-usia tertentu, beberapa bagian dari kulit kita dapat menimbulkan yang lebih besar dibanding bagian kulit yang lain. Teoritikus pada era selanjutnya menyebut bagian kulit ini dengan daerah erogen (erogeneus). Menurut freud, bayi mendapat kenikmatan tertinggi ketika menghisap, khususnya ketika menyusu pada ibunya. Seperti kita lihat, bayi sangat senang memasukkan benda-benda yang dia pegang ke mulutnya. Di usia berikutnya, dia sampai pada tahap kenikmatan anal, yaitu memegang dan melepaskan benda yang ada pada tangannya. Di usia 3 atau 4 tahun, dia akan menemukan kenikmatan ketika menyentuh alat kelaminnya. Barulah kemudian, di saat perkembangan seksual sudah mencapai kematangan, kita menemukan kenikmatan paling tinggi dalam berhubungan seksual. Berdasarkan pengamatan inilah Freud membuat teori tahap perkembangan kepribadian atau psikoseksual.
Tahap-tahap perkembangan kepribadian itu adalah:
a. Tahap oral atau tahap mulut
Tahap ini berlangsung dari usia 0 sampai 18 bulan. Titik kenikmatan terletak pada mulut, di mana aktivitas paling utama adalah Mengunyah, menghisap dan menggigit. Tindakan-tindakan ini mengurangi tekanan/ketegangan pada bayi.
b. Tahap anal
Tahap ini ini berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun. Titik kenikmatan terbesar terletak pada lubang anus, atau fungsi pengeluaran yang diasosiasikan dengannya. Dalam pandangan Freud, latihan otot lubang dubur mengurangi tekanan/ketegangan.
c. Tahap phallic
Phallic berasal dari bahasa latin phallus yang berarti alat kelamin laki-laki. Tahap ini berlangsung dari usia 3 dan 6 bulan. Titik kenikmatan terletak pada alat kelamin, ketika anak menemukan bahwa manipulasi (self manipulation) diri dapat memberi kenikmatan.
Dalam tahap ini, Freud berpandangan bahwa bahwa tahap phallic memiliki kepentingan khusus dalam perkembangan kepribadian. Karena selama periode inilah Oedipus complex muncul. Istilah ini berasal dari mitologi Yunani, di mana Oedipus, putra Raja Thebes, tanpa sengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Oedipus complex adalah konsep Freud dimana anak kecil mengembangkan suatu keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang berbeda jenis kelamin dengannya. Tetapi konsep ini dikecam oleh beberapa pakar psikoanalisis dan penulis.
Pada usia kira-kira 5 hingga 6 tahun, anak-anak menyadari bahwa orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dapat menghukum mereka atas keinginan incest mereka (incestuous wishes). Untuk mengurangi konflik ini, anak mengidentifikasikan diri dengan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya, dengan berusaha keras menjadi seperti orang tua yang sama jenis kelamin dengannya itu. Namun, bila konflik tidak teratasi, individu dapat terfiksasi pada tahap phallic.
d. Tahap laten
Tahap ini ini berlangsung antara usia 6 tahun dan masa pubertas. Anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan keterampilan social dan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energy anak ke dalam bidang-bidang yang aman secara emosional dan menolong anak melupakan konflik pada tahap phallic yang sangat menekan.
e. Tahap kemaluan
Tahap ini berawal dari masa pubertas dan seterusnya. Tahap kemaluan ialah suatu masa kebangkitan seksual. Sumber kenikmatan seksual sekarang adalah seseorang yang berada di luar keluarga. Freud yakin bahwa konflik yang tidak teratasi dengan orang tua terjadi kembali selama masa remaja. Bila teratasi, individu mampu mengembangkan suatu hubungan cinta yang dewasa yang berfungsi secara mandiri sebagai seorang dewasa.

5. Aplikasi Teori Freud dalam Bimbingan
Apabila menyimak konsep kunci dari teori kepribadian freud, maka ada beberapa teorinya yang dapat diaplikasikan dalam bimbingan, yaitu: Pertama, konsep kunci bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan. Dengan demikian,konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh yang diberikan konseling, sehingga bimbingan benar-benar efektif. Adapun fungsi-fungsi bimbingan antara lain:
a. Memahami Individual
Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya. Karena itu, bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara menyeluruh. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasrkan atas pemahaman diri anak didiknya.
b. Preventif dan Pengembangan Individual
Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventive berusaha mencegah kemerosotan perkembangan seseorang dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapaidalam perkembangannya melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantusetiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal.
Membantu individu untuk menyempurnakan setiap manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi lingkungannya. Bimbingan dapat memberikan pertolongan pada anak untuk mengadakan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.
Kedua, konsep teori tentang kecemasan yang dimiliki seseorang dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yaitu membantu individu supaya mengerti diri dan lingkungannya, mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya, mampu mengelola aktivitas sehari-hari dengan baik dan bijaksana, mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, social dalam masyarakatnya.
Ketiga, konsep teori psikoanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Dalam system pembinaan akhlak individual, islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anknya agar dapat tumbuh kembang sesuai dengan norma agama dan social. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.
Keempat, teori freud tentang tahapan perkembangan kepribadian individu dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberikan arti bahwa, materi, metode, dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu,karena pada setiap tahapan itu memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda.
Kelima, konsep freud tentang ketidaksadaran dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan id yang bersifat irrasional sehingga berubah menjadi rasional.


C. KESIMPULAN
Teori psikodinamika dicetuskan oleh Sigmund Freud. Dia berpendapat bahwa perkembangan jiwa atau kepribadian seseorang ditentukan oleh komponen dasar yang bersifat sosio-efektif, yakni ketegangan yang ada di dalam diri seseorang itu ikut menentukan dinamikanya ditengah-tengah lingkungannya.
Sehingga freud membagi struktur kepribadian atau jiwa seseorang menjadi tiga yaitu:
a) Id (das es) bisa dikaitkan dalam islam dengan nafsu.
b) Ego (das ich) bisa disebut juga dengan akal.
c) Superego (das ueber es) bisa disebut dengan hati nurani.
Setelah membagi struktur jiwa manusia kedalam tiga struktur, freud membagi tahapan-tahan perkembangan manusia menjadi lima. Yaitu, fase oral, fase anal, fase phallic, fase laten, dan fase kemaluan.
Fase-fase inilah yang menjadi dasar perkembangan manusia bagi teori psikodinamika. Dalam aplikasi teori, ada lima teori yang bisa menjadi pengelolaan pendidikan yaitu, Pertama, konsep kunci bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan. Kedua, konsep teori tentang kecemasan yang dimiliki seseorang. Ketiga, konsep teori psikoanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Keempat, teori freud tentang tahapan perkembangan kepribadian individu. Kelima, konsep freud tentang ketidaksadaran.


D. DAFTAR RUJUKAN

Abu Ahmadi,. Munawar Sholeh. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.

Boeree, C. George. 2005. Sejarah Psikologi: dari masa kelahiran sampai masa modern, (diterjemahkan oleh Abdul Qodir Shaleh). Jogjakarta: Prismasophie.

F.J. Monks,. A.M.P. Knoers. 2004. Ontwikkelings Psychologie (diterjemahkan oleh Siti Rahayu Haditomo). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

.

Jess Feist,. Gregory J. Feist. 2008. Theories of Personality (diterjemahkan oleh Yudi Santoso). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Santrock, John W. 2002. Life-Span Development, (diterjemahkan oleh Achmad Chusairi dan Juda Danamik). Jakarta: Erlangga.

Zaviera, Ferdinan. 2007. Teori Kepribadian Sigmund Freud. Jogjakarta: Prismasophie.








BAB III
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF
MENURUT PEAGET DAN VIGOTSKY


A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Istilah “cognitive” berasal dari kata cognition yang padanya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti yang luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi popiler sebagai salah satu domain atau wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesenjangan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa (Chplin, 1972).
Teori kognitif juga menekankan bahwa bagaian-bagaian dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut. Memisah-misakan atau membagi-bagi situasi atau materi pelajaran menjadi komponen-komponen yang kecil-kecil dan mempelajarinya secara terpisah-pisah, akan kehilangan makna. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks. Proses belajar terjadi anatara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentuk didalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dalam praktek pembelajaran, teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-rumusan seperti : “tahap-tahap perkembangan” yang dikemukakan oleh Piaget dan Vygotsky.

2. Rumusan Masalah
1. Bagaiman teori perkembangan kognitif menurut piaget?
2. Bagaimana teori perkembangan kognitif menurut Vygotsky?
3. Apa pengaruh teori Piaget terhadap gaya pengajaran?
4. Apa penagaruh teori Vygotsky terhadap gaya pengajaran?

3. Tujuan
1. Mendeskripsikan teori perkembangan kognitif menurut Piaget.
2. Mendeskripsikan teori perkembangan kognitif menurut Vygotsky
3. Untuk mengetahui pengaruh teori Piaget terhadap gaya pengajaran.
4. Untuk mengetahui pengaruh teori Vygotsky terhadap gaya pengajaran.


B. PEMBAHASAN
1. Teori Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
A. Biografi Jean Piaget
Jean piaget (sebut: jin Piasye) merupakan seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak, yang hidup antara tahun 1896 sampai tahun 1980. piaget yang lahir di Swiss itu pada mulanya bukan psikolog, melainkan seorang ahli biologi yang sejak umur 20 tahun telah terkenal di seluruh daratan Eropa. Dalam usia 21 tahun ia telah berhasil maraih gelar doktor dengan desertasi hasil penelitian mengenai makhluk jenis kerang-kerangan. Selama aktif di bidang biologi ia juga aktif belajar sendiri ilmu filsafat dan psikologi, lalu bekerja dengan Theodore Simon di Perancis dalam laboratorium yang mengembangkan inteligensi Alfred Binet yang masyhur itu. Kemudian ia menjadi sangat terkenal sebagai seorang kognitifis jenius yang berhasil menulis lebih dari 30 judul buku bermutu yang bertemakan perkembangan anak dan kognitif. Mulai tahun 1929 ia menjadi direktur Institut Jean Jacques Rousseau di jenewa.
Piaget adalah seorang psikolog “developmental” karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Dia adalah salah seorang psikolog yang suatu teori komperhensif tentang perkembangan inteligensi atau proses berfikir. Menurut piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Apabila ahli biologi menekankan penjelasan tentang pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan, maka piaget tekanan penyelidikannya lain. Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian/ adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.

B. Teori Perkembangan Menurut Piaget
Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap pekembangan sesuai dengan umurnya. Pola dan tahap-tahap perkembangan ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat, yaitu:
a. Tahap Sensorimotor (umur 0-2 tahun)
Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana. Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi langkah. Kemampuan yang dimilikinya antara lain:
· Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek di sekitarnya.
· Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara
· Suka memperhatikan sesuatu lebih lama
· Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya
· Memeperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.
b. Tahap Preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah pada penggunaan symbol atau bahasa tanda, dan mulai berkembangnya konsep-konsep intuitif. Tahap ini dibagi menjadi dua, yaitu preoperasional dan intuitif.
Preoperasional (umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan konsepnya, walaupun masih sangat sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam memahami objek. Karakteristik tahap ini adalah :
· Self Counternya sangat menonjol
· Dapat mengklasaifikasikan objek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok
· Tidak mampu memusatkan perhatian pada objek-objek yang berbeda
· Mampu mengumpulkan barang-barang menurut kriteria, termasuk kriteria yang benar
· Dapat menyusun benda-benda secara berderet, tetapi tidak dapat menjelaskan perbedaan antara deretan.
Tahap intuitif (umur 4-7 atau 8 tahun), anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak. Dalam menarik kesimpulan sering tidak diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada usia ini anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman yang luas. Karakteristik tahap ini adalah:
· Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek, tetapi kurang disadarinya
· Anak mulai mnegetahui hubungan secara logis terhadap hal-hal yang lebih kompleks
· Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide
· Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar. Dia mengerti terhadap sejumlah objek yang teratur dan cara mengelompokkannya. Anak kekekalan masa pada usia 5 tahun, kekekalan berat pada usia 6 tahun, dan kekekalan volume pada usia 7 tahun. Anak memahami bahwa jumlah objek adalah tetap sama meskipun objek itu dikelompokkan dengan cara yang berbeda.
c. Tahap Operasional Konkret (umur 7 atau 8- 11 atau 12 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berfikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-bendayang bersifat konkret. Operation adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran yang ada di dalam dirinya. Karenanya kegiatan ini memerlukan proses transformasi informasi ke dalam dirinya sehingga tindakan lebih efektif. Anak sudah tidak perlu coba- coba dan membuat kesalahan, karena anak sudah dapat berfikir dengan menggunakan model “kemungkinan” dalam melakukan kegiatan trrtentu. Ia dapat menggunakan hasil yang telah dicapai sebelumnya. Anak mampu menangani sistem klasifikasi.
Namun sungguhpun anak telah dapat melakukan pengklasifikasian, pengelompokan dan pengaturan masalah (ordering problem) ia tidak sepenuhnya menyadari adanya prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya. Namun taraf berfikirnya sudah dapat dikatakan maju. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif. Untuk menghindari keterbatasan berfikir anak perlu diberi gambaran konkrit, sehingga ia mampu menelaah persoalan. Sungguhpun demikian anak usia 7-12 tahun masih memiliki masalah mengenai berfikir abstrak.
d. Tahap Operasional Formal (umur 11/12-18 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berfikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berfikir “kemungkinan”. Model berfikir ilmiah dengan tipe hipothetico-dedictive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Pada tahap ini kondisi berfikir anak sudah dapat:
· Bekerja secara efektif dan sistematis
· Menganalisis secara kombinasi. Dengan demikian telah telah diberikan dua kemungkinan penyebabnya, misalnya C1 dan C2 menghasilkan R, anak dapat merumuskan beberapa kemungkinan
· Berfikir secara proporsional tentang C1, C2, dan R misalnya
· Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam isi.
Istilah-istilah khusus dan arti-artinya yang berhubungan dengan proses perkembangan kognitif anak versi Piaget:
1. sensorymotor schema (skema sensorimotor) ialah sebuah aatu serangkaian prilaku terbuka yang tersusun secara sistematis untuk merespons lingkungan (barang, orang, keadaan, kejadian).
2. cognitive scema (skema kognitif), ialah prilaku tertutup berupa tatana langkah-langkah kognitif(operations) yang berfungsi memehami apa yang tersirat atau menyimpul lingkungan yang direspon
3. object permanance (ketetapan benda), yakni anggapan bahwa sebuah benda akan tetap ada walaupun sudah ditinggalkan atau tidak dilihat lagi
4. asimilation (asimilasi), yakni proses aktif dalam menggunkan skema untuk merespon lingkungan
5. acomodation (akomodasi), yakni penyesuaian aplikasi skema yang cocok dengan lingkungan yang direspon sebagai hasil ketetapan akomodasi.
6. equilibrium (ekuilibrium), yakni keseimbangan antara skema yang digunakan dengan lingkungan yang direspon sebagai hasil kecepatan akomodasi.
Selama perkembangan dalam periode sensorimotor yang berlangsung sejak anak lahir sampai usia dua tahun intelegensi ayau kecerdasan yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitif dalam arti masih didasarkan pada prilaku terbuka meskipun primitif dan terkesan tidak penting, intelegensi sensorimotor sesungguhnya merupakan intelegensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi fondasi untuk tipe-tipe intelegensi tertentu yang akan dimiliki anak tersebut kelak
Intelegensi sensorimotor dipandang sebagai intelegensi praktis (practical intelligence) yang berfaedah bagi anak usia 0-2 tahun untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum ia mampu berfikir mengenai apa yang ia sedang perbuat. Anak pada periode ini belajar bagaimana mengikuti dunia kebendaan secara praktis dan belajar menimbulkan efek tertentu tanpa memahami apa yang sedang ia perbuat kecuali hanya mencari cara melakukan perbuatan separti diatas.
Ketika seorang bayi berinteraksi dengan lingkungannya, ia akan mengasimilasikan skema sensorimotor sedemikian rupa dengan mengerahkan kemampuan akomodasi yang ia miliki hingga mencapai ekuilibrium yang memuaskan kebutuhannya. Proses asimilasi dan akomodasi dalam mencapai ekuilibrium seperti diatas selalu dilakukan bayi, baik ketika ia hendak mmenuhi dorongan lapar dan dahaganya maupun ketika bermain dengan benda-benda mainan yang ada disekitarnya.
Proses-proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensorimotor tentu akan berbeda dengan proses belajar yang dialami oleh seorang anak pada tahap pre-operasiaonal, dan akan berbeda pula dengan mereka yang sudah berda pada tahap operasionak konkrit, bahkan dengan mereka yang sudah berda pada tahap operasional formal. Secara umum, semakin tinggi tahap perkembangan kognoitif seseorang akan semaki teratur dan semakin abstrak cara berfikirnya.
Teori Piaget banyak dipengaruhi oleh biologi dan epistemologi (ajaran mengenai pengenalan).
Biologi: dalam teori Piaget banyak menggunakan pengertian yang langsung diambil dari biologi. Misalnya dalam definisi mengenai intelegensi dipakai pengertian-pengertian seperti adaptasi, organisasi, staium, pertumbuhan dan sebagainya.
Epistemologi: perhatian terhadap cabang ilmu pengetahuan ini antara lain nampak dalam penelitian empiris terhadap timbulnya pengertian atau konsep mengenai waku, ruang, kausalitas, dan kesadaran akan aturan.
Piaget beranggapan bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental, yaitu kecenderungan untuk
a. adaptasi: dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
b. kecenderungan organisaasi: hal ini bisa dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegrasi proses-proses sendiri menjadi sistem-sistem yang koheren.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan intelektual anak mengandung 3 aspek, yaitu structure, content, dan function. Anak yang sedang mengalami perkembangan, struktur, dan content intelektualnya berybah atau berkembang. Fungsi dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan suatu rangkaian perkembangan, masing-masing mempunyai struktur psikologi khusus yang menentukan kecakapan berfikir anak. Maka Piaget mengartikan intelegensi adalah sejumlah struktur psikologis yang ada pada tingkat perkembangan khusus.
Piaget mengidentifikasi 4 faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak, yaitu:
1. kematangan
2. pengalaman fisik atau lingkungan
3. transmisi sosial
4. equalibrium/ self regulation.
Belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai operasi formal pada akhir masa kanak-kanak: 104 anak diamati sampai mereka berusia sampai 18 tahun dan diuji dengan berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk menguji hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi Mc Garrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan De-Vos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua.
2. Teori Perkembangan Kognitif Menurut Vygotsky
Pandangan yang mampu mengakomodasi sociocultural-revolution dalam teori belajar dan pembelajaran dikemukakan oleh Lev Vygotsky. Ia mengatakan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Artinya, untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan cara menelusuri apa yangv ada di balik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal-usul tindakan sadarnya, dari interaksi sosial yang dilatari oleh sejarah hidupnya (Moll & Greenberg, 1990). Peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan dari individu itu sendiri. Interaksi sosial demikian antara lain berkaitan erat dengan aktivitas-aktivitas dab bahas yang dipergunakan. Kunci utama untuk memahami proses-proses sosial dan psikologis manusia adalah tanda-tanda atau lambang yang berfungsi sebagai mediator (Wertsch, 1990). Tanda-tanda atau lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural dimana seseorang berada.
Menurut Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat derivatif atau merupakan turunan dan bersifat skunder (Palincsar, Wertsch & Tulviste, dalam Supratikny, 2002). Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Maka teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan kokonstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, jaga oleh lingkungan sosial yang aktif pula.
Konsep-konsep penting teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif yang sesuai dengan revolusi-sosiokultural dalam teori belajar dan pembelajaran adalah:
a. Hukum genetik tentang perkembangan (genetik law of development)
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu tataran sosial tempat orang-orang membentuk lingkungan sosialnya (dapat dikategorikan sebagai interpsikologis atau intermental). Dan tataran psikologis di dalam diri orang yang bersangkutan (dapat dikategorikan sebagai intrapsikologis atau intramental). Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang.
Dikatakan bahwa fungsi-fungsi mental yang lebih tinggi dalam diri seseorang akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara itu fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.
Pada mulanya anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial tertentu tanpa memahami maknanya. Pemaknaan atau kontruksi pengetahuan baru muncul atau terjadi melalui proses internalisasi. Namun internalisasi yang dimaksud oleh Vygotsky bersifat transformatif, yaitu mampu memunculkan perubahan dan perkembangan yang tidak sekedar berupa transfer atau pengalihan. Maka belajar dan berkembang merupakan satu kesatuan dan saling menentukan.
b. Zona perkembangan proksimal (Zone of prokximal development)
Vygotsky juga mengemukakan konsepnya tentang Zona perkembangan proksimal (Zone of prokximal development). Menurutnya perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas –tugas dan memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Ini disebut sebagai kemampuan intermental. Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal.
Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada pada proses pematangan. Ibaratnya sebagai embrio, kuncup atau bunga, yang belum menjadi buah. Tunas-tunas perkembangan ini akan menjadi matang melalui interaksinya dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Untuk menafsirkan konsep zona perkembangan proksimal ini dengan menggunakan scaffolding interprtetation , yaitu memandang zona perkembangan proksimal sebagai perancah, sejenis wilayah penyangga atau batu loncatan untuk mencapai taraf perkembangan yang semakin tinggi.
Gagasan Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal ini mendasari perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Beberapa konsep kunci yang perlu dicatat adalah bahwa perkembangan dan belajar bersifat interdependent atau saling terkait, perkembangan kemampuan seseorang bersifat conteks dependement atau tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, dan sebagai bentuk fundamental dalam belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.
Berpijak pada konsep zona perkembangan proksimal, maka sebelum terjadi internalisasi pada diri anak, atau sebelum kemampuan intramental terbentuk, anak perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompetent perlu membantu dengan berbagai cara seperti memberikan contoh, memberikan feed back, menarik kesimpulan, dan sebagainya dalam rangka perkembangan kemampuannya.
c. Mediasi
Menurut Vygotsky, kunci utama untuk memahami proses-prose sosial dan psikologis adalah tanda-tanda atau lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator. Tanda-tanda atau lambang-lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural dimana seseorang berada. Semua perbuatan atau proses psikologis yang khas manusiawi di mediasikan dengan psikologi psychological tool atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan lambang, atau semiotika.
Dalam kegiatan pembelajaran anak dibimbing oleh orang dewasa atau oleh teman sebaya yang lebih kompetent untuk memahami alat-alat semiotik. Anak mengalami proses internalisasi yang selanjutnya alat-alt ini berfungsi sebagai mediator sebagai proses-proses psikologis lebih lanjut dalam diri anak. Mekanisme hubungan antara pendekatan sosio kultural dan fungsi-fungsi mentaldidasari oleh tema mediasi semiotik, artinya tanda-tanda atau lambang-lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penghubung antara rasionalitas sosio-kultural (intermental) dengan individu sebagai tempat berlangsungnya proses mental (intramental) dengan individu sebagai tempat berlangsungnya proses mental(intramental). Ada beberapa eleman yang dikemukakan oleh bakhtin untuk memperluas pendapat Vygotsky. Elemen-elemen tersebut terdiri dari ucapan, bunyi suara, tipe percakapan sosial dan dialog, dimana secara kontekstual elemen-elemen tersebut berda dalam batasan sejarah, kelembagaan, budaya dan faktor-faktor individu.
Ada dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif atau mediasi kognitif. Mediasi metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk melakukan regulasi diri atau self-regulation meliputi self planing, self-monitoring, self-checking, dan self-evaluating. Mediasi metakognitif ini berkembang dalam komunikasi antar pribadi. Selama menjalani kegiatan bersama orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompetent biasa menggunakan alat-alat semiotik tertentu untuk membantu mengatur tingkah laku anak. Selanjutnya anah akan menginternalisasikan alat-alat semiotik ini untuk dijadikan sarana regulasi diri.
Mediasi kognitif penggunakan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subject-domain problem. Mediasi kognitif bisa berkaitan dengan konsep spontan (yang bisa salah)dan konsep ilmiah (yang lebih tewrjamin kebenarannya). Konsep-konsep ilmiah yang berhasil diinternalisasikan anak akan berfungsi sebagai mediator dalam pemecahan masalah. Konsep-konsep ilmiah dapat berentuk pengetahuan deklaratif (declarife knowledge) yang kurang memadai untuk memecahkan berbagai persoalan, dan pengetahuan prosedural (procedural knowledge) berupa metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Menurut Vygotsky untuk membantu anak mengembangkan pengetahuan yang sungguh-sungguh bermakna, dengan cara memadukan antara konsep-konsep dan prosedur melalui demonstrasi dan praktek.
3. Pengaruh teori Piaget terhadap gaya pengajaran
Tulisan-tulisan Piaget tidak berfokus pada pendidikan, mengingat hal ini paling baik diserahkan saja kepada para guru. Meskipun demikian, guru-guru dengan antusias mempratekkan prinsip-prinsip Piaget di ruang kelas. Berikut ini adalah beberapa dampak utama teori Piaget terhadap praktek pengajaran di ruang kelas.
1. karena berfikir anak-anak berbeda dan kurang logis daripada orang dewasa, guru harus berusaha beradaptasi dengan cara berfikir anak, bukan mengharapkan anak beradaptasi dengan guru. Salah satu cara untuk mencapai hal ini, guru harus menciptakan situasi sehingga anak mampu belajar sendiri bukan melulu mengandalkan penyampaian fakta. Ini membawa kita pada prinsip Piaget berikutnya.
2. anak belajar paling baik dengan menemukan (discovery). Karena itu, peran guru adalah merancang tugasyang didalamnya anak dapat menyelesaikan masalah sendiri. Agar pembelajarannya berpusat pada anak berlangsung efektif, guru tidak meninggalkan anak-anak belajar sendiri, tetapi memberi mereka tugas yang khusus dirancang untuk membimbing mereka menemukan dan menyelesaaikan masalah sendiri. Berbagi macam tugas perlu diberikan dalam membantu anak membangun pengetahuan tentang dunia. Di taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar, bahan-bahan seperti air, pasir, batu bata, dan krayen sangat membantu anak membangun kontruksi (luar dan dalam). Selanjutnya, proyek dan praktikumilmiah membantu anak menjelajahi sifat-sifat dunianya.
3. pendidikan bertujuan mengembangkan pemikiran anak. Artinya, ketika anak-anak mencoba memikirkan masalah, penalaran merekalah yang lebih penting daripada jawabanya. Karena itu, penting sekali bahwa guru tidak menghukum anak-anak untuk jawaban yang salah tetapi dinalar dengan baik. Meskipun demikian, tugas guru adalah menanyakan secara halus bagaimana anak sampai pada kesimpulan yang keliru dan mendorong mereka agar berfikir lebih jauh.
Perkembangan kognitif bergantung pada akomodasi. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tidak dapat menggantungkan diri pada asimilasi. Dengan adanya area baru ini siswa akan mengadakan usaha untuk dapat mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang akan mempermudah pertumbuhan kognitif.
4. Pengaruh teori Vygotsky terhadap gaya pengajaran
Berbeda dengan Piaget, Vygotsky ingin menerapkan pemikiran-pemikirannya secara langsung pada pendidikan. Hasil karya Vygotsky dapat disejajarkan dengan seorang ahli psikologi perkembangan kognitif masa kini, Jeromo bruner. Pemikiran Bruner memiliki kesamaan dengan Vygotsky tapi pengembangannya agak lebih jauh dalam hal pendidikan. Contohnya, bruner sudah memelajri scaffolding, proses yang digunakan orang dewasa untuk menentukan anak-anak melalui zona perkembangan proksimalnya. Pengaruh karya Vygotsky dan Bruner terhadap dunia pengajaran dijabarkan Smith et al
1. walaupun Vygotsky dan bruner telah mengusulkan peranan yang lebih penting bagi orang dewasa dalam pembelajaran anak-anak dari pada peran yang diusulakan Piaget, keduanya tidak mendukung pengajaran didaktis diganti sepenuhnya. Sebaliknya, mereka malah menyatakan, walaupun anak tetap dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru harus secara aktif mendampingi segal kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoriti, anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal dan guruy menyediakan scaffolding bagi anak selama melalui ZPD (Zona Perkembangan Didaktis)
2. secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh penting pada perkmbangan kognitif anak-anak. Berlawanan dengan pemvelajaran lewat penemuan individu (individual discovery learning), kerja kelompok secara kooperatif (cooperative groupwork) tampakny memepercepat perkembangan anak. Bennett dan Dunn menyelidiki pengaruh kerja kelompok kreatif terhadap perkembangan anak-anak Sekolah Dasar. Merteka menemukan bahwa anak-anak yang bekerja dalam kelompok kerja kooperatif menunjukkan pemikiran yang lebih maju dan kemampuan berbahasa yang lebih baik daripada mereka yang bekerja sendirian.
3. gagasan tentang kelompok keja kreatif ini diperluas menjadi pengajaran pribadi oleh teman sebaya (peer tutoring), yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal dalam pelajaran. Foot at al menjelaskan keberhasilan pengajaran oleh teman sebaya ini dengan menggunakan teori Vygotsky. Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak lainnya melewati ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu hingga bisa dengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan scaffolding yang sesuai.

C. KESIMPULAN
Psikologi perkembangan kognitif adalah pendekatan untuk memahami perkembangan pemikiran logis dan dampaknya terhadap prilaku. Teori yang paling berpengaruh dalam bidang ini datang dari Piaget, yang kontribusinya sangat besar dalam mengidentifikasiperbedaan logika anak-anak dengan logika orang dewasa. Piaget juga mengutamakan proses yang dijalani anak-anak dalam menjelajahi lingkungan mereka belajar darinya. Secara umum, banyak gagasan Piaget yang diiyakan Vygotsky, tetapi Vygotsky lebih menekankan pentingnya pembelajaran dari orang lain dari pada belajar dengfan menemukan sendiri. Baik teori Piaget maupun Vygotsky diterapkan dalam sistem pengajaran. Teori-teori Piaget maupun Vygotsky sama-sama mengutamakan peran aktif murid-muridnya dalam belajar, tetapi sementara pengikut Piaget menganjurkan belajar dengan menemukan sendiri, pakar pendidik yang lebih banyak dipengaruhi Vygotsky cenderung memilih kerja kelompok dan lebih banyak bantuan dari guru dan murid lain.

D. DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Jarvis, Matt. 2007. Teori-teori Psikologi, Bandung : Penerbit Nusamedia & Penerbit Nuansa.
Monks, F. J, dkk. 2004. PsikologiPerkembangan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soemanto, Wasty. 1990. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Bandung: Anggota Ikapi.




















BAB IV
TEORI PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ERIKSON

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perkembangan tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar melainkan di dalamnya juga terkandung seranggkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniyah dan rohaniyah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangn, dan belajar.
Perkembangan menghasilhan bentuk-bentuk dan ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti melalui suatu bentuk atau tahap kebentuk tahap berikutnya yang kian hari kian bertambah maju mulai masa pembuahan dan berakhir dengan kematian seperti yang diungkapkan Erik Erikson.

2. Rumusan Permasalahan
1. Apa hakikat perkembngan psikososial ?
2. Bagaimana tahap proses perkembangan psikososial menurut Erik Erikson?
3. Bagaimana kaitannya teori psikososial dengan dengan pendidikan?


B. PEMBAHASAN
1. Hakekat Perkembangan Psikisosial
Teori perkembangan psikososial adalah teori perkembangan yang menekankan bahwa kepribadian berkembang selama rintang kehidupan. Manusia aktif mengembagkan sikap dan ketrampilannya, dan pentingnya pengaruh lingkungan untuk pengembangan kepribadian. Teori dikmbangkan oleh ERIK H ERIKSON
Sama halnya dengan teori-teori perkembangan sebelumnya, teori perkembangan psikososial, disusun berdasarkan tingkat-tingkat perkembangan yang dicapai dalam usia tertentu.
Erik Erikson (1902-1994) mengakui sumbangan Freud, tetapi yakin bahwa Freud salah menilai beberapa dimensi penting perkembangan manusia. Di satu pihak, Erikson (1950, 1968) mengatakan bahwa kita berkembang dalam tahap-tahap psikososial (psychosocial states), yang berbeda dengan tahap-tahap psikososial (psychosexual states) Feud. Di pihak lain, Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia, sementara Freud berpendapat bahwa kepribadian dasar kita dibentuk pada lima tahun pertama kehidupan. Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas yang menghadapkan individu dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Bagi Erikson, krisis ini bukan bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan kerentanan (vulnerability) dan peningkatan potensi. Semakin berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangan mereka.

2. Tahap Perkembangan Menurut Erik Erikson
Menurut teori psikososial Erikson, perkembangan manusia di bedakan berdasarkan kualitas dalam delapan tahap perkembnangan. Empat tahap pertama terjadi pada masa bayi dan masa kanak-kanak,tahap kelima pada masa adolisin dan tiga tahap terakhir pada masa dewasa dan tua. Dari delapan tahap perkembangan tersebut, erikson lebih memberikan penekanaan pada masa adolesen, karena masa tersebut merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Apa yang terjadi pada masa ini, sangat penting artinya bagi kepribadian dewasa. Berikut ini akan diuraikan secara singkat kedelapan tahap perkembangan psikososial erikson tersebut.
Kepercayaan dan Ketidakpercayaan (trust versus mistrust)
Ialah tahap psikososial pertama menurut Erikson yang dialami dalam tahun pertama kehidupan. Suatu rasa percaya menurut perasaan nyaman secara fisik dan sejumlah kecil ketakutan serta kekuatiran akan masa depan. Kepercayaan pada masa bayi menentukan bagi tahap bagi harapan seumur hidup bahwa dunia akan menjadi tempat tinggal yang baik dan menyenangkan.
Otonomi dengan rasa malu dan keragu-raguan (autonomy versus shame and doubt)
Ialah tahap perkembangan kedua menurut Erikson, yang berlangsung pada akhir masa bayi dan masa baru mulai berjalan (1-3 tahun). Setelah memperoleh kepercayaan dari pengasuh mereka, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka. Mereka menyadari kemauan mereka. Bila bayi terlalu banyak dibatasi atau dihukum terlalu keras, mereka cenderung mengembangkan rasa malu dan ragu-ragu.
Prakarsa dan rasa bersalah (initiative versus guilt)
Ialah tahap perkembangan ketiga menurut Erikson, yang berlangsung selama tahun-tahun prasekolah. Ketika anak-anak prasekolah menghadapi suatu dunia sosial yang lebih luas, ketika anak-anak prasekolah menghadapi suatu dunia sosial yang lebih luas, mereka lebih tertantang daripada ketika mereka masih bayi. Perlaku aktif dan bertujuan dituntut untuk menghadapi tantangan-tantangan ini. Anak-anak diharapkan menerima tanggungjawab atas tubuh mereka, perilaku mereka, mainan mereka ,dan hewan peliaraan mereka. Pengembangan rasa tanggung jawab meningkatan prakarsa. Namun, perasaan bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul, bila anak tidak diberi kepercayaan dan dibuat merasa sangat cemas. Erikson memiliki pandangan yang positif terhadap tahap ini. Ia yakin bawa kebanyakan rasa bersalah dengan cepat digantikan oleh rasa berhasil.
Tekun dan rasa rendah diri (industry versus inferiority)
Ialah tahap perkembangan keempat menurut Erikson, yang berlangsung kira-kira pada tahun-tahun sekolah dasar. Prakarsa anak-anak membawa merekaterlibat dalam kontak dengan pengalaman-pengalaman baru yang kaya. Ketika mereka beralih ke masa pertengahan dan akhir anak-anak, mereka mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Tidak ada saat lain yang lebih bersemangat atau antusias untuk belajar daripada pada akhir periode pengembangan imajinasi pada masa awal anak-anak. Bahaya pada tahun-tahun sekolah dasar adalah perkembangan rendah diri-perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif. Erikson yakin bahwa guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan ketekunan anak-anak. Guru seharusnya “secara lembut tapi tegas memaksa anak-anak ke dalam pengembaraan untuk menemukan bahwa seseorang dapat belajar mencapai sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sendiri” (Erikson, 1968, h. 127).
Identitas dan kebingungan identitas (identity versus identity confution)
Ialah tahap perkembangan kelima menurut Erikson, yang dialami individu selama tahun-tahun masa remaja. Pada masa ini individu dihadapkan dengan penemuan siapa mereka, bagaimana mereka nantinya, dan kemana mereka menuju dalam kehidupannya. Anak remaja dihadapkan dengan banyak peran baru dan status orang dewasa-pekerjaan dan romantis, misalnya. Orang tua harus mengizinkan anak remaja menjelajahi banyak peran dan jalan yang berbeda dalam suatu peran khusus. Jika anak remaja menjajaki peran-peran semacam itu dengan cara yang sehat dan tiba pada suatu jalan yang positif untuk diikuti dalam kehidupan, maka identitas yang positif akan dicapai. Jika suatu identitas pada anak ditolak oleh orang tua, kalau anak remaja tidak secara memadai menjajaki banyak peran, dan jika jalan masa depan yang positif tidak dijelaskan, maka kebingungan identitas merajalela.
Keintiman dan keterkucilan (intimacy versus isolation)
Ialah tahap keenam perkembangan menurut Erikson, yang dialami individu selama tahun-tahun awal masa dewasa. Pada masa ini, individu menghadapi tugas perkembangan pembentukan relasi intim dengan orang lain. Erikson menggambarkan keintiman sebagai penemuan diri sendiri pada diri orang lain tanpa kehilangan diri sendiri. Saat anak muda membentuk persahabatan yang sehat dan relasi akrab yang intim dengan orang lain, keintiman akan dicapai, kalau tidak, isolasi akan terjadi.
Bangkit dan mandeg (generativity veersus stagnation)
Ialah hidup ketujuh perkembangan menurut Erikson, yang dialami individu selama pertengahan masa dewasa. Persoalan pertama ialah membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna-inilah yang dimaksud Erikson dengan generativity. Perasaan sebelum melakukan sesuatu untuk menolong generasi berikutnya ialah stagnation.
Integritas dan kekecewaan (integrity versus despair)
Ialah tahap kedelepan dan terakhir perkembangan menurut Erikson, yang dialami individu selama akhir masa dewasa. Pada tahun-tahun terakhir kehidupan, kita menoleh kebelakang dan mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dengan kehidupan kita. Melalui banyak rute yang berbeda, manusia lanjut usia barangkali telah mengembangkan pandangan yang positif pada kebanyakan atau semua tahap perkembangan sebelumnya. Jika demikian, pandangan retrospektif (melihat kembali ke belakang) akan memperlihatkan gambar suatu kehidupan yang telah dilalui dengan baik, dan orang itu akan merasakan suatu rasa puas-integritas akan tercapai. Jika manusia lanjut usia menyelesaikan banyak tahap sebelumnya secara negatif, pandangan retrospektif cenderung akan menghasilkan rasa bersalah atau kemuraman-yang disebut Erikson sebagai despair (putus asa).
Erikson tidak yakin solusi yang tepat terhadap suatu krisis tahap selalu benar-benar bersifat positif. Suatu exposure atau komitmen terhadap hasil negatif dari konflik dua kutup seseorang kadang-kadang tidak terelakan-anda tidak boleh mempercayai semua orang dalam semua keadaan dan kehidupan, misalnya. Namun demikian dalam solusi yang sehat atas suatu krisis tahap, pemecahan yang positif mendominasi.

Delapan tahap perkembangan Erikson


No Tahap Erikson Periode Perkembangan Karakteristik
1 Kepercayaan dan ketidakpercayaan Masa bayi
(tahun pertama) Rasa kepercayaan menurut perasaan nyaman secara fisik dan jumlah ketakutan minimal akan masa depan. Kebutuhan-kebutuhan dasar bayi dipenuhi oleh pengasuh yang tegap dan peka.
2 Otonomi serta rasa malu dan ragu-ragu Masa bayi
(tahun kedua) Setelah memperoleh kepercayaan dari pengasuh, bayi mulai menemukan bahwa mereka memiliki kemauan yang berasal dari diri mereka sendiri. Mereka menegaskan rasa otonomi atau kemandirian mereka. Mereka menyadari kemauan mereka. Jika bayi terlalu dibatasi atau dihukum terlalu keras, mereka cenderung mengembangkan rasa malu dan ragu-ragu.
3 Prakarsa dan rasa bersalah Masa awal anak-anak (tahun-tahun prasekolah, usia 3-5 tahun) Ketika anak-anak prasekolah menghadapi suatu dunia sosial yang lebih luas, mereka lebih tertentang dan perlu mengembangkan perilaku yang lebih bertujuan untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Anak-anak diharapkan menerima tanggung jawab yang lebih besar. Namun, perasaan bersalah yang tidak menyenangkan dapat muncul jika anak-anak tidak bertanggung jawab dan dibuat merasa terlalu cemas
4 Tekun dan rasa rendah diri Masa pertengahan dan akhir anak-anak (tahun-tahun sekolah, 6 tahun-pubertas) Tidak ada masa lain yang lebihantusias daripada akhir periode masa awal anak-anak yang penuh imajinasi.
mereka mengarahkan energi mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Yang berbahaya pada tahap ini adalah perasaan tidak berkompeten dan tidak produktif.
5 Identitas dan kebingungan identitas Masa remaja
(10-20 tahun) Individu dihadapkan dengan temuan siapa mereka, bagaimana mereka kira-kira nantinya, dan kemana mereka menuju dalam kehidupannya, satu demensi yang penting ialah penjajakan pilihan-pilihan alternatif terhadap peran. Penjajakan karir merupakan hal penting.
6 Keakraban dan keterkucilan Masa awal dewasa
(20-an, 30-an tahun) Individu menghadapi tugas perkembangan pembentukan relasi yang akrab dengan orang lain. Erikson menggambarkan keakraban sebagai penemuan diri sendiri, tanpa kehilangan diri sendiri pada diri orang lain
7 Bangkit dan mandeg Masa pertengahan dewasa (40-an, 50-an tahun) Persoalan utama ialah membantu generasi muda dalam mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna.
8 Keutuhan dan keputusasaan Masa akhir dewasa (60-an tahun-) Individu menoleh ke masa lalu dan mengevaluasi apa yang telah mereka lakukan dengan kehidupan mereka. Menoleh kembali ke masa lalu dapat bersifat positif (keutuhan) atau negatif (putus asa)

3. kaitan teori perkembangan psikososial dengan pendidikan
1.Perkembangan masa bayi
· Perkembangan emosi , emesi dapat diartikan sebagai perasaan atau afeksi yang melibatkan kombinasi antara kejolak sosiologis dan perilaku
· Perkembangan tempramen, tempramen merupakan salah satu dimensi psikologis yang berhubungan dengan aktivitas fisik dan emosional serta merespon
· Perkembangan Atthacmen, Atthacmen adalah pertalian atau ikatan antara ibu dan anak, dan mengacu pada ikatan dua orang individu atau lebih sifatnnya adalah hubungan sikologis yang diskriminatif dan spesifik, serta mengikat seseorang dengan orang lain dalam rentang waktu dan ruang tertentu
· Perkembangan rasa percaya, rasa percaya dan rasa tidak percaya bukan hanya muncul dan sesudah itu selesai selama tahun-tahun pertama kehidupan masa bayi saja, melainkan akan muncul kembaliakan muncul kembali pada tahap-tahap perkembangan berikutnya anak-anak yang memasuki sekolah dengan rasa tidak percaya, dapat mempercayai guru tertentu yang memberikan dan banyak menghabiskan waktunya unuk membuat dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam kesempatan kedua ini anak-anak menggatasi rasa tidak percaya yang mereka miliki sebelumnya.
· Perkembangan otonomi, otonomi adalah kebebasan individu manusia untuk memilih untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, mengguasai dan menentukan diri sendiri
2. Perkembangan masa anak-anak awal
Masa awal anak-anak juga ditandai dengan perkembangan psikosoaial dengan pesat diantaranya:
· Perkembangan permainan, permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosial yang dominan pada masa awal anak-anak. Sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktunnya diluar rumah bermain dengan teman-temannya di banding terlibat dalam aktivitas lain karenan itu, kebannyakan hubungan sosial dengan teman seebaya dalqam masa nini terjadi dalam bentuk permainan.
· Perkembanngan hubungan dengan orang tua, selama tahun-tahun prasekolah hubungan dengan orang tua atau pengasuhnnya merupaka dasar bagi perkembanngan emosional dan sosial anak . Salah satu aspekn penting dalam hubungan orang tua dan anak adalah gaya penggasuhan yang di terapkan oleh orang tua. Ada tiga tipe pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek-aspek yang berbeda dalam tingkah laku sosial: 1. pengasuh otoritatif adalah salah satu gaya pengasuhan yang memperlihatkan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak-anak tetapi mereka juga bersifat responsif, menghargai dan menghormati pemikiran perasaan sera mengikut seretakan anak dalam menggambil keputusan, 2. Pemgasuhan otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuytoi perintah-perintah orang tua, 3.Pengasuhan permisif , di bagi menjadi dua yaitu gaya pengasuhan yangmana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak dan gaya pengasuhan yang mana orang tua santgat tidak terlibat terhadap kehidupan anak.
· Perkembangan hubungan dengan teman sebaya, Perkembgangan psikosoasial dan kepribadian sejak usia prasekolah hingga akhiur masa sekolah ditandai oleh semakin meluasnya pergaaulan sosial,m terutama dengan teman sebaya.
· Perkembanngan gender, Istilah gender dimaksudkan sebagai tingkah laku dan sikap yang diasosiasikan dengan laki-laki atau perempuan.
· Perkembangan moral, anak-anak usia pra sekolah juga mengalami perklembangan moral. Perkembangan yang gberkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam intreraksinnya dengan orang lain.
3. Perkembangan masa pertengahan dan akhir anak-anak
Pada masa ini anak-anak mulai sekolahdan kebannyakan mewreka sudah mempelajari mengenai sesuatu yana brerhubungan dengan manusia, serta mulai mempelajari keterampilan prqaktis. Sekolah dan relasi pada guru menjadi kehidupan anak yang tertruktur
· Perkembangan pemahaman diri, anak secara aktif dan terus menerus mengembangkan dan memperbaharui pemahaman tentang diri.
· Perkembangan hubungan dengan keluarga, anak secara berangsur-angsur lebih banyak mempelajari mengenai sikap-sikap dan motivasi orang tuannya, serta memahami aturan-aturan keluarga se hingga mereka menjadi lebih mampu untuk mengenmdalikan tingkah laku.
· Perkembangan hubungan dengan teman sebaya.
· Sekolah mempengaruhi pewrkembangan anak melalui dua kurikulum yaitu akadimik curikulum meliputi sejumplah kwajiban yang diharapkan di kuasai oleh anak. Ia membantu anak memperoleh pengetahuan akadimis dan kemampuan intelektual yang dibutuhkan untuk keberhasilan berpartipasi dalam bermasnyarakat. Hidden curikulum, meliputi sejumplah norma,harapan dan penghargaan yang implisit untuk dipikirkan dan dilaksanakan dengan cara-cara tertentu yang disampaikan melalui hubungan sosial sekolah dan otoritas, khususnya yang berkenaan peran degan pewran sosial guru siswa dan perilaku yang diharapkan masnyarakat. Selain dengan orang tua mereka kebannyakan anak-anak menghabiskan waktunya dengan guru. Guru merupakan simbol otiritas dan menciptakan iklim kelas dan kondisi-kondisi interaksi diantara murid oleh sebab itu siswa, sikap guru terhadap guru terhadap siswa adalah penting, sebab guru mengambil suatu peran sertral dalam kehidupan anak-anak yang sangat menentukan bagaimana mereka merasakan berada disekolah dan bagimana mereka merasakan diri mereka. Study perubahan sosial dan perkembangan mkotifasi anak kelas satu menunjukan bahwa pemgalaman-pengalaman keberhasilan apa kegagalan merekalebih ditentukan oleh interaksi dengan guru mereka dari pada oleh prestasi nyata mereka.selama anak-anak memiliki sahabat dan penguatan positif dari guru, mereka merasakan senang dan berhasil di sekolah. Demikian pentingnya pengaruh guru terhadap kehidupan murid-muridnya,maka sejumplah ahli psikologi perkembangan dan pendidikan telah mencoba merumuskan suatu profil tentang sifat-sifat kepribadian seorang guru yang baik. Misalnya, menunjukkan beberapa sifat guru yang diasosiasikan hasil-hasil murid yang lebih positif, yaitu antusiesme, mampu membuat perencanaan, bersikap tenang, mampu beradaptasi, fleksibel dan keadaan dan kesadaran akan perpedaan-perbedaan individual.sementara itu eric ericson menyatakan bahwa guru yang baik adalah guru yang dapat menciptakan suatu sernse of industri dan bukan infioriti bagi mujrid-muridnya merteka ,memahami bagaimana melakukan selingan antara belajar dan bermain, menghargai kemampuan khusus murid, mengetahui bagaimana menciptakan suatu setting dimana anak-anak merasa positif terhadap diri merteka diri sendiri.
4. Perkembangan masa remaja.
· Perkembangan individuasi dan identitas
· Perkembangan hubungan dengan orang tua
· Perkembangan hubuangan dengan teman sebaya
· Perkembangan seksualitas
· Perkembangan proaktifitas
· Perkembangan resiliensi
5. Perkembangan masa dewasa dan tua
· Perkembangan keintiman
· Perkembangan generativitas
· Perkembangan integritas


C. KESIMPULAN
Teori perkembangan psikososial yaitu sebuah perkembangan yang menekankan bahwa kepribadian itu berkembang selama rintang hidup.
Delapan tahap perkembangan menurut Erik Erikson Kepercayaan dan Ketidakpercayaan (trust versus mistrust), Otonomi dengan rasa malu dan keragu-raguan (autonomy versus shame and doubt), Prakarsa dan rasa bersalah (initiative versus guilt), Tekun dan rasa rendah diri (industry versus inferiority ), Identitas dan kebingungan identitas (identity versus identity confution), Keintiman dan keterkucilan (intimacy versus isolation), Bangkit dan mandeg (generativity veersus stagnation), Integritas dan kekecewaan (integrity versus despair).
Kaitan antara teori psikososial dengan pendidikan sangat erat karena anak yang baru lahir sudah harus mengenal pendidikan yang langsung dididik oleh orang tuanya sendiri. Berbeda dengan pada masa awal anak-anak, masa perkembangan dan akhir anak-anak, masa remaja, dan masa dewasa dan tua.
Perkembangan pada masa tersebut sudah mulai pesat, terlebih pada masa remaja dan dewasa. Perkembangan rasa percaya diri pada masa remaja sudah sangat nampak, karena pada masa tersebut inetraksi sosial remaja sudah meluas dan mampu membedakan antara yang baik dan tidak baik, sudah mengenal seksualitas dan lain sebagainya.
Pada masa dewasa dan tua, perkembangan emosi, perkembangan tempramen, perkembangan rasa percaya diri sudah terlihat jelas, sehingga pada masa dewasa dan tua, perkembangannya sudah mantap, sehingga mereka tidak lagi memikirkan hal-hal tersebut, tetapi mereka sudah memikirkan yang namanya keintiman, integritas dan generativitas.


D. DAFTAR PUSTAKA

Aziz Alfinar, Psikologi Pendidikan (Jakarta : DEPAG)
Desmita, Psikologi Perkembangan (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya,2006)

W. Santrok John, Perkembangan Masa Hidup (Jakarta:Erlangga,2002)












BAB V
TEORI PERKEMBANGAN MORAL
MENURUT KOHLBERG


A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Setiap organisme, baik manusia maupun hewan, pasti mengalami peristiwa perkembangan selama hidupnya. Perkembangan ini meliputi seluruh bagian bagian dengan keadaan yang dimiliki oleh organisme tersebut, baik yang bersifat konkret maupun yang bersifat abstrak. Dengan kata lain perkembangan itu bukan hanya terdapat pada aspek psikologis saja, tetapi juga aspek biologis. Akan tetapi akan tetapi hal yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah moral. Di tanah air kita saat ini terjadi adanya krisis multidimensional salah satunya adalah krisis moral terjadinya antar tauran pelajar, penggunaan narkoba dll.
Untuk menanggulangi salah satu caranya adalah tujuan pendidikan kita, tidak hanya mengembangkan kognitif saja akan tetapi juga harus mengembangkan moral. Diantara perkembangan moral yang ada. Seperti menurut Kohlberg mempunyai teori perkembangan moral yang berkembang secara bertahap.
Menurut Badura seorang psikolog pada Universitas Stanford Amerika Serikat, beliau memandang tingkah laku manusia bukan bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond)melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.
Sedangkan menurut Kohlberg Pemikiran adalah sebagai perilaku kualitatif dalam perkembangan. Dalam teori perkembangan menurut Kohlberg ini terdapat 3 tingkat dan 6 tahap pada masing-masing tingkat terdapat 2 tahap. Sehingga dalam pembahasan makalah ini dapat memperjelas bagaimana teori perkembangan moral diaplikasikan pada peserta didik.
Dengan perkembangan zaman semakin maju dan modern saat ini tugas kita sebagai seorang guru hendaknya memberi contoh pada peserta didik untuk menanamkan moral yang sesuai dengan tuntutan ajaran Islam dan harus membekali murid dengan tingkah laku yang baik yang harus ditanamkan sejak dini. Sehingga akan menjadikan manusia yang beradap sesuai dengan ajaran Islam yang berlaku. Dan dapat berkembang pada ilmu pengetahuan yang didasari dengan akhlak yang berkualitas dan bermutu.

2. Rumusan Masalah
Pada permasalahan yang dibuat dengan tujuan supaya pembahasan lebih terarah oleh karena itu permasalahan kami identifikasikan sebagai berikut :
1. Bagaimana makna perkembangan moral?
2. Bagaimana teori perkembangan moral menurut Kolhberg?

3. Tujuan
Adapun beberapa permasalahan yang menjadi tujuan penulisan makalah ini, diantaranya :
1. Untuk mengetahui makna perkembangan moral.
2. Untuk mengetahui teori perkembangan moral menurut Kolhberg.


B. PEMBAHASAN
1. Makna Perkembangan Moral
Perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan moralnya, kohlberg memperluas pandangan ini dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama hidupnya. Kohlberg percaya bahwa perkembangan moral didasarkan pada penalaran moral yang terbagi menjadi beberapa tahap. Pandangan ini ia peroleh setelah melakukan penelitian selama 20 tahun yang melibatkan wawancara individu dengan usia yang berbeda-beda. Teorinya didasarkan pada tahapan konstruktif, setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih kuat terhadap dilema-dilema moral dibandingkan tahap sebelumnya.
Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Perkembangan merupakan suatu proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pembentukan pribadi dalam keluarga, bangsa dan budaya. Perkembangan sosial dapat dipastikan adalah perkembangan moral, karena perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial. Seseorang hanya akan berperilaku sosial tertentu secara memadahi apabila menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan untuk menguasai pemikiran norma perilaku moral yang dibutuhkan. Seperti dalam proses perkembangan yang lainnya, proses perkembangan sosial dan moral selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial), baik dilingkungan sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Menurut kohlberg faktor kebudayaan mempengaruhi perkembangan moral. Terdapat rangsangan yang diterima oleh anak-anak dan ini memepengaruhi tahap perkembangan moral.

2. Tahapan-tahapan Perkembangan Moral Menurut Kohlberg
Berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan Kohlberg pada tahun 1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya dengan judul The Developmental of Model of Moral Think and Choice in the Years 10 to 16, seperti tertuang dalam buku Tahap-tahap Perkembangan Moral (1995), tahap-tahap perkembangan moral dapat dibagi sebagai berikut:
1. Tingkat Pra Konvensional (anak-anak)
Pada tingkat ini seseorang sangat tanggap terhadap aturan-aturan kebudayaan dan penilaian baik atau buruk, tetapi ia menafsirkan baik atau buruk ini dalam rangka maksimalisasi kenikmatan atau akibat-akibat fisik dari tindakannya (hukuman fisik, penghargaan, tukar menukar kebaikan). Kecenderungan utamanya dalam interaksi dengan orang lain adalah menghindari hukuman atau mencapai maksimalisasi kenikmatan (hedonistis). Tingkat ini dibagi 2 tahap:
Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan
Akibat-akibat fisik suatu perbuatan menentukan baik buruknya, tanpa menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat tersebut. Anak hanya semata-mata menghindarkan hukuman dan tunduk kepada kekuasaan tanpa mempersoalkannya. Jika ia berbuat kebaikan, hal itu karena anak menilai tindakannya sebagai hal yang bernilai dalam dirinya sendiri dan bukan karena rasa hormat terhadap tatanan moral yang melandasi dan yang didukung oleh hukuman dan otoritas
Orientasi kepatuhan pada hukuman adalah seorang yang patuh pada aturan yang berlaku karena takut mendapat hukuman. Orientasi perkembangan moral ini banyak dijumpai pada anak-anak. Anak-anak cenderung melakukan suatu perbuatan yang bernilai moral baik karena jika tidak melakukan atau melanggarnya akan mendapat hukuman. Anak-anak merasa dikendalikan otoritas tertentu dimana mereka harus patuh pada otoritas itu. Semakin kuat hukuman yang diterima berarti tindakan yang dilakukan semakin salah. Orang pada tahap ini tidak tahu atau tidak memperhatikan sudut pandang orang lain.
Banyak orang tua memanfaatkan tahap ini secara keliru. Orang tua cenderung mencari cara cepat untuk memaksa anak-anak melakukan sesuatu. Misalnya, anak diminta mengerjakan pekerjaan rumah dari guru agar tidak mendapat hukuman, anak harus berdoa sebelum tidur agar tidak berdosa, anak-anak harus tidur siang agar tidak ditangkap polisi. Masih banyak cara-cara keliru yang dipakai orang tua memanfaatkan tahap perkembangan moral ini. Menerangkan hubungan sebab-akibat dengan benar terhadap anak memang sangat merepotkan dan menghabiskan banyak waktu.
Orientasi yang kedua adalah orientasi minat pribadi. Seoarang pada tahap ini cenderung memikirkan apa keuntungan bagi dirinya sendiri sehingga ia harus melakukan perbuatan tertentu. Tahap ini seharusnya masih menjadi tahap masa anak-anak. Pada tahap ini, tidak hanya satu orang yang mempunyai otoritas yang harus dipatuhi. Setiap anak mempunyai sudut pandang yang berbeda. Oriantasi ke dua ini merupakan sebuah perjanjian yang adil, saya akan melakukan sesuatu untukmu asalkan kamu juga melakukan sesuatu untukku.
Orientasi pertama patuh agar tidak mendapat hukuman sedangkan orientasi kedua hukuman adalah resiko alamiah yang ingin dihindari. sulit untuk mencari contoh tindakan nyata yang mencerminkan tahap orientasi ke dua ini tetapi mungkin itu tampak dalam pemberian hadiah atau bonus. tidur siang akan mendapat bonus uang jajan setelah tidur siang, nilai 9 akan mendapat uang 10.000. pada taraf tertentu pemberian hadiah memang baik untuk memotivasi anak tetapi jangan sampai membuat orientasinya hanya pada apa yang menguntungkan dirinya sendiri.
Berdasar karakteristik tahap perkembangan moral pra-konvensional ini, orang tua hendaknya lebih bijak dalam mendidik anak. jangan sampai ketakutan pada hukuman dimanfaatkan untuk memaksa anak agar patuh padahal kepatuhan yang tampak hanyalah kepatuhan semu. jangan pula mengubah orientasi anak melalui hadiah-hadiah sehingga anak akhirnya berbuat sesuatu hanya berorientasi pada keuntungan pribadi semata.

Tahap 2 : Orientasi Relativis-instrumental
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dipandang seperti hubungan di pasar (jual-beli). Terdapat elemen kewajaran tindakan yang bersifat resiprositas (timbal-balik) dan pembagian sama rata, tetapi ditafsirkan secara fisik dan pragmatis. Resiprositas ini merupakan tercermin dalam bentuk: jika engkau menggaruk punggungku, nanti juga aku akan menggaruk punggungmu. Jadi perbuatan baik tidaklah didasarkan karena loyalitas, terima kasih atau pun keadilan.
Pada tahap ini tindakan seseorang selalu diarahkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan memperalat orang lain. Hubungan antara manusia dipandang seperti hubumgam dagang. Unsur-unsur keterbukaan, kesalingan dan tukar-menukar merupakan prinsip tindakannya dan hal-hal itu ditafsirkan dengan cara fisik dan pragmatis. Prinsip kesalingannya adalah, "kamu mencakar punggungku dan aku akan ganti mencakar punggungmu."


2. Tingkat Konvensional (remaja)
Pada tingkat ini anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok atau bangsa. Anak memandang bahwa hal tersebut bernilai bagi dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Sikapnya bukan hanya konformitas terhadap harapan pribadi dan tata tertib sosial, melainkan juga loyal (setia) terhadapnya dan secara aktif mempertahankan, mendukung dan membenarkan seluruh tata-tertib atau norma-norma tersebut serta mengidentifikasikan diri dengan orang tua atau kelompok yang terlibat di dalamnya.
Pada tingkat ini seseorang menyadari dirinya sebagai seorang individu di tengah-tengah keluarga, masyarakat dan bangsanya. Keluarga, masyarakat, bangsa dinilai memiliki kebenarannya sendiri, karena jika menyimpang dari kelompok ini akan terisolasi. Maka itu, kecenderungan orang pada tahap ini adalah menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dan mengidentifikasikan dirinya terhadap kelompok sosialnya. Kalau pada tingkat pra-konvensional perasaan dominan adalah takut, pada tingkat ini perasaan dominan adalah malu. Tingkat ini terdiri dari 2 tahap :
Tahap 3 : Orientasi kesepakatan
Perilaku yang baik adalah yang menyenangkan dan membantu orang lain serta yang disetujui oleh mereka. Pada tahap ini terdapat banyak konformitas terhadap gambaran stereotip mengenai apa itu perilaku mayoritas atau alamiah. Perilaku sering dinilai menurut niatnya, ungkapan dia bermaksud baik untuk pertama kalinya menjadi penting. Orang mendapatkan persetujuan dengan menjadi baik.
Pada tahap ini orang berpandangan bahwa tingkah laku yang baik adalah yang menyenangkan atau menolong orang-orang lain serta diakui oleh orang-orang lain. Orang cenderung bertindak menurut harapan-harapan lingkungan sosialnya, hingga mendapat pengakuan sebagai "orang baik". Tujuan utamanya, demi hubungan social yang memuaskan, maka iapun harus berperan sesuai dengan harapan-harapan keluarga, masyarakat atau bangsanya.
Tahap 4 : Orientasi hukuman dan ketertiban
Terdapat orientasi terhadap otoritas, aturan yang tetap dan penjagaan tata tertib/norma-norma sosial. Perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan kewajiban sendiri, menghormati otoritas dan menjaga tata tertib sosial yang ada, sebagai yang bernilai dalam dirinya sendiri.
Pada tahap ini tindakan seseorang didorong oleh keinginannya untuk menjaga tertib legal. Orientasi seseorang adalah otoritas, peraturan-peraturan yang ketat dan ketertiban social. Tingkah laku yang baik adalah memenuhi kewajiban, mematuhi hokum, menghormati otoritas dan menjaga tertib social merupakan tindakan moral yang baik pada dirinya.

3. Tingkat Pasca-Konvensional (dewasa)
Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut. Pada tingkat ini, orang bertindak sebagai subyek hokum dengan mengatasi hokum yang ada. Orang pada tahap ini sadar bahwa hokum merupakan kontrak social demi ketertiban dan kesejahteraan umum, maka jika hukum tidak sesuai dengan martabat manusia, hokum dapat dirumuskan kembali. Perasaan yang muncul pada tahap ini adalah rasa bersalah dan yang menjadi ukuran keputusan moral adalah hati nurani. Tingkat ini terdiri dari 2 tahap :
Tahap 5 : Orientasi kontrak sosial Legalitas
Pada umumnya tahap ini amat bernada semangat utilitarian. Perbuatan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh seluruh masyarakat. Terdapat kesadaran yang jelas mengenai relativitas nilai dan pendapat pribadi sesuai dengannya. Terlepas dari apa yang telah disepakati secara konstitusional dan demokratis, hak adalah soal penilaian dan pendapatan pribadi. Hasilnya adalah penekanan pada sudut pandangan legal, tetapi dengan penekanan pada kemungkinan untuk mengubah hukum berdasarkan pertimbangan rasional mengenai manfaat sosial (jadi bukan membekukan hukum itu sesuai dengan tata tertib gaya seperti yang terjadi pada tahap 4). Di luar bidang hukum yang disepakati, maka berlaku persetujuan bebas atau pun kontrak.
Tindakan yang benar pada tahap ini cenderung ditafsirkan sebagai tindakan yang sesuai dengan kesepakatan umum. Dengan demikian orang ini menyadari relativitas nilai-nilai pribadi dan pendapat-pendapat prosedural. Di samping menekankan persetujuan demokratis dan konstitusional, tindakan benar juga merupakan nilai-nilai pendapat pribadi. Akibatnya, orang pada tahapan ini menekankan pandangan legal tapi juga menekankan kemungkinan mengubah hukum lewat pertimbangan rasional. Ia menyadari adanya yang mengatasi hokum, yaitu persetujuan bebas antara pribadi. Jika hokum menghalangi kemanusiaan, maka hokum dapat diubah.
Tahap 6 : Orientasi Prinsip Etika Universal
Hak ditentukan oleh keputusan suara batin, sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri dan yang mengacu pada komprehensivitas logis, universalitas, konsistensi logis. Prinsip-prinsip ini bersifat abstrak dan etis (kaidah emas imperatif kategoris) dan mereka tidak merupakan peraturan moral konkret seperti kesepuluh Perintah Allah. Pada hakikat inilah prinsip-prinsip universal keadilan, resiprositas dan persamaan hak asasi manusia serta rasa hormat terhadap manusia sebagai pribadi individual.
Pada tahap ini orang tidak hanya memandang dirinya sebagai subyek hukum, tetapi juga sebagai pribadi yang harus dihormati. Respect for person adalah nilai pada tahap ini. Tindakan yang benar adalah tindakan yang berdasarkan keputusan yang sesuai dengan suara hati dan prinsip moral universal. Prinsip moral ini abstrak, misalnya : cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri dan tidak kongkrit. Di dasar lubuk hati terdapat prinsip universal yaitu keadilan, kesamaan hak-hak dasar manusia, dan hormat terhadap martabat manusia sebagai pribadi.
Dari tahap-tahap dan orientasi tiap tahap tersebut nampak bahwa seseorang tetap mengarahkan dirinya pada prinsip moral universal, yaitu keadilan dan kesalingan, hanya saja konkretisasinya berbeda-beda sesuai dengan perkembangan kognitif orang yang bersangkutan pada masing-masing tahap. Menurut Kohlberg, perkembangan penalaran moral ini berlangsung setahap demi setahap dan tidak pernah meloncat. Perkembangan penalaran moral dapat berakhir pada tahap manapun, maka peranan pendidik adalah menciptakan iklim yang dapat memberi rangsangan maksimal bagi seseorang untuk mencapai tahap yang lebih tinggi. Seorang terutama memahami prinsip-prinsip yang terdapat pada tahapnya sekarang dan ia mempunyai peluang untuk memahami satu tahap di atasnya atau tahap-tahap yang telah dilampauinya. Menurut Kohlberg, perkembangan ini tidak ditentukan oleh usia. Dalam penelitiannya, lebih dari 50 % respondennya (orang dewasa) masih ada tahap konvensional. Kecepatan perkembangannyapun beragam. Satu factor penting dalam perkembangan penalaran moral adalah factor kognitif, terutama kemampuan berpikir abstrak dan luas.
Berdasarkan penelitian empirisnya tersebut, secara kreatif Kohlberg menggabungkan berbagai gagasan dari Dewey dan Piaget, bahkan berhasil melampaui gagasan-gegasan mereka. Dengan kata lain ia berhasil mengkoreksi gagasan Piaget mengenai tahap perkembangan moral yang dianggap terlalu sederhana.Kohlberg secara tentatif menguraikan sendiri tahap-tahap 4, 5 dan 6 yang ditambahkan pada tiga tahap awal yang telah dikembangkan oleh Piaget. Dewey pernah membagi proses perkembangan moral atas tiga tahap : tahap pramoral, tahap konvensional dan tahap otonom. Selanjutnya Piaget berhasil melukiskan dan menggolongkan seluruh pemikiran moral anak seperti kerangka pemikiran Dewey, : (1) pada tahap pramoral anak belum menyadari keterikatannya pada aturan; (1) tahap konvensional dicirikan dengan ketaatan pada kekuasaan; (3) tahap otonom bersifat terikat pada aturan yang didasarkan pada resiprositas (hubungan timbal balik). Berkat pandangan Dewey dan Piaget maka Kohlberg berhasil memperlihatkan 6 tahap pertimbangan moral anak dan orang muda seperti yang tertera di atas.
Hubungan antara tahap-tahap tersebut bersifat hirarkis, yaitu tiap tahap berikutnya berlandaskan tahap-tahap sebelumnya, yang lebih terdiferensiasi lagi dan operasi-operasinya terintegrasi dalam struktur baru. Oleh karena itu, rangkaian tahap membentuk satu urutan dari struktur yang semakin dibeda-bedakan dan diintegrasikan untuk dapat memenuhi fungsi yang sama, yakni menciptakan pertimbangan moral menjadi semakin memadai terhadap dilema moral. Tahap-tahap yang lebih rendah dilampaui dan diintegrasikan kembali oleh tahap yang lebih tinggi. Reintegrasi ini berarti bahwa pribadi yang berada pada tahap moral yang lebih tinggi, mengerti pribadi pada tahap moral yang lebih rendah.
Selanjutnya penelitian lintas budaya yang dilakukan di Turki, Israel, Kanada, Inggris, Malaysia, Taiwan, dan Meksiko memberikan kesan kuat bahwa urutan tahap yang tetap dan tidak dapat dibalik itu juga bersifat universal, yakni berlaku untuk semua orang dalam periode historis atau kebudayaan apa pun.
Menurut Kohlberg penelitian empirisnya memperlihatkan bahwa tidak setiap individu akan mencapai tahap tertinggi, melainkan hanya minoritas saja, yaitu hanya 5 sampai 10 persen dari seluruh penduduk, bahkan angka inipun masih diragukan kemudian.


C. KESIMPULAN
Setelah kita memperhatikan dan mempelajari maka kami dapat menyimpulkan bahwa teori perkembangan moral menurut Kohlberg menekankan perkembangan moral secara bertahap dan sesuai dengan usia. Pada perkembangan moral ini dapat melalui pemahaman sosial yaitu melalui pengalaman sosial yang melalui interaksi dengan institusi sosial dan sistem hukum yang berlaku sehingga dapat meningkatkan pemahaman terhadap norma.
Adapun pada perkembangan moral ini terdapat 3 tingkat dan masing-masing tingkat terdapat 2 tahap. Pada perkembangan moral menurut psikologi umum yaitu :
- Penalaran Pra konvensional
- Penalaran Konvensional
- Penalaran Pasca konvensional
Sedangkan pada teori perkembangan moral menurut Kohlberg dari segi pendidikan diantaranya :
1. Moralitas Prakonfensional terdiri dari :
Tahap 1. memperhatikan ketaatan dan hukum
Tahap 2. Memperhatikan pemuasan kebutuhan
2.Moralitas Konvensional terdiri dari :
Tahap 3. Memperhatikan citra anak baik
Tahap 4. Memperhatikan hukum dan peraturan
3.Moralitas Pascakonvensional terdiri dari :
Tahap 5. Memperhatikan hak perseorangan
Tahap 6. Memperhatikan prinsip-prinsip etika
Demikian pada teori perkembangan moral menurut Kohlberg sengga dengan adanya teori perkembangan moral tersebut maka diharapkan kita dapat mengaplikasikan pada peserta didik sehingga dapat menjadikan peserta didik yang mempunyai IPTEK dan IMTAQ.


D. DAFTAR RUJUKAN

http://www.e-psikologi.com/epsi/individual_detail.asp?id=381
http://tentanganak.wordpress.com/2008/09/29/perkembangan-moral-1/"
http:/www.google. co.id?m?search?eosr=on&q=perkembangan+moral+&site
http:/www.google.co.id?m?search?eosr=on&mrestrict=xhtml&q=perkembangan%20moral%20

Life – Span Development, Perkembangan Masa Hidup, Jakarta: Erlangga, 1995

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995









BAB VI
TEORI PERKEMBANGAN MANUSIA MENURUT AL-QUR'AN


A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Di dalam al-Qur'an dijumpai beberapa ayat yang menggambarkan proses perkembangan manusia secara bertahap: mulai dari sel-sel pembawa genetika, berubah menjadi janin (fetus), lahir, tumbuh sebagai manusia dewasa dan mengalami kematian. Terdapat beberapa ayat yang menjelaskan hal itu, dua diantaranya Surat 23:12-16 merinci dengan jelas pertumbuhan dan perkembangan manusia pranatal yaitu: (1) Fase nuthfah (tetesan sperma,spermatozoa, (2) Fase 'alaqoh atau fase gumpalan darah atau yang melekat pada dinding uterus atau rahim, (3) Fase mudhghah (gumpalan daging),(4) Fase terbentuknya tulang ('idzam) yang terbalut oleh daging, jaringan, dan otot, (5) Fase janin dalam bentuk sempurna.
Dan ayat 22:5 menjelaskan fase perkembangan manusia pascanatal. Yaitu: (1) Fase bayi dan anak-anak (thifl) yaitu masa sejak persalinan hingga menjadi anak-anak yang mulai beranjak remaja, (2) Fase baligh hingga dewasa (litablughu asyuddakum), yaitu masa ketika perubahan mendasar dalam kehidupan terjadi. Pada wanita ditandai dengan haid(menstruasi) dan pada pria berupa ihtilam (mimpi basah, mimpi- dewasa). Dari segi mental, pada usia ini dianggap telah mampu bertanggungjawab sehingga tonggak taklif dimulai dari sini, (3) Fase lanjut usia yaitu fase ketika melewati masa puncak kekuatan fisik lalu menurun kembali menjadi tidak berdaya. Dalam pertumbuhan dan perkembangan individu disetiap fasenya ada prose yang sistematik, progresif dan berkesinambungan. Allah amenjelaskan bagaimana proses individu tumbuh dan berkembang menjalani fase demi fase kehidupannya sebagaimana dalam firman Allah QS. Al-Mu'min (40):67:
Manusia merupakan makhluk hidup yang lebih sempurna bila dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Akibat dari unsur kehidupan yang ada pada manusia, manusia berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, baik perubahan dalam segi fisiologis maupun perubahan-perubahan dalam segi psikologis. Di dalam al-Quran juga menjelaskan gambaran penciptaan manusia secara detail dan perkembangan manusia pada fase yang berbeda.

2. Rumusan Masalah
Dari pemaparan diatas maka bisa dipaparkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa definisi manusia menurut Al-Qur’an?
2. Apa pengertian dan ciri-ciri perkembangan manusia?
3. Bagaimana fase-fase perkembangan manusia menurut al-qur'an?

3. Tujuan Masalah
Setelah diketahui rumusan masalah maka kita bisa membuat tujuan masalah yaitu:
1. Agar kita mengetahui definisi manusia menurut Al-Qur’an?
2. Agar kita mengetahui pengertian dan ciri-ciri perkembangan manusia
3. Agar kita mengetahui fase-fase perkembangan manusia


B. PEMBAHASAN

1. Manusia Menurut Al-Qur’an
Prof. Abbas Mahmud El-Aqqad dalam bukunya “Haqaiqul Islam Qa Abathilu Khusumihi” telah merumuskan pandangan Al-Qur’an tentang manusia dengan amat baik sekali.
Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, beliau mendefinisikan manusia sebagai berikut: “manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan”.
Definisi ini mengandung tiga unsur pokok, yaitu:
1. Manusia sebagai ciptaan Allah.
2. Manusia bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya, yang menurut Al-Qur’an akan dipertanggungjawabkan nanti di hadapan Tuhan di akhirat.
3. Manusia diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan
Al-Imam ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat di atas :”Allah Ta’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bertafakkur (berfikir) dan mengambil i’tibar (pela jaran): “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin”, yang mencakup bumi itu sendiri dan apa-apa yang ada padanya, seperti pegunungan, lautan, sungai, pepohonan dan tetumbuhan, untuk menunjukkan orang yang memikirkannya dan merenungkan maknanya, akan keagungan pencipta-Nya, kekuasannya -Nya yang maha luas, kebaikan-Nya yang umum mencakup semuanya dan ilmu-Nya yang mencakup zhahir dan bathin. Demikian pula, bahwa di dalam diri seorang hamba itu ada pelajaran, hikmah dan rahmat yang menunjukkan bahwa Alloh itu Maha Tunggal Al-Ahad…” [Taysir Karimir Rahman, tafsir surat adz-Dzariyat, juz 29, hal. 809).
Rasulullah SAW telah menjelaskan perkembangan embrio ini secara mendetail 14 abad yang lalu, dimana pada zaman itu mikroskop, USG dan semisalnya belum ditemukan. Alloh Ta’ala berfirman:
/ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur §NèO Ÿ@yèy_ $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— tAt“Rr&ur /ä3s9 z`ÏiB ÉO»yè÷RF{$# spuŠÏZ»yJrO 8lºurø—r& 4 öNä3à)è=øƒs† ’Îû ÈbqäÜç/ öNà6ÏG»yg¨Bé& $Z)ù=yz .`ÏiB ω÷èt/ 9,ù=yz ’Îû ;M»yJè=àß ;]»n=rO 4 ãNä3Ï9ºsŒ ª!$# öNä3š/u‘ çms9 à7ù=ßJø9$# ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( 4’¯Tr'sù tbqèùuŽóÇè? ÇÏÈ
“Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan[1306]. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”. (Qs.Az-Zumar: 6)
[1306] tiga kegelapan itu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim.
Syaikh Ibnu Sa’di rahimahullahu menjelaskan penafsiran ayat ini, yaitu ‘Alloh menciptakan manusia thur ba’da thur (tahap demi tahap bentuknya), dan dalam keadaan dimana tidak ada satu tangan makhlukpun memegang (membantu) dan mata yang melihat (mengawasi), dan Dia-lah Alloh yang memelihara janin di dalam tempat yg sempit tersebut (kandungan ibu, uterus), “dalam tiga kegelapan” yaitu kegelapan perut [zhulmatul Bathni], kegelapan rahim [zhulmatur rahmi] kemudian kegelapan tembuni/ari-ari [zhulmatu masyimah].
Sains modern menjelaskan bahwa tahapan perkembangan embrio di dalam uterus memang terjadi secara bertahap, bentuk demi bentuk. Dan sains modern menjelaskan bahwa janin manusia berada pada tiga lapisan, yaitu :
1. Dinding Anterior Abdomen
2. Dinding Uterus
3. Membran Amniochorionic
Tiga bagian inilah yang dimaksud dengan tiga kegelapan. Dan penafsiran ayat di atas tidak menyelisihi penjelasan sains modern, dimana “tiga kegelapan” tersebut yang dijelaskan oleh Syaikh as-Sa’di adalah sama dengan yang di sebutkan di dalam sains modern. Zhulmatul Bathni (kegelapan perut) bisa diinterpretasikan sama dengan dinding anterior abdomen. Karena bathnun sama dengan abdomen. Zhulmatur rahmi (kegelapan rahim) sama dengan dinding uterus, karena rahim yang dimaksud adalah uterus. Zhulmatul Masyimah (kegelapan tembuni) identik dengan membran amnichorionic.
2.Pengertian dan Ciri-ciri Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi materiil, melainkan pada segi fungsional. Dari uraian ini perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif dari pada fungsi-fungsi. Atau bisa juga diartikan bahwa perkembangan adalah perubahan yang progesif dan kontinu dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Atau juga bisa diartikan sebagai perubahan yang dialami individuatau organisme menuju tingkat kedewasaan (maturation) yang berlangsung secara sistematis (saling mempengaruhi antara bagian organisme dan merupakan suatu kesatuan yang utuh, progesif (bersifat maju, meningkat, dan mendalam baik secara kuantitatif mauppun kualitatif) dan berkesinambungan (berurutan, bukan kebetulan) menyangkut fisik maupun psikis.
Secara umum ciri perkembangan adalah:
1. Terjadinya perubahan dalam spek fisik misalnya tinggi badan dan aspek psikis misalnya bertambah matangnya kemampuan berpikir.
2. Terjadinya perubahan proporsi menyangkut aspek fisik (proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya dan aspek psikis misalnya perubahan imajinasi menuju realitas
3. Menghilangnya tanda-tanda fisik dan psikis yang lama mmisalnya rambut halus dan gigi susu
4. Munculnya tanda-tanda fisik dan psikis yang baru misalnya pergantian gigi
3. Fase-fase Perkembangan
Fase perkembangan dapat diartikan sebagai penahapan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus. Pengaruh lingkungan baik keluarga atau dari luar berpotensi untuk mempengaruhi perkembangan individu dalam setiap fasenya, khusunya dalam membentuk kepribadiannya. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana caranya agar perubahan individu dalam setiap fase perkembangan bersifat progesif dan sistematis dengan membawa nilai yang positif sehingga dapat memudahkan individu dalam penyesuaian dirinya dengan lingkungannya. Adapun fase-fasenya akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Fase Pranatal
Fase prenatal (sebelum lahir) mulai masa konsepsi sampai proses kelahiran, yaitu sekitar 9 bulan sampai 280 hari. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an tentang penciptaan manusia dalam surat al-Mukminun 23:12-14 yaitu:
ô‰s)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß™ `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR ’Îû 9‘#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜ‘Z9$# Zps)n=tæ $uZø)n=y‚sù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=y‚sù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u‘$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ
Artinya: "Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik".

Ada enam ciri pokok pranatal. Periode ini adalah saat dimana sifat bawaan dan jenis kelamin individu ditentukan, dimana kondisi dalam tubuh ibu dapat mendorong perkembangan pranatal, dimana perkembangan secara proporsional lebih besar daripada periode lain ketika banyak bahaya fisik dan psikologis, dan saat orang-orang yang berarti membentuk sikap individu yang baru tercipta.Para ulama' menganjurkan kepada ibu hamil dan suaminya untuk mendekatkan diri pada Allah dengan membaca al-Qur'an, melakukan solat malam dan memohon agar anak yang dilahirkan menjadi anak saleh, sehat jasmani dan rohaninya.
Teks Quran menarik perhatian kita mengenai soal-soal teks reproduksi, yang dapat kita kelompokkan sebagai berikut :
a. Setitik cairan yang menyebabkan terjadinya pembuahan (fecondation) atau disebut juga nutfah sebagaimana di QS An-Nahl 16:14:
šYn=y{ z`»|¡SM}$# `ÏB 7pxÿõÜœR #sŒÎ*sù uqèd ÒO‹ÅÁyz ×ûüÎ7•B ÇÍÈ .
Artinya: "Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata."
Kemudian setitik sperma itu ditaruh di tempat yang tetap (Qarar) yang berarti alat kelamin.Sebagaimana didalam QS Al-Mu'minun 23:13:
§NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR ’Îû 9‘#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ
Artinya: "Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)."
Gen-gen yang terkandung di dalam sel reproduksi pria, akan bergabung dengan gen-gen sel reproduksi wanita, membentuk faktor-faktor yang akan menentukan berbagai kekhasan calon manusia itu. Oleh karena itu jenis kelamin seseorang, secara genetik, ditentukan pada saat terjadi pembuahan. QS 80:19 :
`ÏB >pxÿôÜœR ¼çms)n=yz ¼çnu‘£‰s)sù ÇÊÒÈ
Artinya: "Dari nutfah (setitik bagian), (Tuhan) khalaqa (membentuknya dalam proporsi yang tepat), lalu faqoddaroh (menentukannya)."
b. Kompleksitas cairan pembuahan Sebagaimana firman Allah QS.Al-Insan 76:2
$¯RÎ) $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB >pxÿôÜœR 8l$t±øBr& Ïm‹Î=tGö6¯R çm»oYù=yèyfsù $Jè‹ÏJy™ #·ŽÅÁt/ ÇËÈ
Artinya: " Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur (antara benih lelaki dengan perempuan yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat."
Cairan benih dan spermatozoa diproduksi oleh buah pelir dan untuk waktu tertentu disimpan di dalam suatu sistem saluran dan tandon. Ketika terjadi kontak seksual, spermatozoa itu berpindah dari tempat penyimpanannya ke saluran kencing, dan di tengah jalan, cairan tersebut diperkaya dengan keluaran-keluaran getah lebih lanjut. Keluaran-keluaran getah ini yang meskipun tidak mengandung unsur-unsur pembuah, akan memberikan suatu pengaruh besar atas pembuahan tersebut dengan membantu sperma untuk sampai ke tempat sel telur wanita yang akan dibuahi. Dengan demikian, cairan sperma itu merupakan suatu campuran : ia mengandung cairan benih dan berbagai keluaran getah tambahan.
c. Penanaman (nidasi) telur yang dibuahi dalam rahim
Telor yang sudah dibuahkan dalam "trompe" turun bersarang di dalam rongga rahim (cavum uteri). Inilah yang dinamakan "bersarangnya Telur". Al-Quran menamakan uterus tempat telor dibuahkan itu Rahim (kata jamaknya Arham). Sebagaimana di QS Al-Hajj 22: 5 :
4 ”É)çRur ’Îû ÏQ%tnö‘F{$# $tB âä!$t±nS #’n<Î) 9@y_r& ‘wK|¡•B
Artinya: "………… Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan…."
d. Perkembangan (evolusi) embrio.
Segera setelah berevolusi melampaui tahap yang dicirikan di dalam Al Quran oleh kata sederhana alaqah, embrio menurut Al Quran, melewati satu tahap selanjutnya yang di dalamnya secara harfiah tampak seperti daging yang digulung-gulung (mirip daging yang dikunyah), kemudian nampaklah tulang yang diselubungi dengan daging (yang segar). Sebagaimana kita ketahui ia terus tampak demikian sampai kira-kira hari kedua puluh ketika ia mulai secara bertahap mengambil bentuk manusia. Jaringan-jaringan tulang dan tulang-belulang mulai tampak dalam embrio itu yang secara berturutan diliputi oleh otot-otot. Sebagaimana dalam firman Allah QS Al-Mu'minun 23:14:
¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜ‘Z9$# Zps)n=tæ $uZø)n=y‚sù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=y‚sù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u‘$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ
Artinya: "Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik."
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan "saripati berasal dari tanah" sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna.
2. Fase Lahir
Fase lahir merupakan fase permulaan keberadaan sebagai individu dan bukan parasit dalam tubuh ibu. Masa ini dimulai dari kelahiran dan berakhir pada saat bayi menjelang dua minggu. Walaupun singkat masa bayi ini pada umumnya diibagi menjadi dua periode, yaitu periode portunate dan periode neonate. Periode partunate (mulai saaat kelahiran sampai lima belas dan tiga puluh menit sesudah kelahiran). Periode ini dimulai dari keluarnya janin dan berakhir setelah tali pusar dipotong dan diikat. Sampai hal ini selesai dilakukan, bayi masih merupakan pascamatur yaitu lingkungan diluar tubuh ibu. Dan periode neonate (dari pemotongan dan pengikatan tali pusar sampai hingga akhir minggu kedua dari kehidupan pascamatur) setelah itu bayi adalah individu yang terpisah. Penyesuaian bayi neonatal bersifat radikal sebelum melanjutkan kemajuan perkembangan mereka. Empat penyesuaian yang harus dilakukan bayi neonatal sebelum dapat melanjutkan perkembangan mereka yaitu 1) perubahan suhu (didalam rahim suhunya tetap 100 F sedangkan dirumah atau dirumah sakit berkisar 60-70 F), 2) bernafas (kalau tali pusar diputus, bayi mulai bernafas sendiri), 3) menghisap dan menelan. Refleks ini belum berkembang pada waktu lahir dan bayi seringkali tidak cukup memperoleh makanan yang diperlukan sehingga berat badannya menurun, dan 4) pembuangan (alat pembuangan mulai berfungsi setelah dilahirkan sebelumnya dilakukan melalui tali pusar)
Tindakan pada bayi neonatal adalah bersegera mengadzaninya di telinga kanan dan mengiqomati pada telingan kiri sebagai bukti kasih sayang dan menjaga kesucian agar terpelihara, dihawatirkan dewasanya nanti jika tidak diadzani dan diiqomati petumbuhan jiwanya akan terganggu dan cenderung mengikuti hawa nafsu. Dalam hadits Rasul Abu Rafi' berkata: " Saya melihat Rasulullah SAW beradzan di telinga Hasan bin Ali da waktu dia dilahirkan oleh Fatimah R.A". (H.R Abu dawud, At-Tarmidzi, hadits sahih). Setelah itu dianjurkan untuk diberi manisan dan mendo'akannya sebagai stimulir sebelum bayi menyusu pada ibunya. Dari Abu Musa berkata, " Saya mempunyai anak lalu saya mendatangi Nabi Saw dengan membawanya. Beliau memberinya nama dengan Ibrahim, selanjutnya beliau menggosok langit-langit mulut anakku dengan kurma (yang telah di mamahnya, mendoakan berkah untuknya, lalu menyerahkannya kepadaku," (HR Al-Bukhari, Muslim)
Hal lain yang perlu dilakukan adalah memberinya nama yang baik yang bertujuan agar si anak kelak jadi dewasa akan memahami kasih sayang orang tuanya. Sehingga menumbuhkan sikap percaya diri namun jika namanya jelek akan mempengaruhi jiwanya, dia menjadi minder atau bahkan menjadi orang yang pendendam bagi orang tua yang memberinya nama yang buruk. Rasulullah bersabda" Hai anak (yang wajib dipenuhi) oleh orang tuanya adalah memberinya nama yang baik dan memperbaiki adabnya (perilakunya)," (Al-Jami' Ash-Shaghir, hal 137).
Pada hari ketujuh diwajibkan bagi yang mampu untuk mengadakan akikah untuk si anak agar tertanam pada diri anak sikap kedermawanan kelak jika dia sudah dewasa, Rasul bersabda: "Setiap anak adalah tergadai dengan akikahnya(terhalang mendapat syafa'at anaknya)yang disembelih di hari ketujuh, diberi nama dan dicukur rambut kepalanya." (HR Abu Dawud, Al-Nasa'I dan Al-Tirmidzi). Selain akikah juga disunatkan menghitankan anak. Rasul bersabda: "Rasulullah berakikah untuk Hasan dan Husain dan menghitankan keduanya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)." (HR Baihaqi, hadits sahih). Diantara manfa'at khitan (pemotongan kulup zakar) adalah: 1) membersihkan lemak yang tertimbun didalamnya dan menghilangkan bau, 2) Jarang sekali orang yang berkhitan terkena penyakit kanker karena penyakit kanker itu terjadi pada orang yang kulubnya menyempit (tidak dikhitan), 3) Menjauhkan dari penyakit ngompol sebab tertekannya saraf yang sumbernya kulub menyempit, 4) Lebih banyak melakukan jimak dengan waktu yang lama. Dalam arti mampu menahan keluarnya sperma dan merasakan kenikmatan.
3. Fase 2 Tahun Pertama
Masa bayi berlangsung dua tahun pertama setelah periode yang baru lahir dua minggu. Masa bayi adalah dasar kehidupan yang sesungguhnya karena pada saat ini banyak pola perilaku dan ekspresi emosi terbentuk. Masa bayi adalah masa perubahan berjalan cepat dan masa berkurangnya ketergantungan pada orang lain seperti bayi duduk, dan mengerakkan barang. Ciri khas masa ini adalah anak memusatkan untuk mengenal lingkungannya, menguasai gerak fisik dan belajar berbicara. Penanaman tauhid sejak bayi mulai belajar bicara sangat penting untuk pembinaan ahlaknya kelak jika dia dewasa. Pada fase ini bayi diusahakan tetap disusui ibunya karena merupakan makanan penting, menjaga dari penyakit, dan berkembangnya kesehatan bayi. Kasih sayang ibu melalui penyusuan memiliki pengaruh besar dalam pembentukan pribadi anak, dimana dia merasa tentram dan aman tidak gelisah. Rasulullah digenapkan dua tahun dalam penyusuannya kepada Halimah Sa'diyah. Mengenai pentingnya menyusui telah disebutkan dalam al-Qur'an (QS. Al-Baqarah 2:233):
* ßNºt$Î!ºuqø9$#ur z`÷èÅÊöãƒ £`èdy‰»s9÷rr& Èû÷,s!öqym Èû÷ün=ÏB%x. ( ô`yJÏ9 yŠ#u‘r& br& ¨LÉêムsptã$|ʧ9$# .............
Artinya: "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.

Bentuk kasih sayang orangtua bisa berupa pelukan, ciuman, mengelus kepala, rambut, dan bermain bersama. Rasulullah bersabda: "Rasulullah biasa mengunjungi orang-orang anshar, beliau mengucapkan salam kepada anak-anak mereka dan mengelus kepala mere." (HR Nasa'i). Rasul juga menyuruh berbuat adil agar tidak terjadi kecemburuan dan kedengkian untuk melakukan hal negative sebagaimana Nabi Ya'kub yang sangat mencintai Nabi Yusuf sehingga timbul rasa dengki diantara saudaranya. Dalam hal bermain kecenderungan anak-anak adalah alami karena dengan bermain bisa menumbuhkan kecerdasan, kepekaan panca indra, motivasi, insting kejiwaan dan sosialnya. Imam Ghozali mengatakan: "Sesungguhnya melarang anak bermain dan memaksanya untuk selalu belajar sama artinya dengan membunuh hatinya, memusnahkan kecerdasannya, dan menyusahkan hidupnya sehingga ia berusaha terbebas dari hal itu". Hal ini sesuai dengan hadits Nabi "Membiasakan anak bermain akan menambah kecerdasan di masa dewasanya. (HR Al-Hakim Al-Turmudzi).
Sedemikian tinggi perhatian Rasul pada anak sebagaimana cerita waktu Nabi shlat Hasan dan Husain naik dipunggung beliau tapi Nabi mengisyaratkan pada sahabat untuk membiarkannya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasul bersabda: " Disaat aku mengejakan salat dan ingin memperlama shalat tiba-tiba aku mendengar tangis anak kecil, maka segera aku mempercepat salatku, karena aku mengetahui tentang apa yang menjadi kesedihan ibunya". (HR Al-Bukhari). Agar mental anak tumbuh sehat maka kasih sayang orang tua sangat diperlukan. Nabi Ibrahim adalah figure bapak yang memperhatikan anak dan mencintai anak tapi tidak sampai mengalahkan cintanya pada Allah terbukti ketika beliau diperintah untuk menyembelih putranya sendiri. Akibat kasih sayang berlebihan juga akan berpengaruh pada kepribadian anak. Anak menjadi manja, tidak mandiri, serakah karena ia berpikir kasih sayang orang tua adalah miliknya sendiri dan dalam bersosialisasi spun mengalmai gangguan seperti anak menjadi egois dan senang menyendiri.


4. Fase Kanak-Kanak
a. Fase Kanak-Kanak Awal
Masa kanak-kanak awal berlangusng dari dua sampai enam tahun, oleh para pendidik dinamakn sebagai usia pra-sekolah. Pada awal masa anak-anak dianggap sebagai saat belajar untuk mencapai berbagai ketrampilan karena anak senang mengulang dan senang mencoba hal-hal baru. Awal masa anak-anak ditandai oleh moralitas dengan paksaan, suatu masa dimana anak belajar mematuhi peraturan secara otomatis melalui hukuman dan pujian. Periode ini juga masa penegakan disiplin dengan cara yang berbeda, ada yang dikenakan disiplin otoriter, lemah dan demokratis. Ciri khas yang dimiliki fase ini adalah perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia social (belajar bergaul dengan orang lain). Imam Ghozali berkata:"hendaklah anak dilarang berbicara kotor, mengutuk, mencacci, dan mengucapkan perkataaan kotor lainnya. Yang demikian itu pasti disebabkan oleh pengaruh teman-temannya yang jelek".
b. Fase Kanak-Kanak Akhir
Akhir masa kanak-kanak yang berlangsung dari enam tahun sampai anak mencapai kematangan seksual yaitu sekitar sebelas tahun bagi anak perempuan dan dua belas bagi anak laki. Oleh pendidik dikatakan usia sekolah dasar. Pertumbuhan fisik yang lambat dipengaruhi gizi, imunisasi dan kesehatan. Ketrampilan pada akhir masa kanak-kanak digolongkan ke dalam empat golongan besar, ketrampilan menolong diri, menolong social, ketrampilan social dan ketrampilan bermain. Rasul bersabda, " Perintahkan anak kalian mengerjakan salat pada usia tujuh tahun, pukullah mereka karena meninggalkan salat pada usia sepuluh tahun dan pisahlah diantara mereka dalam tempat tidur".
Banyak hadits yang menganjurkan bagi orang tua untuk mengajari anaknya olahraga. Sebagaimana sabda Nabi "Ajarilah anak laki-laki kalian berenang dan memanah". (HR A-l-Baihaqi). Orang tua harus mengawasi perkembangan jiwa dan mental anak. Karena jika anak saleh maka orang tua yang memetik hasilnya. Hadits Rasul "Bila anak adam meninggal maka terputuslah amal kecuali ti perkara yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfa'at,dan anak saleh yang mendo'akannya", (HR Muslim). Hendaklah anak dibiasakan berpuasa akan tetapi dilakukan secara bertahap dan memberikan dorongan kepada anak untuk mengacu mereka agar mengerjakan puasa dan shalat karena pada usia ini anak cenderung meniru perbuatan orang tua. Berkaitan dengan pendidikan dan penanaman ahlak pada anak rasul bersabda: "Didiklah anak kalian, sesungguhnya mereka diciptakan menjadi generasi yang berbeda dengan generasi zaman kalian". (HR Tirmidzi)
5. Fase Puber (Remaja Awal)
Periode ini merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat meskipun masa puber merupakan periode singkat yang bertumpang tindih dengan masa akhir kanak-kanak dan permulaan masa remaja. Criteria yang paling sering digunakan untuk menentukan permulaan masa puber adalah haid yang pertama kali pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki.
Ada empat perubahan tubuh pada periode ini yaitu perubahan besarnya tubuh, perubahan proporsi tubuh, pertumbuhan ciri-ciri seks primer dan perkembangan cirri-ciri seks sekunder. Namun ciri utama dalam frase ini adalah bergejolaknya dorongan seksual. Oleh karena itu orangtua harus mengajarinya tentang pengawasan Allah pada dirinya. Pendekatan yang paling efektif untuk membantu anak dalam masa puber, selain memahami penciptaan alam semesta adalah mengajaknya mengerti kesulitan orangtua ketika melahirkan dan menyusuinya sebagiamana (QS Luqman 31:14):
$uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒy‰Ï9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çm•Bé& $·Z÷dur 4’n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur ’Îû Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# ’Í< y7÷ƒy‰Ï9ºuqÎ9ur ¥’n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ
Artinya:. "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
6. Fase Remaja
Masa remaja yang berlangsung saat individu menjadi matang secara seksual sampai usia delapan belas tahun usia kematangan yang resmi dibagi kedalam masa awal remaja, yang berlangsung sampai usia tujuh belas tahun, dan akhir masa remaja yang berlangsung sampai usia kematangan yang resmi. Perubahan yang penting dalam masa remaja meliputi meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, pola perilaku social yang lebih matang, dan nilai-nilai baru pemilihan teman dan pemimpin. Dalam hal cinta remaja menganggap bahwa rasa senang yang muncul dari salinig pandang. Hal ini karena kuatnya daya khayal dan asmara dalam dirinya. Remaja tidak memandang cinta yang hakiki sebagai suatu gerakan tanpa keinginan alami yang ada dalam diri manusia dan Islam tidak mengharamkan cinta, justru cinta didefinisikan remaja pada hal yang diharamkan. Rasul bersabda :" Aku belum pernah melihat kedua orang yang saling mencintai seperti nikah", (HR Ibnu Majah), sebab cinta seperti itu hanyalah kesia-siaan, membebani beban dan perasaan, menyiksa jiwa dan menyia-nyiakan waktu. Allah berfirman dalam (QS yusuf 12:32):
ôMs9$s% £`ä3Ï9ºx‹sù “Ï%©!$# ÓÍ_¨ZçFôJä9 ÏmŠÏù ( ô‰s)s9ur ¼çm›?Šurºu‘ `tã ¾ÏmÅ¡øÿ¯R zN|Á÷ètFó™$$sù ( ûÈõs9ur öN©9 ö@yèøÿtƒ !$tB ¼çnããB#uä £`uZyfó¡ãŠs9 $ZRqä3u‹s9ur z`ÏiB tûï̍Éó»¢Á9$# ÇÌËÈ
Artinya: "Wanita itu berkata: "Itulah Dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan Sesungguhnya aku telah menggoda Dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi Dia menolak. dan Sesungguhnya jika Dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya Dia akan dipenjarakan dan Dia akan Termasuk golongan orang-orang yang hina."
7. Fase Dewasa Dini (Awal)
Masa dewasa dini adalah masa pencarian kemantapan yaitu masa yang penuh masalah dan ketegangan emosional, perubahan nilai, dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Masa ini mulai umur delapan belas hingga lebih kurang empat puluh tahun. Perubahan yang terbesar adalah pengurangan keanekaragaman minat. Minat pribadi pada masa dewasa dini meliputi perhatian pada penampilan, pakaian dan tata rias, lambang kedewasaan, status, uang dan agama. Penyesuaian keluarga dan pekerjaan khususnya pada masa ini sangat sulit karena kebanyakan oeang dewasa muda dituntut membangun penyesuaian. Ketika menikah ia akan membatasi diri dan berusaha untuk mencari pasangan yang menurutnya sesuai dengan statusnya. Apabila ia seorang muslim tentunya dia akan berkomitmen mencari pasangan muslimah agar mampu menurunkan sifat baik kepada anaknya dan memberikan kebutuhan jasmani dan ruhani pada anak dan istrinya. Ketika dia memiliki kayakinan agama yang kuat maka dia akan melakukan aturan yang ada dalam agamanya. Rasul bersabda:"Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah engkau hidup selama-lamanya; dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok." (HR Muslim). Apabila dia mengalami hambatan psikologis atau ketidakcocokan suami istri dia akan bersabar dalam menghadapinya. Sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nisa' 4:19:
$yg•ƒr'¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw ‘@Ïts† öNä3s9 br& (#qèO̍s? uä!$|¡ÏiY9$# $\döx. ( Ÿwur £`èdqè=àÒ÷ès? (#qç7ydõ‹tGÏ9 ÇÙ÷èt7Î/ !$tB £`èdqßJçF÷s?#uä HwÎ) br& tûüÏ?ù'tƒ 7pt±Ås»xÿÎ/ 7poYÉit6•B 4 £`èdrçŽÅ°$tãur Å$rã÷èyJø9$$Î/ 4 bÎ*sù £`èdqßJçF÷d̍x. #Ó|¤yèsù br& (#qèdtõ3s? $\«ø‹x© Ÿ@yèøgs†ur ª!$# ÏmŠÏù #ZŽöyz #ZŽÏWŸ2 ÇÊÒÈ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."

Namun ketika dia jauh dari nilai religius maka yang terjadi adalah kehancuran dan dia akan selalu ketakutan dan kehilangan semua yang dia usahakan.
8. Fase Dewasa Madya
Usia dewasa akhir mulai umur 40 sampai 60 tahun dan ditandai dengan perubahan jasmani dan mental dan terjadi penurunan kekuatan fisik dan daya ingat. Ada sepuluh karakteristik yang terjadi pada usia ini yaitu 1) usia madya merupakan periode yang menakutkan, 2) masa ini merupakan usia transisi, 3) masa sters, 4) usia yang berbahaya, 5) masa berprestasi, 6) usia canggung, 7) masa evaluasi, 8) evaluasi dengan standar ganda, 9) masa sepi, 10) masa jenuh.
Kondisi yang mempengaruhi penyesuaian pekerjaaan pada usia ini adalah kepuasan kerja, sikap pasangan dan teman kerja, serta harapan pekerjaan. Sedangkan kondisi yang merumitkan penyesuaian diri terhadap pola keluarga pada usia ini adalah merasa tidak berguna lagi, merawat anggota keluarga berusia lanjut, dan hilangnya peran sebagai orangtua. Dan kondisi semacam ini tidak terjadi apabila setiap fase perkembangan yang dilalui individu sangat kondusif . Usia ini adalah usia kebijaksanaaan sehingga kelihatan individu cenderung untuk mendekatkan diri pada Allah sebagaimana dalam firman Allah (QS. Al-Qashash 28: 14):
$£Js9ur x÷n=t/ ¼çn£‰ä©r& #“uqtGó™$#ur çm»oY÷s?#uä $VJõ3ãm $VJù=Ïãur 4 šÏ9ºx‹x.ur “Ì“øgwU tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÍÈ
Artinya:"Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya Hikmah (kenabian) dan pengetahuan. dan Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."

Pada usia empat puluh nabi diutus oleh Allah kepada manusia sebagai pembawa berita dan pembawa berita ancaman. Karena itu pada umur ini tampak tanda yang menunjukkan kemana kecenderungan yang sebenarnya kearah kebaikan atau kejahatan. Imam Malik pernah berkata, " Kami dapati banyak orang mencari ilmu pengetahuan sampai umur empat puluh tahun setelah itu ia akan menyibukkan diri dengan mengamalkan apa yang telah mereka pelajari dan tidak ada lagi waktu untuk menoleh pada dunia."
9. Fase Dewasa Akhir (Lansia)
Usia enam puluhan biasanya dipandang sebagai garis pemisah antara usia madya dan usia lanjut. Ciri-ciri usia lanjut: 1) merupakan periode kemunduran, 2) perbedaan individual pada efek menua 3) usia tua dinilai dengan criteria yang berbeda. Tahapan ini oleh Rasulullah dinamakan masa "pergulatan maut" yaitu masa umur enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Masalah umum bagi usia lanjut adalah keadaan fisik lemah dan tak berdaya sebagaimana firman Allah dalam (QS Ar-Rum 30:54):
* ª!$# “Ï%©!$# Nä3s)n=s{ `ÏiB 7#÷è|Ê ¢OèO Ÿ@yèy_ .`ÏB ω÷èt/ 7#÷è|Ê Zo§qè% ¢OèO Ÿ@yèy_ .`ÏB ω÷èt/ ;o§qè% $Zÿ÷è|Ê Zpt7øŠx©ur 4 ß,è=øƒs† $tB âä!$t±o„ ( uqèdur ÞOŠÎ=yèø9$# ㍃ωs)ø9$# ÇÎÍÈ
Artinya: "Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa."

Adapun umur yang paling baik adalah umur yang dipergunakan untuk hal-hal positif yang sesuai dengan kemampuannya rasulullah bersabda: " Sebaik-baik kamu ialah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya". Dia harusnnya berpikir bahwa tidak akan hidup kekal di dunia, jika dia tidak berpikir seperti itu maka dalam jiwanya akan selalu diliputi perasaan was-was akan kehilangan apa yang telah dia usahakan selama hidupnya. Allah berfirman dalam surat Al-Munafiqun 63:9yaitu:
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw ö/ä3Îgù=è? öNä3ä9ºuqøBr& Iwur öNà2߉»s9÷rr& `tã ̍ò2ÏŒ «!$# 4 `tBur ö@yèøÿtƒ y7Ï9ºsŒ y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbrçŽÅ£»y‚ø9$#
Artinya: "9.Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi"

Dalam usia 63 Nabi dan para sahabat telah wafat hal ini menunjukkan bahwa tidak ada alasan untuk mengadukan bahwa umurnya pendek setelah Allah membiarkannya hidup hingga usia enam puluh. Sering mengingat mati mengandung faedah yang berkesan diantaranya qana'ah dan selalu membiasakan diri mengerjakan amal saleh yang menjadi bekal manusia diakhirat.



C. KESIMPULAN

A. Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, beliau mendefinisikan manusia sebagai berikut: “manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan”.
B. Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Secara umum ciri perkembangan adalah terjadinya perubahan dalam spek fisik misalnya tinggi badan dan aspek psikis misalnya bertambah matangnya kemampuan berpikir
C. Adapun fase-fasenya perkembangan manusia menurut Al-Qur'an adalah:
(1) Fase Pranatal (2) Fase Lahir (3) Fase 2 Tahun Pertama (4) Fase Kanak-Kanak (5) Fase Puber (Remaja Awal) (6) Fase Remaja (7) Fase Dewasa Dini (Awal) (8) Fase Dewasa Madya (9) Fase Dewasa Akhir (Lansia)

D. DAFTAR RUJUKAN

Darwis. Hude. 2006. Penjelajahan Religio-Psikologis Tentang Emosi Manusia di Dalam al-Qur'an. Jakarta: Erlangga.

http://www.f-adikusumo.staff.ugm.ac.id/artikel/manusia1.html
http://www.geocities.com/cahayaislam99/alquran/loi-repro.htm
http://forum.swaramuslim.net/muslim/threads%20khusus.php?id=43630_0_33_0_C
Mujib. Abdul. Dkk. 2005. Islam dan Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Hartati. Netty. 2004. Islam dan Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.











































BAB VIII
PERKEMBANGAN ANAK PADA USIA SEKOLAH DASAR

A. PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Suatu perkembangan akan melalui proses. Ada beberapa teori yang perlu kita ketahui kebenarannya atau kita renungkan demi perkembangan psikologi anak. Menurut Piaget dari fase ke fase seseorang akan mengalami perbedaan tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi yang terpenting yaitu terdapat perbedaan kualitatif.
Perkembangan individu dari lahir hingga dewasa dibagi empat fase yaitu, masa pra sekolah, masa sekolah usia dasar, masa sekolah menengah, dan masa mahasiswa. Tiap fase memiliki kriteria atau karakteristik sendiri-sendiri. Sehingga apabila dijelaskan semuanya, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karenanya, dari beberapa fase tersebut, pemakalah hanya akan membahas satu fase saja yaitu fase perkembangan anak pada usia sekolah dasar. Dimana pada tahap ini anak sudah mulai berkembang dari berbagai seginya.
Pada masa perkembangan anak diharapkan dapat melakukan tugas-tugas tertentu sesuai dengan tingkat perkembangannya. Agar dapat diperoleh gambaran menyeluruh tentang perkembanagan anak usia sekolah dasar, maka kami akan mengemukakannya dalam makalah ini ditinjau dari beberapa segi perkembangan.

2. Rumusan masalah:
1. Apa saja kriteria-kriteria yang harus dipenuhi saat anak akan masuk sekolah dasar?
2. Bagaimana gambaran perekembangan anak usia sekolah dasar jika ditinjau dari segi perkembangan?
3. Apa saja teori-teori pengamatan anak usia sekolah dasar?
4. Apa saja tugas-tugas perkembangan anak usia sekolah dasar?
3. Tujuan :
1. Untuk mengetahui kriteria-kriteria yang harus dipenuhi saat anak akan masuk sekolah dasar.
2. Untuk mengetahui dan memahami gamabaran perkembangan anak yang ditinjau dari segi perkembangan.
3. Untuk mengetahui teori-teori pengamatan anak usai sekolah dasar.
4. Untuk mengetahui tugas-tugas perkembangan anak usia sekolah dasar.


B. PEMBAHASAN
1. Kriteria dan Perkembangan Jiwa Anak Sekolah Dasar
Sejak lama kriteria bagi anak untuk dapat diterima di sekolah dasar adalah kematangan. Sedangkan bagi indonesia kriteria umur memegang peranan penting. Anak baru saja bisa diterima di sekolah dasar apabila ia sudah berusia tujuh tahun. Kriteria umur ini mencakup kriteria lain yang bisa juga berhubungan dengan kematangan yaitu :
1. Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan anak-anak yang lainnya, yaitu anak tidak boleh masih bergantung pada ibunya, melainkan harus mampu menyesuaikan diri dengan teman-teman sebayanya.
2. Anak harus dapat mengamati secara analisis. Ia sudah harus dapat mengenal bagian-bagian dari keseluruhan dan dapat kembali menyatukan bagian-bagian tersebut.
3. Anak secara jasmaniah harus sudah mencapai bentuk anak sekolah.
Menurut metode yang baru penerimaan anak masuk sekolah tidak terlalu didasarkan pada tingkat kematangan anak, melainkan didasarkan pada persesuaian antara kemampuan yang ada pada anak dengan kriteria yang ditentukan untuk penerimaan di sekolah.
Ø Perkembangan Jiwa Anak.
Pada periode ini dimulai pada umur 6 tahun sampai pada umur 13 tahun. Pada periode ini juga disebut sebagai periode intelektual, karena pada periode ini seorang anak memiliki perkembangan dalam hal berfikir sangat pesat. Semua bagian dari anak baik itu fisik maupun psikis juga mulai berkembang dengan seimbang, Sebab pada masa ini, anak sudah mulai mengenal lingkungan sekitar dengan obyek-obyek lain yang berada di luar dirinya.
Pada masa ini juga, seorang anak akan memiliki keinginan yang sangat besar terhadap sesuatu yang baru, dia akan mencoba sesuatu yang cocok untuk dirinya. Walaupun Sesuatu itu dirasa buruk oleh orang lain, dia tidak mau tahu, dia hanya asalkan hal tersebut sesuai dengan dirinya.
Adapun perkembangan jiwa anak pada masa sekolah ini yang menonjol, yaitu:
1. Adanya keinginan yang cukup tinggi, terutama yang menyangkut perkembangan intelektual anak.
2. Energi yang melimpah, sehingga kadang kala anak itu tidak memperdulikan dirinya telah lelah atau capek.
3. Perasaan kesosialan yang berkembang cepat, sehingga anak menyukai untuk lebih mematuhi grup teman sebayanya daripada orang tuanya.
4. Sudah dapat berfikir secara abstrak, sehingga memungkinkan bagi anak untuk menerima hal-hal yang berupa teori-teori atau norma-norma tertentu.
5. Minat istimewanya tertuju kepada kegemaran dirinya, yang mengakibatkan anak melalaikan tugas belajarnya.
6. Perasaan marah dan ingin bertengkar, perasaan ini timbul karena kurangnya perhatian terhadap dirinya.
Pada saat ini anak tidak lagi banyak dikuasai oleh dorongan-dorongan yang bersifat intern dari dalam dirinya, dalam hal melakukan perbuatan dan berfikir. Akan tetapi lebih banyak dirangsang oleh stimulus-stimulus yang berasal dari luar. Untuk melakukan kegitan tersebut, maka anak memerlukan banyak informasi. Karenanya dia selalu haus bertanya, meminta bimbingan, menuntut pengajaran serta pendidikan.
Pada Masa Usia Sekolah Dasar ini dibagi menjadi 2 kelas, yaitu:
1. Masa kelas-kelas rendah (usia 6-9 tahun)
Sifat khas pada masa ini adalah :
· Ada korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah.
· Sikap tunduk pada peraturan permainan yang tradisional.
· Ada kecenderungan memuji diri sendiri.
· Suka membandinkan dirinya dengan anak lain, jika menguntungkan.
· Kalau tidak dapat menyelesaaikan suatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting.
· Menghendaki nilai rapor yang baik, tanpa mengingat apakah dirinya pantas diberi nilai baik atau tidak.
2. Masa kelas-kelas tinggi (usia 10-12/13 tahun)
Sifat khas pada masa ini adalah :
· Minat kepada kehidupan praktis kongkret kehidupan sehari-hari, cenderung membandingkan pekerjaan yang praktis.
· Amat realistis, ingin tahu, ingin belajar.
· Menjelang akhir periode ini cenderung ada minat untuk mempelajari pelajaran-pelajaran khusus.
· Sampai usia 11 tahun, anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugasnya. Setelahnya anak cenderung menyelesaikan tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikannya sendiri.
· Anak memandang nilai rapor sebagai ukuran yang tepat terhadap pestasi sekolah.
· Dalam permainan biasanya anak tidak terikat pada peraturan permainan tradisional, mereka cenderung membuat peratuaran sendiri(DEDIKBUD, 1982/1983) .

2. Beberapa Segi Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar
· Perkembangan Motorik
Dengan bertambahnya berat badan dan kekuatan badan maka perkembangan motorik anak menjadi lebih halus dan lebih terkeoordinasi dibandingkan denganawal masa anak-anak. Sejak usia enam tahun koordinasi antara mata dan tangan (visiomotorik) yang dibutuhkan menbidik, menyepak, melempar dan menangkap juga berkembang. Untuk memperhalus keterampilan motorik mereka, anak-anak terus melakukan berbagai aktifitas fisik.
Aktifitas fisik ini dilakukan dalam bentuk permainan yang kadang-kadang bersifat informal, permainannya diatur sendiri okeh anak-anak seperti permainan petak umpet. Disamping itu, anak-anak juga melibatkan diri dalam aktifitas permainan olahraga yang bersifat formal, seperti olahraga senam, berenang dan sebagainya.
· Perkembangan Kognitif
Dalam keadaan normal, pikiran anak usia sekolah berkembang secara berangsur-angsur. Kalau pada masa sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif, maka daya pikir anak pada masa usia sekolah dasar berkembang kearah berpikir konkrit, rasional dan objektif.
Menurut teori kognitif piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar disebut pemikiran operasional konkrit (concrete operational thought). Menurut piaget, operasi adalah hubungan-hubungan logis di antara konsep-konsep atau skema-skema. Sedangkan operasi konkrit adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek–objek dan peristiwa-peristiwa nyata atau konkrit dapat diukur.
Anak-anak pada masa konkrit operasional ini telah mampu menyadari konservasi, yakni kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda secara serempak. hal ini adalah karena pada masa ini anak telah mengembangkan tiga macam proses, yaitu:
1. Nagasi
Pada masa pra-operasional anak hanya melihat keadaan permulaan dan akhir dari deretan benda yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada akhirnya keadaanya menjadi tidak sama. Tetapi, pada masa konkrit opeerasional, anak memahami proses apa yang terjadi diantara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan anatara keduanya.
2. Hubungan Timbal Balik (Resiprokasi)
Kerika anak melihat bagaimana deretan dari benda-benda itu diubah, anak irtu mengetahui bahwa deretan benda-benda bertambah panjang tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dengan deretan lain. Karena anak mengetahui hubungan timbak balik antara panjang dan kurang rapat atau sebaliknya kurang panjang tetapi lebih rapat, maka anak tahu pula bahwa jumlah benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama.
3. Identitas
Anka pada masa konkrit oparasional sudah bisa mengenal satu persatu benda-benda yang ada pada deretan-deretan itu. Anak bisa menghitung seningga meskipun benda-benda dipindahkan, anak dapat mengetahui bahwa jumlahnya akan tetap sama (gunarsa, 1990).
· Perkembangan Kreativitas
Menurut utami munandar (1977) menyebutkan beberapa ciri-ciri kepribadian kreatif yang diharapkan oleh bangsa indonesia:
1. Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
2. Mempunyai inisiatif.
3. Mempunyai minat yang luas.
4. Mempunyai kebebasan dalam berpikir.
5. Bersifat ingin tahu.
6. Selalu ingin mendaptkan penglaman-pengalaman baru.
7. Mempunyai kepercayaan diri yang kuat.
8. Penuh semangat.
9. Berani mengambil resiko.
10. Berani mengemukakan pendapat dan memiliki keyakinan (Munandar, 1999 ).
Mekipun demikian dalam kenyataanya guru tidak dapat mengajarkan kreativitas, melainkan hanya dapat memungkinkan munculnya kreativitas, memupuknya, dan merangsang pertumbuhannya. Untuk itu, Utami Munandar (1991), menyarankan bebrapa hal mengajar yang perlu dikembangkan oleh guru dalam mendorong kreativitas peserta didiknya, yaitu:
1. Belajar adalah sangat penting dan sangat mnyenangkan.
2. Anak patut dihargai dan disayangi sebagai pribadi yang unik.
3. Anak hendaknya menjadi pelajar yang aktif.
4. Anak perlu merasa nyaman dan dirangsang di dalam kelas, tanpa adanya tekanan dan ketegangan.
5. Anak harus mempunyai rasa memiliki di dalam kelas.
6. Guru hendaknyan berperan sebagai narasumber, bukan polisi atau dewa.
7. Anak perlu merasa bebas untuk mendiskusikan masalah secara terbuka, baik dengan guru maupun teman sebaya.
8. Kerjasama selalu lebih dari kompetisi.
9. Pengalaman belajar hendaknya dekat dengan pengalaman dari dunia nyata.
· Perkembangan IQ (Inteligensi Quantum)
Inteligensi merupakan sebuah konsep abstrak yang sulit didefinisikan secara memuaskan, meskipun demikian sekian banyak definisi tentang inteligensi yang dirumuskan oleh para ahli, secara umum dapat dimasukkan kedalam salah satu dari tiga klasifikasi:
1) Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, beradaptasi dengan situasi-siatuasi baru atau menghadapi situasi-situasi yang sangat beragam.
2) Kemampuan untuk belajar atau kapasitas untuk menerima pendidikan.
3) Kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menggunakan konsep-konsep abstrak dan menggunakan secara luas symbol-simbol dan kosep-konsep (Phares, 1988)
Sternberg menyatakan bahwa inteligensi memiliki tiga bidang, yaitu:
1) Intelegensi Komponensial
Berhubungan dengan komponen berpikir, yang mempunyai unsur-unsur dasar dari model pemrosesan informasi. Kompponen-komponen ini meliputi keterampilan memperoleh, memelihara atau menyimpan informasi.
2) Inteligensi Eksperiensial
Difokuskan pada bagaimana pengalaman seseorang sebelum mempengaruhi inteligensi dan bagaimana pengalaman itu difokuskan pada pemecahan masalah dalam berbagai situasi.
3) Inteligensi Kontekstual
Difokusan pada pertimbangan bagaimana orang biasa berhasil dalam menghadapi tuntuan lingkungannya sehari-hari, bagaimana ia keluar dari kesulitan atau bagaimana ia bergaul dengan orang lain.
· Perkembangan Fantasi
Walaupun anak sudah mengenal dunia luar dan sudah berinteraksi dengan berbagai obyek di luar dirinya. Akan tetapi fantasi seorang anak akan hilang, fantasi itu akan tetap hidup sampai seorang anak benar-benar bisa berfikir rasional. Fantasi ini akan timbul ketika anak membaca buku-buku cerita, mendengarkan cerita dan lainnya.
Ada Beberapa Masa Fantasi:
a. Masa dongeng: 4 sampai 8 tahun. Masa ini bertepatan dengan perkembangan anak kearah kenyataan. Anak masih suka mendengarkan cerita-cerita tentang raja, pemburu dan lainnya.
b. Masa Robinson Crusoe: 8 sampai 12 tahun. Pada masa ini anak sudah mulai tidak menyukai cerita-cerita yang tidak masuk akal. Sekarang lebih menyukai cerita yang benar-benar terjadi, cerita yang masuk akal, seperti cerita perjalanan.
c. Masa pahlawan: 12 sampai 15 tahun. Anak lebih suka membaca buku tentang. perjuangan.
Dalam masa fantasi, kadang-kadang seorang anak terpengaruh dengan apa yang ia fantasikan. Fantasi memiliki manfaat jika seorang anak menggunakannya hanya sebagai hiburan, selain itu fantasi juga bisa digunakan sebagai tempat belajar, seperti mencontah perbuatan baik dari tokoh yang dibacanya.
Tidak selamanya fantasi berdampak positif terhadap anak. Terkadang anak akan tenggelam dalam dunia fantasinya, sehingga ia suka melamun. Selain itu, ia akan menjadi orang penakut dalam menghadapi kenyataan, menjadi seorang pembual.
· Kehidupan Perasaan
Pada masa ini, perasaan yang paling besar dan yang paling menonjol adalah perasaan intelektual. Teka-teki silang, soal matematika dan perhitungan merupakan daya tarik yang besar bagi seorang anak. Sebaliknya, kehidupan emosionalnya belum begitu berkembang. Kriteria baik dan buruk, indah dan jelek, sopan dan tidak, semua nilai itu diperoleh dari orang tua atau orang dewasa.
Dengan menghilangnya cerita-cerita dongeng fantasi, maka berkurang pula gambaran fantasi tentang surga dan neraka, sehingga perasaan religius dalam diri anakpun mulai menipis. Hal ini, bukan berarti bahwa perasaan religius anak hilang sama sekali, akan tetapi tidak menoojol, perasaan ini akan timbul secara tiba-tiba.
Karena itu, hendaknya dalam mendidik anak dalam masalah agama pada usia 6 sampai 12 tahun tidak dilakukan dengan kekerasan, ancaman-ancaman ataupun kekerasan.
Selain perasaan tadi, masih ada beberapa perasaan yang berbentuk emosi yang ikut berkembang pula pada masa ini. Perasaan-persaan ini memerlukan perlakuan yang kusus dari orang sekitar agar tidak bersifat merusak.
1. Marah
Dalam masa ini terdapat lebih banyak keadaan yang dapat menimbulkan rasa marah dari pada masa sebelumnya.
Hal ini, disebabkan oleh dia lebih besar keinginannya akan kebebasan diri. Jika ada penghalang untuk mendapatkan hal tersebut, maka rasa marah akan timbul.
Ø Hal-hal yang dapat menimbulkan rasa marah antara lain:
· Senanti dikritik
· Diganggu ketika mengerjakan sesuatu
· Terus- menerus diberi nasehat
· Tidak tercapai tujuan yang diinginkan
Ø Dalam melampiaskan marahnya, anak memiiki cara, atara lain:
· Tidak mau berbicara
· Menentang
· Mencari sebab untuk bertengkar
2. Takut
Perasaan takut dan cemas yang dialami oleh seorang anak merupakan suatu unsur utama dari kehidupan, dan merupakan naluri yang memperingatkan manusia akan adanya bahaya, agar manusia bersiap sedia untuk melindungi dan mempertahankan diri dari suatu ancaman.
Biasanya rasa takut yang timbul dari seorang anak, dikarenakan dia belum mengetahui tentang sesuatu itu, yang samara-samar dan rahasia. Perasaan ini juga timbul karena fantasi anak yang masih tinggi, sehingga dia sering membayangkan hal-hal yang aneh.
Untuk mengatasi perasaan-perasaan takut pada anak, diperlukan sikap orang dewasa yang tenang dan bijaksana. Tuntunan dan pemberian keyakinan akan tuangan kasih sayang orang tua akan menguatkan unsure kepercayaan pada diri anak. Merupakan kekeliruan jika orang tua bertindak keras, serta menggunakan ancaman dan paksaan untuk menghilangkan rasa takut pada diri anak. Sebab sekalipun seorang anak itu kelihatan diam, tapi sebenarnya dia masih belum bisa menghilangkan rasa takutnya.
Orang tua harus bisa memberikan penjelasan yang gamblang terhadap anak mengenai suatu benda atau peristiwa, agar anak mendapatkan wawasan yang benar dan mendalam.

3. Macam-Macam Teori Pengamatan Anak :
1. Menurut Meuman
Meuman membagi pengamatan ke dalam tiga masa, yaitu:
1) Masa Sintesis Fantasi: masa ini terjadi pada umur 7 sampai dengan 8 tahun. Dalam masa ini pengamatan anak masih global, bagian-bagiannya belum tampak jelas. Bagian-bagian yang yang belum jelas itu ditambahkan (Synthese = Penggabungan) dengan fantasi anak tersebut.
2) Masa Analisis: dalam masa ini anak sudah dapat membedakan bagian-bagian, tetapi masih belum bisa merangkai dan menghubungkan dengan bagian lainnya, sehingga menjadi keseluruannya. Sekarang fantasi anak mulai berkurang, dan diganti dengan sikap yang lebih berfikir rasional. Masa ini terjadi pada umur 8 sampai dengan 12 tahun.
3) Masa Logis: pada tahun 12 tahun ke atas. Anak mulai memahami benda-benda dan peristiwa. Tumbuh wawasan akal budinya. Bagian-bagian sekarang mulai dikaitkan dengan hubungan totalitasnya dengan pikiran yang logis.
2. Menurut William Stern
Stern membagi pengamatan menjadi empat masa, yaitu:
1) Masa Mengenal Benda: 0 sampai 8 tahun. Di samping mendapatkan gambaran total yang samara-samar, ia telah dapat membedakan benda tertentu, seperti manusia atau hewan.
2) Masa Mengenal Perbuatan: Pada masa ini anak menaruh minat besar terhadap pekerjaan dan perbuatan orang dewasa, serta tingkah laku binatang. Terjadi pada umur 8 sampai 9 tahun.
3) Masa Mengenal Hubungan: 9 sampai 10 tahun. Anak mulai mengenal hubungan antara waktu, tempat, dan sebab akibat.
4) Masa Mengenal Sifat: 10 tahun keatas. Anak mulai menganalisis hasil pengamatan sehingga ia mengenal sifat-sifat benda, manusia dan hewan.
3. Menurut Oswald Kroh
Oswald membagi pengamatan kedalam empat tahap, yaitu:
1) Sintesis Fantasi: 7 sampai 8 tahun. Pengamatan masih dipengaruhi oleh fantasinya. Kenyataan dicampurbaurkan dengan fantasi.
2) Masa Realisme Naïf: 8 sampai 10 tahun. Semua yang diamati diterima begitu saja tanpa ada kecaman atau kritik. Masa ini juga disebut “masa pengumpulan ilmu pengetahuan.
3) Masa Realisme Kritis: 10 sampai 12 tahun. Dalam masa ini anak mulai berfikir kritis. Ia mulai mencapai tingkat berfikir abstrak.
4) Masa Subyektif: 12 sampai 14 tahun. Anak berpaling dari dunianya sendiri. Perhatiannya ditujukan kepada dirinya sendiri. Hidupnya mulai gelisah, ragu-ragu, timbul rasa malu, hidup perasaannya tidak harmonis.



4. Tugas-tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar
Pada setiap masa perkembangan manusia ada tugas-tugas tertentu yang oleh lingkungan social atau masyarakat diharapkan dapat dilaksanakan oleh individu. Tugas-tugas ini disebut tugas perkembangan. Agar dapat diterima oleh kelompok sosialnya seorang anak harus mampu melakukan tugas-tugas perkembangan yang oleh masyarakatnya diharapkan dapat dilaksanakan pada masa perkembangannya tersebut, dan agar tidak mengalami kesulitan terhadap tugas-tugas pada masa perkembangan berikutnya.
Tugas-tugas perkembangan anak usia sekolah dasar adalah :
1. Mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung
2. Mengembangkan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehari-hari
3. Belajar bergaul dengan kelompok sebaya
4. Belajar bekerja dengan kelompok sebaya
5. Mempelajari peran jenis kelamin yang sesuai
6. Belajar menjadi pribadi yang mandiri
7. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan
8. Mengembangkan hati nurani dan system nilai sebagai pedoman perilaku
9. Mengembangkan sikap terhadap kelompok dan lembaga-lembaga social
10. Mengembangkan konsep diri yang sehat
Pada masa ini, anak diharapkan mempelajari beberapa keterampilan sebagai berikut:
1) Keterampilan Membantu Diri Sendiri, seperti kemempuan anak untuk bisa makan, memakai pakaian sendiri, dan mandi sendiri tanpa memerlukan perhatian dari orang tua.
2) Keterampilan Sosial, diharapkan seorang anak bisa membantu orang lain, minimal ia sudah sanggup untuk membersihkan tempat tidurnya sendiri, membersihkan rumah, dan membantu berbelanja. Di sekolah ia bisa membantu guru untuk menghapus papan tulis, membagikan buku, membersihkan kelas, dan sebagainya.
3) Keterampilan Sekolah, seperti menulis, menggambar, memasak, menjahit, dan sebagainya.
4) Keterampilan Bermain, seperti sepak bola, naik sepeda, berenang, dan sebagainya.
Membina anak agar dapat melakukan tugas-tugas perkembangannya adalah menjadi tanggungjawab orang tua atau pendidik. Bahkan peranan teman sebaya dalam hal ini juga ada. Oleh karena itu, orang tua harus membantu untuk memupuk dasar-dasar agar anak mampu bergaul dengan anak sebayanya.


C. KESIMPULAN
Dari uraian yang kami paparkan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
· Ada beberapa criteria yang harus dipenuhi saat anak akan masuk sekolah dasar:
1. Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan anak-anak yang lainnya, yaitu anak tidak boleh masih bergantung pada ibunya
2. Anak harus dapat mengamati secara analisis.
3. Anak secara jasmaniah harus sudah mencapai bentuk anak sekolah
· Gambaran perekembangan anak usia sekolah dasar ditinjau dari segi perkembangan:
1. Perkembangan motorik: Dengan bertambahnya berat badan dan kekuatan badan maka perkembangan motorik anak menjadi lebih halus dan lebih terkeoordinasi dibandingkan denganawal masa anak-anak.
2. Perkembangan kognitif: Dalam keadaan normal, pikiran anak usia sekolah berkembang secara berangsur-angsur. Kalau pada masa sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif, maka daya pikir anak pada masa usia sekolah dasar berkembang kearah berpikir konkrit, rasional dan objektif.
3. Perkembangan fantasi: Walaupun anak sudah mengenal dunia luar dan sudah berinteraksi dengan berbagai obyek di luar dirinya. Akan tetapi fantasi seorang anak akan hilang, fantasi itu akan tetap hidup sampai seorang anak benar-benar bisa berfikir rasional. Fantasi ini akan timbul ketika anak membaca buku-buku cerita, mendengarkan cerita dan lainnya.
4. Perkembangan inteligensi: menurut sternberg, bahwa inteligensi memiliki tiga bidang, yaitu: inteligensi komponensial, inteligensieksperensial, dan inteligensi kontekstual.
· Macam-Macam Teori Pengamatan Anak :
a. Menurut Meuman
Meuman membagi pengamatan ke dalam tiga masa, yaitu: Masa Sintesis Fantasi, Masa Analisis, dan Masa Logis.
b. Menurut William Stern
Stern membagi pengamatan menjadi empat masa, yaitu: Masa Mengenal Benda (0-8 tahun), Masa Mengenal Perbuatan (8-9 tahun), Masa Mengenal Hubungan (9-10 tahun), Masa Mengenal Sifat (10 tahun keatas).
c. Menurut Oswald Kroh
Oswald membagi pengamatan kedalam empat tahap, yaitu: Sintesis Fantasi: (7-8 tahun), Masa Realisme Naïf ( 8-10 tahun), Masa Realisme Kritis (10-12 tahun), dan Masa Subyektif (12-14 tahun).
· Pada masa usia sekolah dasar, anak memiliki beberapa tugas dalam perkembangannya yang menjadi tanggungjawab orang tua, pendidik bahkan teman sebayanya agar dapat membinanya dalam pelaksanannya. Diantaranya Tugas-tugas perkembangan anak usia sekolah dasar adalah :
a. Mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung
b. Mengembangkan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehari-hari
c. Belajar bergaul dengan kelompok sebaya
d. Belajar bekerja dengan kelompok sebaya
e. Mempelajari peran jenis kelamin yang sesuai
f. Belajar menjadi pribadi yang mandiri
g. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan
h. Mengembangkan hati nurani dan system nilai sebagai pedoman perilaku
i. Mengembangkan sikap terhadap kelompok dan lembaga-lembaga social
j. Mengembangkan konsep diri yang sehat
D. DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, Munawar Sholeh.1991. “ Psikologi Perkembangan”. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hartono, Kartini. 1995. “Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan)”. Bandung: CV Mandar Maju.
Monks, F.J., Knoers, Siti Rahayu Haditono. 1996. “Psikologi Perkembangan–Pengantar dalam Berbagai Bagiannya”. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Munandar, Utami. 1985. “Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah – Petunjuk Bagi Para Guru dan Orang Tua”. Jakarta : PT GRAMEDIA
Soesilowindradini. “Psikologi Perkembangan (masa remaja)”. Surabaya: Usaha Nasional



















BAB IX
PERKEMBANGAN USIA SEKOLAH MENENGAH
(MASA REMAJA)

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Secara sadar, pada akhir masa anak-anak, seorang individu akan berupaya untuk bersikap dan berperilaku dewasa dan intelek. Hal ini merupakan “tugas” yang cukup berat bagi para remaja untuk lebih menuntaskan tugas-tugas perkembangannya, sehubungan dengan semakin luas dan kompleksnya kondisi kehidupan yang harus dihadapi dan dijalaninya. Mereka tidak ingin dijuluki sebagai anak-anak, melainkan ingin dihargai dan diakui sebagai orang yang sudah dewasa. Mereka menjalani tugas untuk mempersiapkan diri untuk dapat hidup lebih dewasa, dalam arti mampu menghadapi dan memecahkan masalah, bertindak etis dan normative serta bertenggung jawab moral. Oleh karena itu, tugas perkembangan pada masa remaja ini dipusatkan pada upaya untuk menanggulangi sikap dan pola kekanak-kanakan.
Untuk memahami jenis tugas perkembangan remaja, perlu dipahami hal-hal yang harus dilakukan oleh orang dewasa. Dan dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal yang berhubungan dengan perkembangan usia sekolah menengah.
2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tafsiran tokoh-tokoh tentang remaja?
2. Apa pengertian remaja ditinjau dari berbagai sudut pandang?
3. Apa tugas-tugas perkembangan peserta didik usia Sekolah Menengah (remaja)?

3. Tujuan
1. Memahami tafisran tokoh-tokoh tentang remaja
2. Memahami pengertian remaja jika ditinjau dari berbagai sudut pandang
3. Mengetahui tugas-tugas perkembangan peserta didik uasia Sekolah Menengah (remaja)
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Perkembangan
Istilah bahasa asingnya perkembangan adalah development, merupakan rangkaian perubahan-perubahan yang bersifat progresif serta teratur dari fungsi-fungsi, baik fungsi jasmaniah, maupun rohaniah, sebagai akibat pengaruh kerjasama antara kematangan (maturation) dan pelajaran (learning). Sebagai contoh perkembangan kemampuan berbicara, aadalah suatu fungsi jasmaniah dan rohaniah. Agar terwujud sebagai fungsi yaitu perkembangan, maka harus memenuhi dua factor yang bekerja sama, yaitu telah mengalami kematangan dan kemudian mengalami pelajaran berbicara.
Kematangan merupakan proses serta saat tercapainya batas yang memadai bagi orang ataupun bagi fungsi tertentu di dalam melaksanakan tugasnya dan oleh karena itu merupakan juga saat yang tepat untuk mendapatkan latihan dan pelajaran. Saat inilah yang disebut dengan masa peka.
Kematangan jasmaniah misalnya pita suaranya, otot-ototnya yang mendukung diproduksinya suara-suara, tenggorokan dan sebagainya. Sedangkan kematangan rohaniah misalnya kematangan dalama koordinasi terhadap organ jasmaniah, kemempuan meniru suara dan sebagainya.
2. Prinsip Perkembangan
1. Perkembangan fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah berlangsung dalam proses satu kesatuan yang menyeluruh (integral)
2. Setiap individu mempunyai kecepatan yang berbeda-beda dalam perkembangannya
3. Perkembangan seorang individu, baik keseluruhan, maupun setiap aspeknya, kelangsungannya tidak konstan, melainkan berirama
4. Proses perkembangan itu mengikuti pola tertentu
5. Proses perkembangan berlangsung secara continuitas
6. Antara aspek perkembangan yang satu dengan yang lain salaing berkorelasi secara bermakna
7. Perkembangan berlangsung dari pola-pola yang bersifat umum menuju khusus

3. Hukum-hukum Pertumbuhan dan Perkembangan
1. Hukum Cephalocoundal
Hokum ini menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Bagian-bagian pada kepala tumbuh terlebih dahulu daripada bagian-bagian lain. Hal ini terlihat pada pertumbuhan prenatal pada janin.seorang bayi yang baru dilahirkan mempunyai bagian-bagian dan alat-lat pada kepala yang lebih “matang” daripada bagian-bagian tubuh lainnya. Baik pada masa perkembangan prenatal, neonatal, maupun anak-anak, proporsi bagian kepala dengan rangka bagian tubuhnya mula-mula kecil dan semakin lama semakin besar.
2. Hukum Proximodistal
Hokum ini mengatakan bahwa pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Alalt-alat tubuh yang terdapat di pusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ada di tepi. Anak-anak masih bisa melangsungkan kehidupannya bila terjadi kelainan pada anggota gerak. Tapi, bila terjadi kelainan pada jantungatau ginjal bisa berakibat fatal.
Ditinjau dari sudut biologis maupun anatomis banyak lagi ketentuan yang berhubungan dengan pertumbuhan struktur dan fungsi anggota tubuh. Misalnya dalam hal kematangan, anggota-anggota tubuh akan tumbuh, berkembang, dan berfungsi tidak sama antara satu dan lainnya. Hal ini terlihat pada kelenjar kelamin, yang mulai berfungsi matang ketika seseorang memasuki usia remaja.
3. Perkembangan Terjadi dari Umum ke Khusus
Pada setiap anak terjadi proses perkembangan yang dimulai dari hal-hal yang umum, kemudian sedikit demi sedikit meningkat ke hal-hal yang lebih khusus.
Dari sudut perkembangan emosi juga terjadi hal-hal yang sama. Anak menangis bila mengalami hal-hal yang tidak enak, menyakitkan, menyedihkan, atau menjengkelkan dengan reaksi atau respon yang sama. Ia sedikit demi sedikit membedakan rangsangan tertentu dengan reaksi yang berlainan. Anak memperlihatkan reaksi kemarahan terlebih dahulu, sebelum memperlihatkan emosi gembira, cemburu atau iri hati.
4. Perkembangan Berlangsung dalam Tahapan-tahapan Perkembangan
Dalam proses perkembangan terjadi tahapan yang terbagi ke dalam masa-masa perkembangan. Pada setiap masa terdapat cirri-ciri perkembangan yang berbeda antara cirri-ciri yang ada pada suatu masa perkembangan dan cirri-ciri yang ada pada masa-masa perkembangan lainnya. Sebenarnya, cirri-ciri perkembangan pada masa terdahulu, dapat diperlihatkan pada masa-masa perkembangan berikutnya, hanya saja terjadi dominasi pada cirri-ciri yang baru. Jadi, bila seseorang telah mencapai suatu tahap dalam perkembangannya, mungkin saja ia masih memperlihatkan cirri-ciri yang sebenarnya merupakan cirri-ciri masa perkembangan terdahulu, hanya saja apa yang diperlihatkan itu dalam jumlah yang relative kecil. Apabila cirri-ciri perkembangan pada masa sebelumnya banyak diperlihatkan pada masa perkembangan baru, ia belum meningkat ke tahap perkembangan berikutnya. Aspek-aspek tertentu yang sudah tidak meningkat lagi, disebut fiksasi.
5. Hukum Tempo dan Ritme Perkembangan
Tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan, continuitas, dan dalam tempo perkembangan yang relative tetap serta berlaku umum.
Secara umum, ada dua hal sebagi petunujuk keterlambatan pada keseluruhan perkembangan mental, yaitu sebagai berikut:
a. Apabila perkembangan kemampuan fisik untuk berjalan sangat tertinggal dari patokan umum, tanpa ada sebab khusus, fungsionalitas fisiknya terganggu
b. Apabila perkembangan kemampuan berbicara sangat lambat dibandingkan dengan anak-anak lain pada masa perkembangan yang sama. Seorang anak yang pada umur 4 tahun, misalnya masih mengalami kesulitan berbicara, mengemukakan sesuatu, dan terbatas perbendaharaan katanya, ia akan mengalami kelambatan pada seluruh aspek perkembangan mentalnya.
Setiap tahap perkembangan tidak berlangsung secara melompat-lompat, tetapi menurunkan suatu pola tertentu dengan tempo dan irama tertentu pula, yang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan dari dalam diri anak. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh seorang guru atau orangtua untuk mengubah, mempercepat atau memperlambat tempo dan irama perkembangan tersebut.

4. Beberapa Tafsiran tokoh-tokoh tentang Masa Remaja
Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja :
1) Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif.
2) Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.
3) Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.
4) Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.
5) G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan)
5. Perincian Masa Remaja
Untuk memudahkan pembahasan, masa remaja itu masih diperinci lagi sebagai terdiri atas beberapa masa yaitu:
1. Masa pra-remaja (pre adolesen)
Menurut Gilmer masa pra remaja atau pre adolesen yaitu antara umur 10- 13 tahun. istilah masa pra-remaja digunakan untuk menunjukan suatu masa yang mengikuti masa pueral(masa remaja akhir), yang biasanya berlansung hanya dalam waktu yang relatif singkat. masa emaja awal biasanya ditandai dengan poertumbuhan fisik yang berjalan secara cepat bila dibandingkan masa- masa sebelumnya terutama pertumbuhan tinggi dan berat badan serta perubahan- perubahan secara umum dalam proporsi dari berbagai bagian tubuhk disamping itu terjadi perubahan-perubahan kelenjar kelamin. Pada usia ini anak wanita ditanmdai dengan menstruasi yang pertama kali. Masa ini juga ditandai oleh sifat-sifat negatif pada si remaja, sehingga seringkali masa ini juga disebut masa negatif.berbagai gejala yang biasa dianggap gejala negatif yang muncul pada mereka adalah tidak tenang jurang suka bekerja, kurang suka bergerak,lekas lelah, kebutuhan untuk tidur besar, suasana hati murung. Perismitik, non-sosial. Secara garis besar, sifat-sifat negatif diringkaskan sebagai berikut:
b. Negatif dalam prestasi,baik prestasi jasmani maupun prestasi mental.
c. Negatif dalam sikap sosial baik dalam bentuk mebnarik diri dari masyarakat (negfatif pasif), maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negatif aktif)
Menurut beberapa ahli penyebab terjadinya gejala- gejala negatif tersebut mempunyai pangkal keadaan biologis, yaitu mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin. Mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin itu membawa perubahan- perubahan cepat dalam diri si remaja, dan sering kali perubahan- perubahan cepat dalam diri si remaja, dan sering kali perubahan- perubahan itu radikal itu tidak mereka fahami, sehingga menimbulkan rasa ragu-ragu, kurang pasti, malu, jengkel dan sebagainya. Perkembangan biologis(seksual) si remaja juga megalami perkembangan yang kadang- kadang dapat menimbulkan masalah p[erkelahian, bunuh diri hal ini dapat dilihat dri alat reproduksi muli memproduksi sperma dan pada renaja wanita bila rahimnya sudah bisa dibuahi karena is sudah mendapatkan menstruasi (datang bulan)yang pertama.
2. Masa remaja
Di dalam fase atau masa negatif remaja pertama kalinya sadar akan kesepian yang tidak pernah dialaminya pada masa-masa sebelumnya, kesepian di dalam penderitaan yang nampaknya tidak satupun orang yang mengetahui dan memahaminya dan juga tidak dapat menerangkannya.reaksi yang pertama kali muncul adalah gangguan pada ketenangan dan keamanan batinya itu adalah protes terhadap sekitarnya., yang dirasanya sekonyong- konyong bersikap menterlantarkan dean memusuhinya.
Langkah selanjutnya adalah kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Disinilah mulai tumbuh dfalam dri remaja itu dorongan untuk mencari pedoman hidup, mencari sesuatu yang dapat dipandsang bernilai pantas dijunjung tinggi dean di puja- puja.
3. Masa remaja akhir (masa pueral)
Dalam psikologi, kata peur artinya anak besar yaitu masa yang merupakan bagian akhir dari masa anak sekolah.Masa ini dapat menandakan bahwa anak mulai tidak suka lagi diperlakukan sebagai anak-anak akan tetapi jua belum dapat disebut sebagai orang dewasa. Jadi setelah dia dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa remaja akhir.

6. Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
Di Indonesia, baik istilah pubertas maupun adolesensia dipakai dalam arti umum dengan istilah yang sama, yaitu remaja. Masa ini diartikan sebagai masa tercapainya kematangan seksual ditinjau dari aspek biologis.
Adapun pengertian remaja dapat ditinjau dari berbagai sudut:
1. Remaja menurut hukum
Konsep remja bukanlah berasal dari bidang hokum, melainkan dari bidang ilmu social. Konsep ini relative baru, yang muncul setelah era industrialisasi menjadi pusat perhatian ilmu-ilmu social dalam 100 tahun terakhir ini.
Dalam hubungan dengan hokum, tampaknya hanya undang-undang perkawinan saja yang mengenal konsep remaja, walaupun tidak secara terbuka. Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut UU tersebut adalah 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (pasal 17 UU No. 1/1974 tentang perkawinan). Menurut Enung Fatimah, definisi remaja menurut hukum berarti dapat dikenai sanksi hokum, ataudapat mempertanggungjawabkan segala perbuatannhya sesuai dengan hokum yang berlaku.
2. Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahapan perkembangan fisik saat alat-alat kelaminnya telah mencapai kematangan. Secara anatomis, keadaan tubuh pada umumnya telah memperoleh bentuknya yang sempurna, alat-alat kelaminnya sudah dapat berfungsi secara baik. Pada akhir perkembangan fisik ini, ia akan menjadi seorang pria yang berotot dan berkumis serta akan menghasilkan beberapa ratus juta sel spermatozoa setiap kali ia berejakulasi.
Masa pematangan fisik ini berjalan kurang lebih 2 tahun dan biasanya dihitung sejak menstruasi pertama pada anak perempuan atau sejak anak pria mengalami mimpi basah.

3. Batasan remaja menurut WHO
Menurut definisi yang dirumuskan WHO, remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan saat:
a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual
b. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa
c. Terjadi peralihan dari ketergantungan social-ekonomi yang penuh pada keadaan yang relative lebih mandiri
4. Remaja ditinjau dari factor social psikologis
Selain tanda-tanda seksual, salah satu cirri remaja adalah perkembangan psikologis dari kanak-kanak menjadi dewasa. Puncak perkembangan kejiwaan itu ditandai oleh adanya proses perubahan dari kondisi “entrapy” ke kondisi “negen-trapy” (Sarlito, 1991: 11).
Entrapy adalah keadaan yang menggambarkan bahwa manusia masih belum tersusun secara rapi. Walaupun sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dan sebagainya), isi-isi tersebut belum terkait dengan baik, sehingga belum bisa berfungsi secara maksimal.
Selama masa remaja, kondisi entrapy ini secara bertahap disusun , diarahkan, distrukturkan kembali, sehingga lambat laun terjadi kondisi “negen-entrapy”, yaitu keadaan yang menggambarkan bahwa isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikapnya. orang dalam keadaan negentrapy akan merasa dirinya sebagai satu kesatuan yang utuh dan dapat bertindak dengan tujuan yang jelas, ia tidak perlu dibimbing lagi untuk mempunyai tanggung jawab dan semangat kerja yang tinggi.
5. Remaja untuk masyarakat Indonesia
Batasan usia remaja Indonesia adalah 11-24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut:
a. Usia 11 tahun adalah usia yang pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (criteria fisik)
b. Pada banyak masyarakat Indonesia, usia11 tahun sudah dianggap akil baligh, baik menurut adat maupun agama,sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak (criteria social)
c. Pada usia tersebut, mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa: seperti tercapainya identitas diri (ego identity) (Erik Erikson), tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif (Piaget) maupun moral (Khohlberg)
d. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang lain, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara tradisi).
e. Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting dalam masyarakat Indonesia. Seorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hokum maupun dalam kehidupan social.

7. Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
Masa remaja sering disebut oleh orang Barat dengan istilah puber, sedangkan orang Amerika menyebutnya Adolesensi sedangkan di negara kita dikenal dengan istilah akil baligdan yang paling banyak menyebutnya Remaja.
Masa remaja ataupun adolesensia adalah periode pertumbuhan menuju otonomi dan kebebasan pribadi yang secara normal berkembang hingga pada satu saat apabila seseorang telah mencapai kebebasan emosional, financial dan intelektual. Proses ini mengambil hampir seluruh waktu dan energi adolesen. Periode ini juga sering disebut dengan “masa memperkembangkan kebebasan pribadi”. Ditinjau dari segi perkembangan biologis, yang dimaksud remaja ialah mereka yang berusia 12 sampai dengan 21 tahun. Yang keduanya merupakan transisi dari masa anak- anak menjadi dewasa.
Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11-13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Menurut Rumke, seorang psikiater, mengatakan bahwa dalam pubertas, seseorang dapat mengalami berbagai jenis kesukaran, di antaranya: (a) Individual, kesukaran berhubungan dengan usaha melepaskan diri dari orang tua, (b) Regulasi, kesukaran pribadi dalam kesanggupannya mengadakan pengintegrasian dari nafsu-nafsu, dorongan-dorongan, sehingga tidak ada perbuatan yang asing baginya.
Tugas-tugas perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosio-psikologis manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Proses tersebut merupakan tugas-tugas perkembangan fisik dan psikis yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu. Pada jenjang kehidupan usia sekolah menengah (remaja), seseorang telah berada pada posisi yang cukup kompleks karena ia telah banyak menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya, seperti proses mempelajari nilai dan norma pergaulan dengan teman sebaya, menyesuaikan diri dengan ketentuan yang berlaku, dan sebagainya.
Secara sadar, pada akhir masa anak-anak, seorang individu akan berupaya untuk bersikap dan berperilaku lebih dewasa dan intelek. Mereka tidak ingin dijuluki sebagai anak-anak, melainkan ingin dihargai dan diakui sebagai orang yang sudah dewasa. Mereka menjalani tugas mempersiapkan diri untuk dapat hidup lebih dewasa, dalam arti mampu menghadapi dan memecahkan masalah, bertindak etis dan normative serta bertanggungjawab moral.
Makna “dewasa” dapat diartikan dari berbagai segi, sehingga dapat dikenal dewasa secara fisik, dewasa secara mental, dewasa secara social, dewasa secara psikologis, dewasa secara hokum, dan sebagainya. Menurut Havighurts pada masa ini terdiri dari 10 tugas perkembangan, yakni:
1. Mencapai hubungan pertemanan dengan lawan jenis secara lebih matang
2. Menyenangi tubuh sendiri dan mempergunakannya secara efektif
3. Mencapai perasaan sex yang diterima secara sosial
4. Mencapai kebebasan emosional daripada orangtua atau orang dewasa lainnya
5. Memperoleh jaminan kebebasan ekonomi
6. Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan
7. Mempersiapkan diri untuk perkawinan dan kehidupan berkeluarga
8. Mengembangkan keterampilan dan kecakapan-kecakapan intelektual serta konsep-konsep yang perlu untuk seorang warga Negara yang cakap
9. Menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara moral dan social
10. Memahami suatu perangkat tata nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku
Tugas-tugas perkembangan tersebut pada dasarnya tidak dapat dipisahkan karena remaja adalah pribadi yang utuh secara individual dan social.


C. KESIMPULAN
Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. Adapun pengertian remaja jika ditinjau dari berbagai macam sudut adalah: Remaja menurut hukumDalam hubungan dengan hokum, tampaknya hanya undang-undang perkawinan saja yang mengenal konsep remaja, walaupun tidak secara terbuka. Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut UU tersebut adalah 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (pasal 17 UU No. 1/1974 tentang perkawinan). Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik; dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahapan perkembangan fisik saat alat-alat kelaminnya telah mencapai kematangan. Secara anatomis, keadaan tubuh pada umumnya telah memperoleh bentuknya yang sempurna, alat-alat kelaminnya sudah dapat berfungsi secara baik. Pada akhir perkembangan fisik ini, ia akan menjadi seorang pria yang berotot dan berkumis serta akan menghasilkan beberapa ratus juta sel spermatozoa setiap kali ia berejakulasi. Batasan remaja menurut WHO; Menurut definisi yang dirumuskan WHO, remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan saat:
· Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual
· Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa
· Terjadi peralihan dari ketergantungan social-ekonomi yang penuh pada keadaan yang relative lebih mandiri
Remaja ditinjau dari factor social psikologis; Selain tanda-tanda seksual, salah satu cirri remaja adalah perkembangan psikologis dari kanak-kanak menjadi dewasa. Puncak perkembangan kejiwaan itu ditandai oleh adanya proses perubahan dari kondisi “entrapy” ke kondisi “negen-trapy” (Sarlito, 1991: 11). Sedangkan remaja untuk masyarakat Indonesia; Batasan usia remaja Indonesia adalah 11-24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut:
· Usia 11 tahun adalah usia yang pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (criteria fisik)
· Pada banyak masyarakat Indonesia, usia11 tahun sudah dianggap akil baligh, baik menurut adat maupun agama,sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak (criteria social) dan lain-lain
Sedangkan tugas-tugas perkembangan usia remaja adalah:
· Mencapai hubungan pertemanan dengan lawan jenis secara lebih matang
· Menyenangi tubuh sendiri dan mempergunakannya secara efektif
· Mencapai perasaan sex yang diterima secara sosial
· Mencapai kebebasan emosional daripada orangtua atau orang dewasa lainnya
· Memperoleh jaminan kebebasan ekonomi
· Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan
· Mempersiapkan diri untuk perkawinan dan kehidupan berkeluarga
· Mengembangkan keterampilan dan kecakapan-kecakapan intelektual serta konsep-konsep yang perlu untuk seorang warga Negara yang cakap
· Menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara moral dan social
· Memahami suatu perangkat tata nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku


D. DAFTAR RUJUKAN
Sulaeman,Dadang.1995. Psikologi Remaja.Bandung: penerbit Mandar Maju.
Yusuf,Syamsu LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
Suryabrata, Sumadi.1982. Perkembangan Individu.Jakarta: CV. Rajawali
Zulkifli. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosda Karya
Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung: CV Pustaka Setia
Havighurst, Robert J. 1984. Perkembangan Manusia dan Pendidikan. Bandung: JEMMARS
Soeitoe, Samuel. 1982. Psikologi Pendidikan; Mengutamakan Segi-segi Perkembangan. Jakarta: LPFEUI
Thonthowi, Ahmad. Psikologi Pendidikan. Bandung: Angkasa






















BAB X
PERKEMBANGAN DAN PENYESUAIAN DIRI PADA USIA
SEKOLAH MENENGAH (REMAJA)

A. PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja yaitu masa yang menarik perhatian, karena dengan sifat-sifat yang khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Pada hakekatnya masa ini ialah kematangan kehidupan seksual karena pada masa ini banyak sekali informasi yang ditunjukkan mengenai kehidupan seksual itu, akan tetapi kematangan kematangan kehidupan seksual itu sendiri bukanlah merupakan satu hal dalam masa remaja, melainkan hanya salah satu aspek saja.
Setiap individu senantiasa berupaya untuk menyesuaikan diri dengan lingkunganya karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain dan selalu menjadi bagian dari lingkungan tertentu. Pada usia remaja manusia sudah mulai melakukan proses penyesuaian diri karena masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Di lingkungan manapun individu berada, ia akan berhadapan dengan harapan dan tuntutan tertentu dari lingkungan yang harus dipenuhinya. Disamping itu individu juga memiliki kebutuhan, harapan, dan tuntutan dalam dirinya, yang harus diselaraskan dengan tuntutan dari lingkungan. Bila individu mampu menyelaraskan kedua hal tersebut, maka dikatakan individu tersebut mampu menyesuaikan diri. Jadi penyesuaian diri dapat dikatakan sebagai cara tertentu yang dilakuakan oleh individu untuk bereaksi terhadap tuntutan terhadap diri maupun situasi eksternal yang dihadapinya.

2. Rumusan masalah
1. Jelaskan pengertian penyesuaian diri usia sekolah menengah (remaja) dan apa saja faktor-faktornya!
2. Sebutkan macam-macam penyesuaian diri usia remaja!
3. Bagaimana kriteria keberhasilan dan kontribusi teori Alder terhadap penyesuaian diri pada usia remaja?
4. Apa faktor-faktor dan tugas perkembangan remaja dengan penyesuain diri remaja menurut orang tua.
5. Bagaimana hubungan antara profil tugas perkembangan remaja dengan penyesuaian diri remaja?

3. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian penyesusaian diri usia sekolah menengah (remaja) dan menyebutkan faktor-faktornya.
2. Menyebutkan macam-macam penyesuaian diri usia remaja.
3. Menjelaskan kriteria keberhasilan dan kontribusi teori Alder terhadap penyesuaian diri pada usia remaja
4. Mengetahui faktor-faktor dan tugas perkembangan remaja dengan penyesuaian diri remaja menurut orang tua.
5. Menjelaskan hubungan antara profil tugas perkembangan remaja dengan penyesuaian diri remaja.


B. B. PEMBAHASAN
1. Pengertian dan Faktor-faktor Penyesuaian Diri pada Masa Usia Sekolah Menengah (Remaja)
a. Pengertian
Menurut Ngalim Purwanto (1984) Penyesuaian diri berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan (penyesuaian diri autoplastis), mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan keinginan diri (penyesuaian diri alloplastis). Penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencangkup respon-respon mental dalam tingkah laku yang merupakan usaha individu untuk memperoleh keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan.Penyesuaian diri merupakan upaya manusia untuk dapat hidup aman dan nyaman, dengan berupaya mencapai keharmonisan antara dirinya sebagai individu dengan lingkungannya.
Schneiders (1964) mengemukakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses yang mencangkup respon-respon mental dan tingkah laku yang merupakan usaha individu agar berhasil mengatasi kebutuhan, ketegangan, konflik dan frustasi yang dialami dalam dirinya. Usaha individu tersebut bertujuan untuk memperoleh keselarasan dan keharmonisan antar tuntutan dalam diri dengan apa yang di harapkan oleh lingkungan. Schneiders juga mengatakan bahwa orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang dengan keterbatasan yang ada pada dirinya, belajar untuk bereaksi terhadap dirinya dan lingkungan dengan cara yang matang, bermanfaat, efisien dan memuaskan, serta dapat menyelesaiakn konflik, frustasi, maupun kesulitan-kesulitan pribadi dan sosial tanpa mengalami gangguan tingkah laku.
Penyesuaian diri bukan merupakan sesuatu yang bersifat absolut atau mutlak. Tidak ada individu yang dapat melakukan penyesuaian diri dengan sempurna. Penyesuaian diri bersifat relatif, artinya harus dinilai dan dievaluasi sesuai dengan kapasitas individu untuk memenuhi tuntutan terhadap dirinya. Kapasitas ini berbeda-beda bergantung pada kepribadian dan tahap perkembangan individu. Penyesuaian yang dianggap baik pada suatu tahapan usia mungkin saja dianggap kurang baik pada tahapan usia lainnya.
b. Faktor-faktor Penyesuaian Diri pada Remaja
Faktor-faktor penyesuaian diri antara lain:
a) Peer relation: Faktor ini mengacu pada upaya individu untuk menyesuaikan diri dan bekerjasama dengan orang lain.
b) Dependency: Factor ini mengacu pada upaya kurangnya individu untuk dapat berpikir dan mengerjakan sendiri tanpa meminta pertolongan orang lain.
c) Hostility: Faktor ini mengacu pada ketidak mampuan individu untuk mengendalikan keinginannya jika tidak terpenuhi.
d) Productivity: Factor ini mengacu pada kemampuan individu untuk sungguh-sungguh mengerjakan tugas dan kewajiban yang diberikan.
e) Withdrawal: Faktor ini mengacu pada ketidakmampuan individu untuk melakukan sesuatu dengan sigap dan tidak duduk termenung tanpa melakukan sesuatu.
2. Macam-macam Penyesuaian Diri Usia Remaja
a. Penyesuaian diri dalam keluarga
Dalam keluarga remaja perlu dapat menyesuiakan diri dengan pola asuh norma yang diberlakukan dalam keluarga tersebut, penyesuaian diri dalam keluarga tidak semua dapat berhasil dengan baik, meskipun remaja telah melakukan norma yang menerima keadaan remaja, sikap individu masih sering ditunjukan remaja dengan mengajukan beberapa kritik dan tuntutan terhadap orang tua. Orang tua tidak lagi dipandang sebagai otoritas yang serba tahu, akibatnya, remaja mulai mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tua serta mengembangkan ide-ide mereka sendiri. Yang sering menjadi masalah adalah apabila remaja tidak diterima oleh keluarga, ada kecenderungan remaja akan melarikan diri pada kelompok-kelompok yang lain “miskin norma” yang justru sangat membahayakan dan mengganggau perkembangan anak selanjutnya.
b. Penyesuaian diri dengan lingkungan terdekat (Teman sebaya)
Kelompok sosial terdekat adalah teman sebaya atau peer group dalam kelompok ini remaja berusaha untuk dapat menerima dan diterima. Karena pada prinsipnya teman sebaya mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan remaja. Jean Piaget dan Harry Stack Sullivan menekankan bahwa melalui hubungan teman sebaya anak dan remaja belajar tentang hubungan timbal balik yang simetris. Mereka juga mempelajari secara aktif kepentingan-kepentingan dan perspektif teman sebaya dalam rangka memuluskan integrasi dirinya dalam aktivitas teman sebaya yang berkelanjutan. Popular dalam kelompok sebaya merupakan bagian yang mahal bagi remaja, untuk mencapai ini remaja sering berusaha untuk tampil terbaik dan menarik, berpartisipasi dalam kegiatan kelompok untuk dihargai dan dianggap penting.
c. Penyesuaian diri dalam lingkungan sekolah
Sekolah merupakan wahana untuk persiapan remaja memasuki dunia pekerjaan dan persiapan menduduki posisi jabatan tertentu, sehingga tuntutan dalam sosialisasi pada kelompok yang sudah di sesuaikan dengan misi dari sekolah tersebut yaitu: tuntutan untuk punya prestasi akademis yang tinggi akan menjamin popularitas anak dalam lingkungan sekolah. Untuk dapat mencapai ini remaja dituntut untuk dapat melaksanakan kewajiban sebagai pelajar disamping ditunjang oleh potensi dasar yang dimiliki.
d. Penyesuaian diri dalam lingkungan masyarakat
Dalam kehidupan masyarakat menuntut semua anggota untuk mematuhi semua norma yang berlaku dalam kelompok masyarakat tersebut. Penyesuaian diri remaja dalam masyarakat akan terbentuk bila memberikan dukungan dengan pelajaran yang diterima oleh remaja, seperti contoh, teladan dan penegakan disiplin yang ketat dimana yang salah menerima sangsi dan yang benar mendapat hadiah. Kenyataan seringkali bertentangan dengan idealisme remaja saja akan menimbulkan protes dan bingung untuk dapat memperoleh penyesuaian sosial yang baik dalam masyarakat.
Penyesuaian diri disamping untuk kepentingan juga dikaitkan dengan tugas perkembangan yang harus diselesaikan, yang tentu mengandung harapan sosial yang sekaligus merupakan tanggung jawab remaja untuk memenuhi harapan tersebut.

3. Kriteria Keberhasilan dan Kontribusi Teori Alder terhadap Penyesuaian Diri Pada Usia Remaja
a. Kriteria keberhasilan penyesuaian diri
Dari sudut pandang teori Alder tuntutan untuk mencapai sukses sebagai manusia yang berada dilingkungan sosial adalah peranan yang sangat besar, berasal dari perasaan diri. Untuk sukses sebagai manusia dilingkungan sosial berasal dari perasaan inferiority.
1). Inferirity. Perasaan yang kompleks tentang perasaan rendah diri yang diungkap oleh Alder ternyata berasal dari pertahanan diri yang terbentuk akibat perbutan dan ketidakmampuan untuk bicara atau lebih spesifik seperti secara fisik kurang tangkas, kurang tinggi atau juga kurang terampil secara akademik(Alder, 1956).
2). Gaya hidup. Rychlak (1981), gaya hidup menceminkan kepribadian seseorang. Jika kita dapat mengerti tujuan hidup seseorang, maka kita akan mengerti arah yang ia akan ambil, dan hal itu merupakan kepribadian diri individu yang bersangkutan.
3). Minat sosial. Minat sosial melibatkan perasaan akan adanya kesatuan dengan orang lain, rasa menyatu dan memiliki lingkungan (Rychlak, 1981). Alder menganggap bahwa minat sosial merupakan potensi yang di miliki individu, tetapi individu yang berbeda akan mengaktulisasikannya pada tingkatan yang berbeda pula.
b. Kontribusi teori Alder teradap penyesuaian diri
Dari sudut teori Alder, orang yang memiliki “Superiority complex” dapat dikatakan orang yang “sombong”. Mereka adalah orang yang terus menerus secara konstan menyatakan bahwa dirinya superior. Bagaimanapun kondisi ini merupakan kompensasi dari perasaan tidak berdaya. Jadi orang yang “sombong” secara aktual merupakan orang yang merasa kurang percaya diri dan menyombongkan diri untuk menutupi masalahnya. Joseph Tucibat (1986), mempelajari untuk menjelaskan bagaimana reaksi orang terhadap orang yang sombong. Dengan demikian orang yang “sombong” pada dasarnya adalah orang yang merasa tidak berdaya dan ia menyombongkan diri untuk menutupi kekurangan yang ada padanya.
Perasaan tidak berdaya artinya seseorang individu mempersepsi adanya kekurangan dalam diri dari segi fisik, tampilan yang tidak menyenangkan, secara sosial tidak adekuat. Mereka merasa memiliki keterlibatan yang sedikit pada kejadian yang ada di lingkunngan. Setiap saat seorang individu melakukan “keputusan” mengenai tingkah laku manusia (diri sendiri atau orang lain), kesimpulan yang akan diambil tidak hanya pada tingah lakunya, tetapi juga pada faktor lain yaitu situasi dari nilai.
1) Situasi. Cara dari seorang individu untuk melakukan penyesuaian diri dan bagaiman penilaian orang lain mengenai baik tidaknya penyesuaian diri tergantung pada situsi seperti apa individu melakuakan penyesuaian, seorang individu biasa melakukan penyesuaian diri secara wajar pada satu situasi tapi tidak pada situasi yang lainnya.
2) Nilai-nilai. Seseorang dikatakan baik peyesuaian dirinya tidak hanya bergantung pada situasi tapi pada nilai-nilai, ide-ide tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana individu melakukan hal tersebut. Setiap keputusan yang menyangkut bahwa kita atau orang lain mempunyai masalah merefleksikan nilai-nilai yang ada dalam diri kita.
Masalah evaluasi mengenai penyesuaian diri sangat relatif. Namun kondisi ini tetap membuat psikolog mencoba untuk mengembangakan teori umum tentang penyesuaian diri yang baik dan jelek. Beberapa teori cukup dikenal. Teori tentang penyesuaian diri ini membantu untuk melihat cara individu seorang antara lain:
1) Psychodinamic Theory, Sigmund Frued (1933)
2) Neo Freudian Theory, Alfred Alder (1930), Karen Honey (1937), Erich Fromm (1941), Erik Erkson (1963). Para pengikut freudian ini keberatan dengan beberapa aspek dari teori freud. Freud tidak mengindahkan/mempedulikan fakta penting bahwa “human being” merupakan mahluk sosial.
Menurut pandangan Neo Freudian, ciri dari penyesuain diri yang baik adalah perkembangan meyeluruh dari potensi individu secara sosial dan kemampuan untuk membentuk hubungan yang hangat dan peduli terhadap orang lain. Dalam perspektif Neo Freudian, pertumbuahan berasal dari konteks sosial. Aspek paling kritis dari pertumbuhan individu adalah bagaiman seseorang dapat mengembangkan kekuatan identitas diri sedangkan pada saat yang sama individu harus menjalin kedekatan dengan orang lain, konflik antara ”sense of self” dan tuntutan dari orang lain yang tidak berubah selama perkembangan berlangsung. Jika konflik ini tidak dapat diatasi oleh orang lain/orang tua tidak menganggap penting maka “sense of identity” akan lemah. Jika konflik ini dapat diatasi maka individu akan menunjukan kepedulian pada orang lain tanpa takut mengorbankan identitas dan keunikan diri. Dengan kata lain ia akan mampu mencapai penyesuaian diri yang baik.

4. Faktor-faktor dan Tugas Perkembangan Remaja dengan Penyesuain Diri Remaja Menurut Orang Tua.
Faktor-faktor tugas pekembangan remaja menurut orang tua dengan penyesuaian diri remaja menurut orang tua, terdapat lima faktor yamg memiliki hubungan signifikan. Tiga faktor berasal dari tugas perkembangan remaja yang universal yaitu:
a. Pencapaian relasi yang matang dengan temen dan dewasa lain. Artinya jika orang tua mempersepsi remajanya mampu menggunakan seluruh kemampuan dan tidak menunda untuk mangerjakan tugas dan kewajiban, serta memperdulikan tingkah laku disiplin, maka remaja dianggap oleh orang tua mampu bekarjasam serta bersedia meminta pertolongan walaupun sebetulnya ia mampu memikirkan sendiri.
b. Faktor menjalankan peran sebagai pria dan wanita dewasa memiliki hubungan dengan penyesuaian diri. Artinya jika orang tua mempersepsi remajanya mampu mengerjakan tugas dan kewajiban sampai selesai tanpa ditunda-tunda serta dapat menggunakan seluruh kemampuan, maka kemapuannya untuk mengatur keperluan keluarga pun akan meningkat.
c. Faktor mengorganisasikan perencanaan dan usaha dalam upaya untuk mencapai tingkat karir yang teratur. Artinya yaitu mempersiapkan pendidikan formal yang menujang untuk memiliki pekerjaan dan masa depan, memilki hubungan dengan kemampuan penyesuaian diri remaja.
Sedangkan dua faktor lain yang berasal dari tugas perkembangan yang mengandung content khusus yaitu :
a. Faktor kemampuan menjalin komunikasi dengan orang tua, memilki hubungan dengan kemampuan penyesuaian diri remaja. Artinya jika orang tua mempersepsi remaja telah mampu meningkatkan kemampuannya untuk menjalin komonikasi dengan orang tua, maka remaja akan dapat mengembangkan kemampuannya untuk:
1). Menyesuaiakan diri dengan orang lain.
2). Tidak meminta pertolongan karena sebetulnya remaja telah mampu melakuaknnya sendiri.
3). Tidak menunjukkan kemarahan jika orang lain tidak setuju dengan keinginannya.
4). Menunjukan tingkah laku yang menaruh perhatian terhadap lingkungannya.
b. Faktor kemampuan untuk melakukan cara mengatur diri memiliki hubungan dengan kemampuan penyesuaian diri remaja. Artinya jika orang tua mempersepsi anak mampu meningkatkan cara mengatur diri yaitu kemampuan remaja untuk mengatur ekspresi diri, menentukan prioritas dari berbagai kegiatan, mengatur kegiatan, maka kemampuan anak untuk mengerjakan tugas dan kewajiban dengan sungguh-sungguh, mengerjakan tugas dan kewajiban sampai seleasai tanpa ditunda-tunda dapat meningkat pula.


5. Hubungan antara Profil Tugas Perkembangan Remaja dengan Penyesuaian Diri Remaja.
Upaya meningkatkan penyesuaian diri remaja dapat dilakukan melalui ditingkatkannya kemampuan remaja dalam faktor :
a). Faktor kemampuan menjalankan peran sebagai pria dan wanita, dari tugas perkembangan remaja berkorelasi dengan tugas perkembangan remaja menurut orang tua dan penyesuaian diri remaja.
b). Faktor kemampuan menjalankan menyiapkan diri untuk karir ekonomi, dari tugas perkembangan remaja berkorelasi dengan tugas perkembangan remaja menurut orang tua dan dengan penyesuaian diri remaja.
c). Faktor kemampuan menjalankan/menjalin komunikasi dengan orang tua, dari tugas perkembangan remaja berkorelasi dengan tugas perkembangan remaja menurut orang tua dan guru dan dengan penyesuaian diri remaja.
d). Faktor kemampuan untuk melakukan untuk mengatur diri, dari tugas perkembangan remaja berkorelasi dengan tugas perkembangan remaja menurut orang tua dan guru dan dengan penyesuaian diri remaja.
Untuk peningkatan kemampuan faktor kemampuan menjalankan komunikasi dengan orang tua dan faktor kemampuan cara mengatur diri dapat dilakukan melalui bantuan orang tua dan guru.
Bantun yang diberikan dapat berupa:
1) Orang tua memberi kesempatan dengan membuka peluang kepada remaja untuk menceritakan kejadian sehari-hari.
2) Guru memberi kesempatan kepada remaja untuk membina komunikasi dengan orang tuanya, melalui tugas-tugas tertentu yang memerlukan komunokasi antara murid dengan orang tuanya.
3) Orang tua memberi kesempatan kepada remaja untuk belajar menetukan prioritas dari berbagai kegiatan dan belajar mengatur kegiatan.
4) Guru memberi kesempatan kepada remaja untuk belajar menentukan prioritas daru berbagai kegiatan dan belajar mengatur kegiatan dalam konteks akademis.
Sedangkan Faktor kemampuan menjalankan peran pria dan wanita dewasa dan faktor kemampuan menyiapkan diri untuk karir ekonomi, dapat dilakuan melalui bantuan orang tua, dengan cara sebagai berikut:
1) Memberi kesempatan pada remaja untuk mengatur keperluan keluarga.
2) Menjadikan remaja sebagai tempat diskusi tentang berbagai persoalan.
3) Diberi kesempatan orang untuk mengorganisasikan suatu perencanaan dan usaha dalam upaya untuk mencapai tingakat karir yang teratur yaitu perencanaan bidang studi.
Dengan demikian, Prifil tugas perkembangan remaja ini dapat dijadikan alat Bantu diagnostik untuk melakuakn tindakan preventif dalam upaya mengoptimalkan perencanaan tugas perkembangan remaja melalui bantuan orang tua dan guru.



C. KESIMPULAN
v Penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencangkup respon-respon mental dalam tingkah laku yang merupakan usaha individu untuk memperoleh keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan. Penyesuaian diri merupakan upaya manusia untuk dapat hidup aman dan nyaman, dengan berupaya mencapai keharmonisan antara dirinya sebagai individu dengan lingkungannya.
Adapun Faktor-faktor penyesuaian diri antara lain:
1. Peer relation
2. Depedency
3. Hostility
4. Productivity
5. Withdrawal
v Macam-macam penyesuaian diri:
1. Penyesuaian diri dalam kelurga
2. Penyesuaian diri dengan lingkungan terdekat
3. Penyeuaian diri dengan lingkungan sekolah
4. Penyesuaian diri dengan mayarakat
v Kriteria Keberhasilan dan Kontribusi Teori Alder terhadap Penyesuaian Diri Pada Usia Remaja
1. Inferirity. Perasaan yang kompleks tentang perasaan rendah diri
2. Gaya hidup. gaya hidup menceminkan kepribadian seseorang.
3. Minat sosial. Minat sosial melibatkan perasaan akan adanya kesatuan dengan orang lain, rasa menyatu dan memiliki lingkungan.
Sedangkan dari sudut teori Alder, orang yang memiliki “Superiority complex” dapat dikatakan orang yang “sombong”. Mereka adalah orang yang terus menerus secara konstan menyatakan bahwa dirinya superior. Bagaimanapun kondisi ini merupakan kompensasi dari perasaan tidak berdaya. Jadi orang yang “sombong” secara aktual merupakan orang yang merasa kurang percaya diri dan menyombongkan diri untuk menutupi masalahnya.
v Faktor dan tugas perkembangan remaja dengan penyesuaian diri remaja menurut orang tua
1. Pencapaian relasi yang matang dengan teman dan dewasa lain
2. Menjalankan peran sebagai pria dan wanita dewasa
3. Mengorganisasikan perencanaan dan usaha dalam upaya untuk mencapai tingaktan karir tertentu
4. Menjalin komunikasi dengan orang tua
v Hubungan antara profil tugas perkembangan remaja dengan penyesuaian diri remaja dapat dilakukan melalui ditingkatkannya kemampuan remaja dalam faktor:
a). Faktor kemampuan menjalankan peran sebagai pria dan wanita
b). Faktor kemampuan menjalankan menyiapkan diri untuk karir ekonomi
c). Faktor kemampuan menjalankan/menjalin komunikasi dengan orang tua,
d). Faktor kemampuan untuk melakukan untuk mengatur diri
Adapun faktor kemampuan cara mengatur diri dapat dilakukan melalui bantuan orang tua dan guru.
Bantun yang diberikan dapat berupa:
5) Orang tua memberi kesempatan dengan membuka peluang kepada remaja untuk menceritakan kejadian sehari-hari.
6) Guru memberi kesempatan kepada remaja untuk membina komunikasi dengan orang tuanya, melalui tugas-tugas tertentu yang memerlukan komunokasi antara murid dengan orang tuanya.
7) Orang tua memberi kesempatan kepada remaja untuk belajar menetukan prioritas dari berbagai kegiatan dan belajar mengatur kegiatan.
8) Guru memberi kesempatan kepada remaja untuk belajar menentukan prioritas daru berbagai kegiatan dan belajar mengatur kegiatan dalam konteks akademis.

D. DAFTAR RUJUKAN

Baharuddin, Psikologi Pendidikan Refleksi Teoritis Terhadap Fenomena, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.

Endang Poerwanti, Nurwidodo, Perkembangan Peserta Didik. Malang: UMM Press, 2002.

Hendarti Agustiani, Psikologi Perkembangan: Pendekatan Ekologi Kaitannya dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada Remaja. Bandung: Refika Aditama, 2006.

Sukmadinata, Nana Syaodih, dkk, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah, Bandung: PT Refika Aditama, 2006.

Zulfikri, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.






























BAB XI
PROBLEMATIKA PESERTA DIDIK USIA SEKOLAH MENENGAH
DAN SOLUSINYA

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Permasalahan bagi manusia akan semakin kompleks ketika mereka menginjak usia remaja usia dimana mereka masih berada di jenjang pendidikan usia sekolah menengah, pada masa remaja itulah mereka mulai mengenal lingkungan atau masyarakat yang lebih luas yang selalu dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang yang lebih rumit yang memerlukan penenganan yang sangat serius.
Permasalahan bagi peserta didik usia sekolah menengah timbul baik dari intern ataupun ekstern yang kesemuanya sangat mengganggu pada proses belajar dan pembelajaran peserta didik di usia seperti itu. Keingin tahuan pada usia sekolah menengah sangatlah besar karena pada masa itu mereka masih mencari jati diri dan figur yang di idolakan oleh mereka. Bagi seorang pendidik haruslah tahu keadaan peserta didiknya dan harus bisa mengarahkan pada hal-hal yang positif sehingga peserta didik pada usia sekolah menengah tersebut akan terarah pada hal-hal yang positif, pendidik juga harus mengetahui gejala-gejala yang terdapat pada peserta didik usia tersebut dan bisa memberikan solusi yang terbaik dalam menghadapi keadaan peserta didik seperti itu.
Dalam makalah ini, kami akan membahas problemetika yang terjadi pada peserta didik usia sekolah menengah dan solusi yang tepat bagi pendidik dalam menghadapi problematika yang dialami oleh peserta didiknya, hususnya pada usia sekolah menengah.

2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi peserta didik usia sekolah menengah ?
2. Apa saja problematika peserta didik usia sekolah menengah ?
3. Bagaimana solusi problematika peserta didik usia sekolah menengah ?

3. Tujuan
1. Mengetahui kondisi peserta didik usia sekolah menengah
2. Mengetahui problematika peserta didik usia menengah
Mengetahui bagaimana solusi problematika peserta didik usia sekolah menengah


B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Peserta Didik Usia Sekolah Menengah
Penggunaan istilah peserta didik usia sekolah menengah tidak jauh beda dengan istilah remaja, untuk menghindari kesimpangsiuran dan kesalah pahaman istilah peserta didik usia sekolah menengah/remaja maka dalam makalah ini akan dijelaskan istilah peserta didik usia sekolah menengah/remaja. Istilah asing yang sering digunakan dalam istilah peserta didik usia sekolah menengah/remaja antara lain:
1. Puberteit yang dimaksud adalah usai kedewasaan atau masa pertumbuhan rambut di daerah tulang
2. Adolestensia maksudnya adalah masa muda usia antara 12 – 22 Tahun.
Pubertas dan adolestensia akhir-akhir ini diartikan sama Karena sulitnya membedakan proses psikis pada pubertas dan awal proses psikis pada adolestensia.
3. Youth
Remaja sangat sulit diartikan secara mutlah, dibawah ini pengertian remaja menurut berbagai pandangan:
1. Remaja menurut Hukum
Dalam undang-undang perkawinan no. 1/1974 pasal 7 menjelaskan usia minimal untuk suatu perkawinan 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun bagi pria, walaupun undang-undang tidak menyebutkan anak yang berusia di atas yang disebutkan tadi bukan anak-anak lagi dan juga tidak bisa dianggap sebagai orang dewasa penuh karena dalam usia tersebut mereka masih dianjurkan meminta izin dulu pada orangtua mereka.
2.Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik
Dalam ilmu kedokteran istilah remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Masa pematangan fisik ini berjalan kurang lebih 2 tahun dan biasanya dihitung mulai menstruasi (haid) pertama pada anak wanita (mulai umur 9 tahun) atau anak pria mengalami mimpi basah (mengeluarkan air mani pada waktu tidur/kira-kira usia 15 tahun) yang pertama, masa ini disebut masa pubertas.
3. Batasan remaja Menurut Who
Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:
a. indifidu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya saat ia mencapai kematangan seksual.
b. indifiu mengalami perkembangan psikologi dan pola indentifikasi ari kanak-kanak menjadi dewasa
c. terjai peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (muangman, yang dikutip oleh sarlito, 1991:9)
4. Remaja ditinjau dari faktor sosial psikologis
Salah satu cirri remaja di samping tanda-tanda seksualnya adalah: “ perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa”. Puncak perkembangan jiwa itu ditanai dengan adanya proses perubahan dari kondisi “entropi” yaitu keadaan di mana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi, ke kondisi “negen-tropi” yaitu keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap.(sarlito, 1991:11)
5. Definisi remaja menurut masyarakat Indonesia
Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut:
a. usia 11 tahun adalah usia yang pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (criteria fisik)
b. kebanyakan masyarakat Indonesia menganggap usia11 tahun sudah akil balik, baik menurut aat atau agama (criteria sosial)
c. pada usia 11 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity: Erik Erikson), tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif (piaget) maupun moral (Khohlberg).
d. usia 24 adalah batas maksimal, member peluang bagi mereka yang masih menggantungkan pada orang lain (secara tradisi), golongan ini masih banyak terdapat di Negara Indonesia.
e. status pernikahan, seorang yang telah menikah di usia berapapun di anggap dan diperlakukan sebagai seorang dewasa penuh, baik secara hukum, maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan keluarga.
2. Kondisi Peserta Didik Usia Sekolah Menengah
Pembahasan tentang kondisi peserta didik pada usia sekolah menengah ini banyak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat kultural, oleh karena itu pembahasan peseta didik usia ini hendaknya dibarengi dengan membahas studi tentang kultur. Semua manusia, baik anak-anak, remaja, ataupun dewasa merasakan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, ingin memiliki pengalaman-pengalaman baru, ingin memperoleh pengenalan atau pengakuan, ingin menjadi seorang yang berdiri sendiri, dan ingin memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah. Dan pada masa remaja kebutuhan diatas lebih intensif.
Pada masa remaja perubahan yang terjadi sangat mencolok dan jelas sehingga bisa mengganggu keseimbangan yang sebelumnya telah terbentuk. Perilaku mereka mendadak susah ditebak dan sering kali agak berlawanan dengan norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu masa ini sering disebut “masa negatif”. Pada saat irama pertumbuhan sudah sedikit lambat dan perubahan tubuhnya telah sempurna, maka akan terjadi keseimbangan kembali.
Di usia sekolah menengah ini peserta didik sangat membutuhkan bimbingan orang dewasa, karena pada usia yang labil seperti mereka bisa saja mereka salah dalam memilih orang yang ingin ia jadikan teladan, maka tugas guru menuntun mereka pada jalan yang benar dan menunjukkan tanpa mrasa dipaksa, dan juga merupakan tugas orangtua untuk mendukung mereka dan mengarahkan mereka dari pengaruh-pengaruh yang kurang baik diluar lingkungan keluarga. Pengawasan guru dan orang tua sangat dibutuhkan pada masa remaja ini.
Psikologi objektif selalu menekankan bahwa pertumbuhan adalah suatu yang berlangsung terus menerus dan bersifat bertahap demi setahap. Keunikan remaja terletak pada individualitasnya bukan pada masa remajanya, tampak jelas bahwa para remaja dari satu keluarga akan memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dalam hal berat badan, intelegensinya, minat, bakat, dan sifat sosialnya. Perubahan indifiu itu tidak serta merta berubah sekaligus menjadi orang dewasa tetapi perubahan itu bertahap dan banyak dipengaruhi keadaan sekelilingnya, baik keluarga ataupun amasyarakat sekitar.
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menuju ke jenjang kedewasaan, ke butuhan hidup seseorang mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Kebutuhan sosial psikologi semakin banyak dibandingkan dengan kebutuhan fisik, karena pengalaman kehidupan sosialnya semakin semakin luas, kebutuhan itu timbul disebabkan dorongan-dorongan (motif). Dorongan adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu (sumadi, 1971:70, Lefton, 1982:137). Dorongan dapat berkembang karena kebutuhan psikologi atau karena tujuan-tujuan kehidupan yang semakin kompleks. Lebih lanjut Lefton (1982) menyatakan bahwa kebutuhan dapat muncul karena keadaan psikologis yang mengalami goncangan atau ketidakseimbangan. Munculnya kebutuhan tersebut untuk mencapai keseimbangan atau keharmonisan hidup.
Perkembangan kepribadian individu bersifat inklusif. Ada tiga factor utama yang berpengaruh terhadap karakteristik dan tingkah laku individu yang sedang berkembang seperi peserta didik usia sekolah menengah ini yaitu factor-faktor biologis, lingkungan cultural, dan latar belakang pribadi individu yang bersangkutan seperti pengalamannya dengan benda-benda yang berada disekitarnya atau interaksinya dengan sesama manusia. Pada masa adolesen ini akan terjadi pengintegrasian identifikasi kekanak-kanakan dengan dorongan biologis, native indowment, dan kesempatan dalam pran-peran sosial, sedangkan pada masa dewasa awal seorang individu akan mengalami perkembangan intimasi dalam dirinya dan dalam diri orang lain.
Masa remaja merupakan masa “storm and stress” hal ini diungkapkan oleh Hall (dalam liebert dan kawan-kawan,1974:478), hal ini disebabkan selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja berupaya menemukan jati dirinya (identitas)-kebutuhan aktualisasi diri. Usaha penemuan jati diri remaja dilakukan dengan berbagai cara pendekatan agar ia dapat mengaktualisasikan diri secara baik. Aktualisasi merupakan salah satu bentuk kebutuhan untuk mewujudkan jati dirinya. Klasifikasi bentuk kebutuhan remaja dibagi menjadi beberapa kelompok kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan organic, yaitu makan, minum, bernapas, seks, dll
2. Kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapat simpati dan pengakuan dari pihak lain, dikenal denga n’Aff
3. Kebutuhan berprestasi atau need of achievement (yang dikenal dengan n’Ach), yang berkembang karena didorong untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus menunjukkan kemampuan psikofisis
4. Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.
Kebutuhan-kebutuhan diatas sangat mempengaruhi tercetaknya remaja yang jadi dambaan bangsa, kebutuhan diatas merupakan fitrah bagi manusia usia sekolah menengah seperti mereka, jika kebutuhan-kebutuhan diatas tidak dapat mereka gapai maka ddampaknya akan fatal bagi mereka baik segi fisiologis ataupun psikologis mereka
3. Problematika Peserta Didik Usia Sekolah Menengah dan solusinya
Permasalahan yang dialami manusia tidak akan pernah putus sampai ajal menjemput, permasalahan manusia akan semakin memuncak ketika mereka menginjak usia transisi dimana keingin tahuan yang sangat tinggi dengan semangat yang menggebu-gebu akan sia-sia tanpa bimbingan yang terarah, perkiraan usia transisi manusia yaitu ketika mereka berada di jenjang sekolah tingkat menengah, ketika mereka menginjak remaja dan dewasa awal, mereka lebih tenar dengan istilah ABG (anak baru gede).
Dalam buku karangan Prof.Dr.H.Sunarto dan Dra.Ny.B.Agung Hartono dalam bukunya perkembangan peserta didik, menerangkan beberapa permasalahan remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutukannya sebagai berikut:
1. Upaya untuk dapat mengubah sikap dan prilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan prilaku dewasa, tidak semuanya dapat dicapai dengan mudah oleh mereka. Pada masa ini remaja menghadapi tugas-tugas besar , sedang dipihak lain harapan ditumpukan pada meraka untuk dapat meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Kegagalan mengatasi ketidak puasan ini dapat mengakibatkan menurunnya harga diri, dan akibat lebih lanjut dapat mengakibatkan remaja bersikap keras dan agresif atau sebaliknya bersikap tidak percaya diri, pendiam, atau kurang harga diri.
2. Sering kali remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan fisiknya. Hal ini disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi, walau hal ini tidak terjadi pada semua remaja.
3. perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering salah tingkah dan perilaku yang menentang norma (bagi remaja laki-laki) serta berperilaku mengurung diri (bagi remaja perempuan).
4. dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kmandirian dalam artian menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan menghadapi berbagai macam permasalahan, terutama masalah penyesuaian emosional. Kehidupan bermasyarakat menuntut mereka untuk banyak menyesuaikan diri, namun yang terjadi semuanya tidak selaras dengan kenyataan. Dalam hal ini terjadi ketidak selarasan antara pola hidup masyarakat dan perilaku yang menurut remaja baik, remaja merasa selalu disalahkan dan akibatnya meraka frustasi dengan tingkah lakunya sendiri.
5. harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara sosial ekonomis akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan berbagai jenis pekerjaan dan jenis pendidikan. Penyesuaian sosial merupakan salah satu yang sangat sulit dihadapi oleh remaja.
6. berbagai norma dan nilai yang berlaku di dalam hidup bermasyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja, sedang dipihak remaja merasa memilki norma dan nilai kehidupan yang dirasa lebih sesuai dari pada nilai dan norma dikalangan masyarakat luas.
Sejak bertahun-tahun lamanya telah dilakukan banyak usaha untuk mengetahui penyebab siswa yang mengalami ketidak puasan di sekolah. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Jakson dan Getzel dengan penelitian ilmiahnya terhadap dua siswa yang merasa puas terhadap pengalaman sekolahnya dengan yang tidak merasa puas menyatakan siswa yang mengalami kegagalan dan putus sekolah karena rendahnya moral sebagai akibat kurang efektifnya sekolah yang menimbulkan ketidak puasan siswa. Perubahan-perubahan anak dalam aspek nilai-nilai dan identifikasi sejalan dengan pertumbuhannya yang tampak dalam bermacam-macam perilaku.
Dengan adanya semua masalah yang terjadi pada siswa pemenuhan kebutuhan fisik atau organik merupakan tugas pokok yang bisa menyebabkan kehidupannya tetap tegar (survival), hal ini sangat dipengaruhi oleh actor ekonomi terutama perekonomian keluarga. Dengan tidak terpenuhinya kebutuhan remaja ini maka akan mengakibatkan terpengaruhnya pembentukan pribadi dan perkembangan psikososial seorang individu.
Sekalipun kebutuhan seksual merupakan bagian dari kebutuhan fisik, namun hal ini menyangkut factor lain untuk diperhatikan dalam pemenuhannya.
Dan untuk mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakatdan mengenalkan berbagai norma sosial, amat penting dikembangkan kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan.
Permasalahan secara garis besar itu timbul atas dua factor yang sangat mempengaruhi proses perkembangan mereka, dua factor itu adalah:
1. Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri.
Permasalahan intern siswa ini mencakup semua permasalahan yang timbul dari diri siswa dari berbagai aspek yang pengaruhi diri siswa itu sendiri.
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurang mampuan psiko-fisik siswa dalam dirinya, yakni:
1. Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual / intelegensi siswa.
Dari pengalaman sehari-hari, kita memiliki kesan seakan-akan apa-apa yang kita alami dan kita pelajari tidak seluruhnya tersimpan dalam akal kita. Padahal menurut teori kognitif apapun yang kita alami dan yang kita pelajari, kalau memang sistem akal kita dalam hal mengolahnya dengan cara yanag memadai, semuanya akan tersimpan dalam subsistem akal permanen kita, akan tetapi kenyataan yang kita alami terasa bertolak belakang dengan teori itu, apkali yang telah kita pelajari dengan tekun justru sukar diingat kembali dan mudah terlupakan.
Lupa ialah: hilangnya kemampuan untuk menyebut kembali atau memperoduksi kembali apa-apa sebelumnya yang telah kita pelajari. Menurut Gulo (1982), dan Reber (1988), mendefisinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang telah dipelajar. Dengan demikian lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.
Ø Faktor-faktor penyebab lupa
Pertama, lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam system memori siswa. Seorang siswa akan mengalami gangguan proaktif apabila mteri pelajaran lama yang telah disimpan dalam suibsistem akal prmanennya mengganggu masuknya materi pelajaran baru, peristiwa ini bisa terjadi apabila siswa tersebut mempelajari sebuah materi poelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang sudah dikuasai dalam jangka waktu yang pendek. Sebaliknya, seorang siswa akan mengalami gangguan reproaktif apabila materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali materi pelajaran yang telah lebih dahulu tersimpan.
Kedua, lupa dapat terjdi pada seorang siswa karena adanya tekanan terhadap item yang telah ad, baik sengaja maupun tidak, penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan Yaitu: karena item informasi yang diterima kurangf menyenangkan, karena item informasi yang baru secara otomatis menekan item informasi yang telah ada, jadi sama dengan fenomena retroaktif, karena item informasi yang diproduksi tertekan kealam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan.
Ketiga, lupa dapat terjadi pada siswa karena prubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dan wktu mengingat kembali (Andeson 1990)
Keempat, lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terahadap proses dan situasi belajar tertentu, jadi meskipun seorang siswa telah mengikuti proses belajar-mengajar dengan tekun dan sereius, tetapi Karena suatu hal minat dan si[kap siswa tersebut menjadi sebaliknya maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.
ü Kiat mengurangi lupa dalam belajar
Sebagai seorang calon guru dapatkah anda mencegah peristiwa lupa yang sering dialami oleh para siswa ?. Lupa itu manusiawi dan mungkin anda tidak mungkin bisa mencegahnya. Namun sekedar berusaha mengurangi proses terjadinya lupa yang sering dialami oleh para siswa dapat anda lakukan dengan berbagai kiat diantaranya sebagai berikut:
a. Overlewarning (belajar lebih)
Artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu, overlearning terjadi apabila respon atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respon tersebut dengan cara diluar kebiasaan, diantara contohnya ialah pembacaan teks pancasila pada setiap hari senin yang memungkinkan ingatan siswa pada P4 lebih kuat
b. Extra study time ( tambhan waktu belajar)
Ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau frekuensi aktifitas belajar atau juga bisa disebut penambahan jam waktu belajar. Misalnya dari satu jam menjadi satu setengah jam, dari satu kali sehari menjadi dua kali dalam sehari
c. Menemonic device (muslihat memori)
Ialah kiat khusus yang dijadikan alat pengait mental untuk memasukkan item-item informasi kedalam sistem akal siswa. Muslihat ini beragam caranya diantaranya ialah dengan bentuk not yang dijadikan sebagai nyanyian anak-anak TK, atau juga dengan singkatan huruf-huruf tau nama-nama istilah yang harus diingat oleh siswa.
2. Yang bersifat afektif (ranah Rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
Yang termasuk dalam ranah rasa adalah rasa jenuh, secara harfiah arti kejenuhan ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun, selain itu jenuh juga dapat berarti jemu atau bosan. Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber, 1988). Sorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dalam rentan waktu tertentu saja
Seorang siswa yang sedang dalam keadaan jenuh sistem akalnya tidak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam memproses item-item informasi dan pengalaman baru, sehingga kemajuan belajarnya seakan-akan diam ditempat. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang kehilangan motifasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai ketingkat keterampilan berikutnya.
Faktor penyebab dan cara mengatasi kejenuhan belajar
Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia telah kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum siswa tertentu sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972). Selain itu kejenuhan juga dapat terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaninya karena bosan dan keletihan. Namun, penyebab kejenuhan yang paling umum adalah keletihan yang melanda siswa, karena keletihan dapat menjadi penyebab munculnya perasaan bosan pada siswa yang bersangkutan.
Menurut Cross dalam bukunya the psychology of learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Keletihan indra siswa
2. Keletihan fisik siswa
3. Keletihan mental siswa
Keletihan fisik dan keletihan indra pada umumnya dapat dikurangi lebih mudah setelah siswa beristirahat cukup dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, sebaliknya keletiha mental tidak dapat diatasi dengan cara yang mudah, itulah sebabnya keletihan dipandang sebagai faktor utaam penyebab utama munculnya kejenuhan belajar
Sedikitnya ada empat faktor yang menyebabkan keletihan mental siswa. Antara lain:
1. Karena kecemasan siswa terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri
2. Karena kecemasan siswa terhadap standar keberhasilan bidang-bidang studi tertentu yang dianggap terlalu tinggi terutama ketika siswa merasa bosan.
3. Karena siswa berada pada situasi kompetitif yang ketat dan menuntut untuk lebih kerja keras
4. Karena siswa mempercayai konsep kerja akademik yang optimum, sedangkan dia sendiri menilai belajarnya sendiri hanya berdasarakan ketentuan yang ia bikin sendiri
Selanjutnya, kiat-kiat untuk mengatasi keletihan mental yang menyebabkan kejenuhan belajar antara lain:
1. Melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi
2. Mengubah jadwal belajar yang memungkinkan siswa belajar lebih giat
3. Mengubah atau menata kembali lingkungan belajar siswa yang memungkinkan siswa dapat belajar lebih menyenangkan
4. Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk lebih giat dalam belajar
5. Siswa harus berbuat nyata atau tidak pantang menyerah dengan cara belajar dan belajar lagi
3. Yang bersifat psikomotor (ranah rasa), antara lain seperti terganggunya alat-alat penglihatan dan pendengar (mata dan telinga).
· Pemecahan masalah kesulitan belajar
1. Diogonis kesulitan belajar
Dalam melakukan diagonis diperlukan adanya prosedur yang terdiri dari langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami oleh siswa. Menurut prosedur Weener dan Senf adalah suatu contoh langkah diaknotis yang sangat baik antara lain:
· Melakukan observasi kelas unutk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran
· Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa yang diduga sebagai faktor dalam mengalami kesulitan belajar
· Mewawancarai wali murit untuk mengetahui hal-hal berkenaan dengan kesulitan belajar siswa
· Memberikan tes diaknotis bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakekat kesulitan belajar yang dialami oleh siswa
· Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ)
2. Analisis hasil diagnosis
Data dan informasi yang diperoleh oleh guru melalui diagnosis kesulitan belajar perlu dianalisis sedemikian rupa sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami sisiwa yang berprestasi rendah dapat diketahui secara pasti.
3. Menentukan kecakapan bidang bermasalah
Berdasarkan hasil analisis guru dapat menentukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam yaitu bidang kecakapan bermasalah yang ditangani oleh guru, bidang kecakapan yang ditangani oleh guru dan orang tua dan bidang kecakapan yang tidak dapat ditangani oleh guru maupun orang tua.
4. Menyusun program perbaikan
Dalam hal menyususn program pengajaran perbaikan (Remedial Teaching) guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Metode pengajaran Remedial
b. Alokasi waktu pengajaran Remedial
c. Evaluasi kemajuan siswa setelah Tujuan pengajaran Remedial
d. Materi pengajaran Remedial
e. mengikuti program pengajaran Remedial
5. Melaksanakan program perbaikan
Pada prinsipnya program pengajaran perbaikan (Remedial) lebih cepat dilaksanakan tentu akan lebih baik, tempat pelaksanaannya bisa dimana saja asalkan dapat memungkinkan siswa mengkonsentrasikan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut. Guru juga dianjurkan untuk mempertimbangkan penggunaan model-model mengajar tertentu yang dianggap sesuai sebagai alternatif lain untuk memcahkan masalah kesulitan belajar siswa.
Dalam buku Psikologi belajar dan mengajar karangan Dr, Oemar hamalik dijelaskan tentang anjuran yang berasal dari studi tentang remaja sebagai gejala cultural dan biologis, sebagian lagi berasal dari praktek-praktek konvensional maupun inovatif ci sekolah menengah yaitu:
1. belajar para remaja akan dipermudah apabila ada keseimbangan antara pembatasan dan kebebasan.
2. belajar disekolah akan dipermudah apabila para remaja diperlukan sebagai pribadi dan bukan sebagai benda
3. belajar akan dipermudah apabila para remaja tahu bahwa suaranya didengar dan sungguh-sungguh diperhitungkan
4. belajar akan dipermudah apabila seseorang tahu bahwa ia diterima, dikenal, atau diakui oleh kelompoknya, dan kehadirannya menimbulkan perbedaan tertentu
5. belajar akan dipermudah serta perkembangan kepribadian yang seimbang akan meningkat apabila personel sekolah mengenal berbagai inteligensi dan berbagai gaya belajar.
6. belajar akan dipermudah apabila kapasitas para pemuda untuk mempercayai dirinya diterima dan mereka diberima dan mereka diberi semangat
7. mempelajarikonsep-konsep yang terpilih dan konsep diri yang sehat akan dipermudah bila para remaja memahami dirinya sendiri dan “ kebudayaan remaja”
8. belajar akan dipermudah apabila angka-angka dihilangkan.
9. lingkungan belajar mengajar akan menjadi baik bila para guru mengetahui dan menerima beban serta tantangan terhadap dirinya sebagai pusat perhatian remaja dan sebagi model.
2. Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa. Hal ini meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa, faktor ini dapat dibagi tiga macam
1. Lingkungan keluarga, kemerosotan dalam hubungan keluarga, baik itu berupa kurang perhatiannya orangtua atau konflik yang terjadi dalam lingkungan keluarga sangat mengganggu proses pembelajaran seorang siswa yang masih mencari jati diri yang sesuai dengan karakternya, ketidak harmonisan hubungan antara ayah dengan ibu sangatlah menghambat kesakssan pendidikannya, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga juga sangat mempengaruhi terbentuknya penerus bangsa yang berpendidikan tinggi.
2. Lingkungan perkampungan/masyarakat, masyarakat adalah bagian keluarga besar bagi para remaja yang tidak ingin mengetahui keadaan anaknya dan menuntunnya kejalan yang benar jika mereka tersesat, justru seorang anak harus mengetahui dan menjaga keadaannya sendiri dengan berbagai macam karakter anggaota keluarga yang berbeda-beda. wilayah perkampungan kumuh (slum area) sangat mempengaruhi perkembangan moral peserta didik, dan teman sepermainan (peer grup) yang nakal lebih cepat mempengaruhi masa remaja, karena tidak bisa dipungkiri perbuatan baik lebih sulit untuk dilaksanakan, sedangkan perbuatan jelek lebih cepat penyebarannya dan lebih mudah untuk dilakukan.
3. Lingkungan sekolah, kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar sangat mmgganmggu sekali pada proses pendidikan yang dilaksanakan oleh pserta didik usia sekolah menengah, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah juga mengganggu terlaksananya pendidikan seorang siswa.
Selain faktor yang bersifat umum diatas ada faktor-faktor lain yang menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor khusus yang dapat dipandang adalah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidak mampuan belajar). Sindrom (syindrom) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1998) yang menimbulkan kesulitan belajar.
Akan tetapi siswa yang mengalami sindrom-sindrom diatas secara umum sebenarnya memeilki potensi IQ yang normal, bahkan diantaranyaa ada yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Oleh karenanya kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal Brain Disfunction, yaitu gangguan ringan pada otak (Lask, 1985: Reber, 1988)
Problematika atau masalah yang bersifat ekstern itu timbul dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Pada usia sekolah menengah peserta didik menginginkan sesuatu kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Mereka ingin selalu diakui sebagai pribadi, ia ingin bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, pada usia ini orang tua tidak terlalu mengekang terhadap kebebasan atau bahkan meniadakan kebebasannya. Jadi, dalam hal ini orang tua harus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusannya sendiri mengenai hal-hal yang akan dilakukannya.
Pada usia sekolah menengah peserta didik sudah mulai memikirkan tentang hal-hal yang benar dan yang salah serta tentang norma-norma untuk membimbing tingkah lakunya. Ia mulai memperhatikan konsep-konsep mengenai hal-hal yang benar dan yang salah, ia tidak mau begitu saja menerima pendapat-pendapat dari orang lain. Selain itu, masalah yang lebih penting lagi adalah apa yang disebut dengan kesenjangan generasi antara peserta didik dengan orang tua, kesenjangan ini sebagian disebabkan karena adanya perubahan radikal dalam nilai dan standar prilaku yang biasanya terjadi dalam setiap perubahan budaya yang pesat, sebagian juga disebabkan karena dalam masa remaja lebih banyak memiliki kesempatan untuk pendidikan sosial budaya yang lebih besar.
Hubungan orang tua dengan anak akan membaik ketika orang tua mulai menyadari bahwa anak-anak mereka bukan anak kecil lagi. Mereka memberi banyak keistimewaan dan sekaligus bertanggung jawab serta prestasi belajar yang lebih baik. Untuk mengembangkan kepribadian anak secara sempurna maka ada beberapa hal yang harus diterapkan oleh orang tua pada usia sekolah menengah antara lain:
a. Bersiakap tidak membedakan
Salah satu cara yang salah yang sering dilakukan oleh orang tua yang membuat anak menjadi jahat adalah sikap membedakan. Sebagian orang tua kadang lebih condong pada anak laki-lakinya dan juga sebaliknya lebih condong pada anak perempuan. Sikap membedakan yang demikian ini akan meninggalkan pengaruh negatif pada kejiwaan anak, pengaruk negatif ini akan terus berkembang seiring dengan perkembangan kedewasaannya yang kemudian akan mengantar anak pada kehancuran bahkan tidak jarang sikap negatif ini menular pada anak cucu mereka.
b. Perhatian dan pengarahan yang baik
Salah satu sarana untuk menghindarkan anak dari sikap jahat adalah dengan pendekatan psikologis, orang tua harus bersikap lebih mengerti pada kondisi anak. Ketika hendak membenarkan sesuatu yang salah pada anak orang tua tidak boleh menggunakan kekerasan dan meluapkan emosi. Orang tua harus berbicara dengan lemah lembut yang disertai dengan nasenat-nasehat. Sesuai dengan firman Allah dalam surat At-Thoha ayat 44 yang artinya “maka berbicaralah kamu keduanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah dia ingat atau takut”
c. Menanamkan taqwa dalam jiwa anak
Seluruh dosa sebenarnya adalah sifat-sifat yang hina, untuk menyelamatkan diri dari hal tersebut jalan keluarnya adalah menanamkan ketaqwaan pada jiwa anak. Apabila tangkai-tangkai pohon kejahatan itu layu dan daun-daunnya rontok berjatuhan, maka akar-akarnya akan tumbang dan mati, artinya dalam kehidupan sosial sifat-sifat jelek yang ada pada diri manusia seperti kikir, takabur, suudzon dan lain-lain. Jika seseorang dapat menahan dari segala sifat-sifat buruk tersebut maka dia akan terlepas dari dosa-dosa, begitu juga pada anak, pendidikan seperti ini perlu ditanamkan oleh orang tua demi kebaikan jiwa pada diri anak.


C. KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas jelas sekali kondisi peserta didik sangat labil, yang memerlukan bimbingan orang yang lebih dewasa dan petunjuk mereka atas masalah-masalah yang belum bisa mereka pecahkan, perubahan kondisi peserta didik pada usia sekolah menengah ini banyak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat cultural.
Problematika remaja secara garis besar terdapat dua faktor yaitu faktor intern (dari dalam diri remaja itu sendiri) dan faktor ekstern (dari luar diri). Yang sangat menonjol dari problematika remaja adalah yang berhubungan kultural dan psikososial.
Solusi yang sangar tepat bagi remaja atas apa yang menimpa mereka adalah usaha mereka sendiri untuk bisa menerapkan kiat-kiat supaya mereka tidak terlena dengan masalah-masalah yang menimpa mereka, dan melaksanakan anjuran-anjuran yang telah dijelaskan diatas. Perhatian orang lain juga sangat membantu mereka untuk memecahkan masalah yang menimpa.


D. DAFTAR RUJUKAN
Ernest, R.H. Pengantar Psikologi, Erlangga, Jakarta: 1983.

Gunarsa, S. Psikologi Anak Bermasalah, Gunung Mulia, Jakarta:1987.

Hurlock, Elisabet B. Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta: 1980.

Mazhariri. Pintar Mendidik Anak, Centera, Jakarta: 2000

Rifa’I, S. Psikologi Perkembangan Remaja, Bina Aksara, Bandung: 1984

Susilowindradini. Psikologi Perkembangan, Usaha Nasional, Surabaya: 1980.
Samsunuwiyati Mar’at, Psikologi perkembangan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung:2006

Sunarto.H, Agung Hartono.B, Perkembangan Peserta Didik, PT Rineka Cipta, Jakarta:1999

Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, CV Sinar Baru, Bandung:1990

Baharuddin.H, Psikologi Pendidikan, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta: 2007